SEJARAH PERJUANGAN KOLAKA

PERJUANGAN RAKYAT KOLAKA MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN

pemboman bandara kendari

Bandara di Kendari di Bom tentara Sekutu 19 Juni 1945

diawali dari tokoh tokoh masyarakat dan pemuda di Kolaka pada bulan Juni 1945 membentuk Gerakan Kebangunan Rakyat (GKR) yang merupakan badan persiapan unntuk menyambut kemerdekaan yang dijanjikan. Namun janji ini tidak dapat.diwujudkan karena Jepang telah menyerah 2 bulan kemudian yaitu tanggal 14-8-1945.

Namun demikian dilihat dari bentuk organisasi. GKR merupakan suatu organisasi massa yang sifatnya menghimpun rakyat dan aspirasi masyarakat.

bomb atom

bomb atom di Hirosima dan Nagasaki agustus 1945

Pada tanggal 17 agustus 1945. Di Jakarta Kemerdekaan RI di proklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama Bangsa Indonesia. Berita Proklamasi tersebut sampai diterima oleh Radio Jepang di Pomalaa

proklamasi

Pada tanggal 18 agustus 1945, sesudah berjamaah sholat  subuh di masjid besar kolaka, para pemuda di baiat dengan surah yasin sebelum berangkat kemedan pertempuran. K.H Mahding membagikan jimat keselamatan dan di azankan kemudian berangkat kemedan pertempuran, Pukul 10.00 Kapten Kabasima dari pomalaa memberitakan bahwa tentara belanda/sekutu tidak datang tanggal 18, tetapi nanti pada tanggal 19 agustus 1945.

masjid besar kolaka

masjid besar Kolaka

Tanggal 19 agustus 1945, Kapten Kabasima di dampingi perwira-perwira tokke Tai dari Pomalaa ke Kolaka, untuk mengadakan pertemuan bertempat di markas Tokke Tai Kolaka, pertemuan berlangsung pada pukul 15.00 s/d 17.00 difasilitasi anggota pembantu Tokke Tai. Pertemuan dipimpin Kapten Kabasima di bantu juru bahasa Letnan Subue, Kapten Kabasima dengan muka merah jambu air mata berlinang tunduk termenung tanpa kata-kata. Semua peserta pertemuan turut termenung bersedih mencucurkan air mata ,tiba-tiba kapten kabasima bersamaan angkat muka menghentakkan pedang samurainya dan berkata lantang:

  1. Amerika Jotuh Nai Senso (tidak bagus berperang) kota Nagasaki Kota, Kota Hirosima dijatuhi Bom Atom, orang kampung banyak mati
  2. Tenno Haika Bake Ero (Bodoh sekali) menyerah Nippon Hetai ( Tentara Jepang) mau perang sampai mati.
  3. Indinesia Ada Dokoretszu (Indonesia merdeka) dari Soekarno dan Hatta di Pulau Jawa.
  4. Mau merdeka berani mati.
  5. Berperang belum tentu mati.
  6. Pembantu Tokke tai mati perang bagus, mati digantung tidak bagus.
  7. Saya Komandan Tokke Tai Tanggung Peperangan di Kolaka
  8. Untuk apa pulang ke Tokyo, semua keluarga mati kena bom Atom di kota Hirosima.
  9. Saya akan tinggal sama-sama di indonesia, mati di Indonesia .
  10. Nippon Indonesia Banzai, Pertemuan ditutup dengan ucapan Arigato Gozaimasu dan Sayonara, oleh Kapten Kabasima.

Tanggal 21 Agustus 1945 barisan pemuda PETA tampil di muka umum, menggunakan lambang merah putih dan senjata tajam dari sekian banyak senjata tajam terdapat 1 pedang samurai dari Kapten Ito Pimpinan PT. Kasima Gumi. Endong san pemimpin PT. Soemitomo memberi 1 pucuk pistol buatan jerman kepada Andi Jaya Langkara, selanjutnya melalui anggota PETA bernama Usman Rencong, pistol diberikan Andi Punna pimpinan pemuda PETA ini merupakan senjata api pertama yan di miliki PETA di Kolaka.

Pada tanggal 25 agustus 1945. 3 orang pemuda bekas anggota Kempe Tai (Polisi Militer Angkatan Darat Jepang) bergabung dengan pemuda PETA Kolaka. Ketiga pemuda suku ambon Islam (M.Salampessy, Bangsa Towokia dan Usman Effendi) ke tiganya mahir berbahasa jepang dan pernah mengikuti latihan Militer Riku Gun (Angkata Darat) tentara jepang penggabungan ketiga pemuda bekas Kempe tai, memudahkan hubungan dengan kapten Kabasima,dkk dan M.Yosep ( Bekas KNIL) di Pomalaa.

Pada tanggal 27 agustus 1945 satu rombongan tokoh masyarakat dan pemuda datang dari Palopo ke Kolaka bergabung dengan pejuang bersenjata Kolaka. Pemuka masyarakat yang di maksud adalah Opu Topatampanangi dan H. Minahajje, sedangkan 3 orang pemuda masing-masing M.Yunus,M.Jufri dan H.abd.Wahid. bergabungnya 5 tokoh terkemuka itu, menambah pemikiran dan tenaga terkemuka untuk perjuangan bersenjata angkatan 45 Kolaka.

Pada tanggal 29 agustus 1945, pemuda PETA (Pencinta Tanah Air) mengubah diri menjadi PETA (Pembela Tanah Air) sesuai perjuangan tentar PETA di pulau Jawa ,pemuda PETA bersumpah membela Proklamasi 17 Agustus 1945 di kampung Sakkuli di rumah Andi Kamaruddin. Sumpah di ikuti 2 peleton pemuda PETA . Sumpah ini disebut sumpah 19 atau sumpah darah. Masing-masing pemuda maju bersumpah menurut selerah masing-masing. Kata-kata sumpah antara lain

“Sekali merdeka tetap merdeka”

“Merdeka atau mati”

“Merah Putih ta diturunkan sebelum langkahi mayatku”

“Segalanya kukorbankan untuk kemerdekaan Bangsaku”

“Maju Mati,Mundur Mati lebih Baik Mati Maju”

“Tak ada kemerdekaan tanpa pengorbanan”

“Saya Gugur untuk kemerdekaan bangsaku”

Sebelum bersumpah dibacakan surah Al Fatiha.

3

Monumen Sakuli Kolaka

          Pada tanggal 30 Agustus 1945, barisan PETA mengutus Salampesy menemui Kapten Kabasima di Pomalaa, untuk mendapatkan senjata api Lop panjang. Kapten Kabasima bersedia membantu senjata api sesudah mendengar pendapat Tokoh Islam Kolaka (K.H.Mahding) nama tentara PETA diganti, karena nama PETA banyak tentara Jepang di pomalaa tidak senang mendengar sebab PETA di pulau jawa berkelahi dengan tentara jepang ,

          Pada tanggal 31 Agustus 1945 atas permintaan Kapten Kabasima pemuda PETA (Pembela Tanah Air) membentuk mantel perjuangan PETA bernama Barisan API (Angkatan Pemuda Indonesia) susunan pengurus : (1) Barisan Api Dipimpin M.Yunus, (2) Barisan penyidik : Andi Punna ,dan (3) Barisan Penerjang:H.Abdul Wahud. BPR (Badan pertimbangan Revolusi) terdiri atas: (1) Opu Topatanpanangi, (2) K.H.Mahding (3) M.Yunus Rate-rate.     API bergerak untuk mendapatkan senjata api memperbanayak kawan mengawasi lawan proklamasi  17 agustus 1945, API berusaha menjadikan Kolaka pusat perjuangan dan perlawanan rakyat secara frontal melawan tentara NICA (Nertherland Indies Civil Administration) yang hendak mengembalikan penjajahan pemerintah Hindia Belanda.

          Pada tanggal 2 september 1945, kapten kabasima bertemu K.H Mahading di Kolaka. Kapten Kabasima menanyakan pendirian K.H Mahading tentang perang melawan tentara Belanda/Sekutu, membela kemerdekaan bangsa indonesia K.H.Mahading menjawab, Membela kemerdekaan bangsanya  wajib hukumnya bagi ummat islam. Mati jihad mati Syahid surga balasannya.

          Pada tanggal 5 September 1945 Andi Punna selaku kepala penyelidik barisan Api, mengutus Salampessy untuk melaporkan bahwa nama barisan PETA deganti menjadi Barisan Api (Angkata Pemuda Indonesia) Kapten Kabasima menerima baik perubahan nama PETA menjadi API. Kapten kabasima menyampaikan telah bertemu tokoh islam K.H.Mahading dan memberi senjata api sebanyak 51 Pucuk 1 rusak pelatuknya (Tidak dapat dipakai). Pemberian senjata api dari Kapten Kabasima secara rahasia melalui seorang Goco (sersan) dibuang (ditenggelamkan) kedasar laut, pemuda suku bajo berusaha mengambil dengan menyelam yang diawasi pemuda API. Senjata api dari kapten Kabasima, Terdiri Karabeyn bekas tentara KNIL 9,5 dan karaneyn tentara jepang Sampatzu.senapan-arisaka

          Pada tanggal 7 september 1945, pemuda PETA dan Api mempermahir mennggunakan senjata Api, yang memberi latihan kemiliteran 3 anggota bekas HEIHO (Lappase, Nasir dan Abu Bone). 2 orang pemuda yaitu Pakalu dan Tiro pembantu Tokke tai yang sementara tugas di tanjung Oko-Oko (Batu Kilat) membawa 2 buah senjata Karabeyn 9,5. Andi Becce (M.Arsyad) juru tulis II indumo Daeng Makkalu kepala Destrik Kolaka bergabung pemuda API memegang 1 pucuk senjata api Karabeyn 9,5 milik Indumo Daeng Makkalu.

latihan tembak

Pemuda dan pejuang berlatih menembak di salah satu daerah

          Pada tanggal 13 september 1945, mata-mata tentara NICA melancarkan isu-isu pemecah belah dalam perjuangan membela Proklamasi 17 agustus 1945 hanya untuk di pulau jawa (tidak Masuk diluarpulau jawa) yang menyebabkan isu-isu bekas pegawai pemerintahan Hindi Belanda. Barisan PETA/API  bergerak pada malam jumat pukul 01.00 menyandera/menahan orang-orang yang dicurigai anti repoblik indonesia Proklamasi 17 agustus 1945 ,

          Pada tanggal 14 september  1945. Barisan PETA/API membentuk barisa PI ( Polisi Istimewa) dipimpin abdul kadir dibantu usman efendi (Keduanya bekas anggota kemp tai atau polisi militer angkata darat jepang).

Barisan I                                 : Supu Pai dibantu Junaed

Barisan II                               : Ali Arifin dibantu Dadu arifuddin

Barisan III                             : Raccade dibantu abu wahid

Barisan penyidik                  : Abu Baeda dibantu Syamsuddin Opa.

          PI  bertugas memeriksa orang yang dicurigai menjadi kaki tangan tentara NICA dan mengawasi tahanan di penjara dan orang-oarang yang dikenai tahanan kota. Pukul 10.00 pada hari jumat diadakan sumpah massal pada ummat islam agar tidak berkhianat dalam perjuangan membela Proklamasi 17 agustus 1945. sumpah massal di bacakan surah yasin oleh H. Abdurrahman, imam Kolaka dan upacara pengibaran bendera oleh pemudah barisan PETA/API.

          Pada tanggal 15 september 1945, Opu Topatampanangi anggota badan pertimbangan revolusi Kolaka dari palopo setelah bertemu datu Luwu Opu Topatampanangi menyampaikan pesan Datu Luwu kepada Andi Kasim bahwa Datu merah putih dan di kota palopo terbentuk organisasi perjuangan “soekarno Muda” selanjutnya andi kasim menyampaikan kepada Opu Topatanpanangi bahwa di Kolaka telah terbentuk barisan PETA ( Pembela Tanah Air), API (Angkatan Pemuda Indonesia) dan PI (Polisi Istimewa) untuk membela proklamasi 17 Agustus 1945, Andi Kasim menjawab kalau merah putih Datu saya juga merah putih. Andi Kasim memanggil Indumo Daeng Makkalu kepala Distrik Kolaka untuk mempersiapkan upacara pengibaran bendera merah Putih pada tanggal 17 september 1945.

gedung controlleur kolaka

gedung controlleur kolaka

16 September 1945 Pernjataan Rakjat,

Dalam suatu pertemuan antara Pemerintah Kolaka Swapradja Kolaka, Kepala2 Distrik, Kepala2 Djawatan, Kepala2 Kampung, para terkemuka, organisasi pemuda baik jang bergerak di bawah tanah atau tidak. dipimpin oleh saudara Andi Kasim, telah memberikan pendjelasan mengenai situasi tanah air Indonesia dewasa itu dengan diproklamasikannja Indonesia Merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno-Hatta atas Nama bangsa Indonesia di Djakarta

Setelah mendengar pendapat2 pertemuan, maka diambil keputusan dengan suara aklamasi ialah menjatakan bahwa Daerah Kolaka seluruhnja mendjadi Daerah Republik Indonesia dan hanja mengakui satu pemerintah,jaitu Pemerintah Republik Indonesia dan saudara Andi Kasim adalah Kepala Pemerintah Negri jang satoe Repoeblik Indonesia di Kolaka

Sebagai Kepala Pemerintah yang pertama RI di daerah Kolaka, Andi Kasim dibantu oleh anggota Swapraja Kolaka yaitu : Sulewatang Indumo Bokeo Puwatu ( setelah Rate2 jatuh ketangan Belanda menyeberang ke NICA diberi pangkat Kapten Tituler NICA) Kapita Guro Sapati Baso Umar Daeng Marakka
tugu

monumen perjuangan 1945 di halaman Gedung Countrouller Kolaka Lokasi pengibaran Bendera Merah Putih pertama kali di Kolaka

          Pada Tanggal 17 september 1945 pukul 08.00 diadakan upacara pengibaran bendera merah putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Bendera jepang tetap berkibar di pomalaa Andi Kasim mengumumkan Kolaka dan sekitarnya adalah daerah RI Proklamasi 17 agustus 1945 . Andi Kasim wakil Datu Luwu merangkap Petor (Kepala pemerintah RI daerah Kolaka dan sekitarnya) dibentuk Supu Aip (Asisten Instruktur Polisi) M.Yusup putra bangsawan tolaki konawe Wakil Andi Kasim, yang menganjurkan agar seluruh rakyat Kolaka dan sekitarnya mendukung perjuangan pemuda bersenjata pembela proklamasi 17 agustus 1945. Kolaka dan sekitarnya menjadi daerah perlawanan secara frontal melawan tentara NICA pukul 14.00 seorang dokter kesehatan tentara jepang dari pomalaa  ke Kolaka membawa berita ucapan selamat dari Kapten Kabasima kepada Andi Kasim dan membawa 2 pucuk  senjata pistol untuk Andi Kasim dan H.Abdul Wahid kepala penerjang pemuda pejuang bersenjata Kolaka.

Merah Putih

Bendera Merah Putih berkibar pertama kali di Kolaka 17 September 1945

          Pada tanggal 18 september 1945 Kapten Kabasaki memberi bantuan pemerintah RI dan barisan pejuang bersenjata berupa 1 Kapal motor Boat untuk angkutan laut, 6 Mobil Truk Toyota untuk angkutan darat, dan beberapa perlengkapan kemiliteran.

          Pada bulan Oktober 1945 Ali Silondae bersama denga seorang pengawalnya dari Distrik Andolo tiba di Kolaka melalui hutan belukar naik gunung turun gunung  menelusuri jalan setapak setibanya di Kolaka langsung menemui Andi Kasim kepala pemerintahan RI dan Andi Punna pimpinan PETA/kepala penyelidik API. Ali Silondae memberitakan bahwa Nuhung Silondae selaku kepal Distrik Andolo telah mengibarkan bendera merah putih dan menyatakan pemerintah dan rakyat  Distrik Andolo melepaskan diri dari pemerintahan Kendari yang belum menyambut kemerdekaan proklamasi 17 agustus 1945. Pemerintan dan rakyat distrik andolo bergabung pemerintah RI Kolaka berjuang membela Proklamasi 17 agustus 1945. Ali Silondae selaku pimpinan pemuda pejuang bersenjata meminta seorang pelatih untuk pemuda yang ada di Distrik Andolo Pimpinan pemuda Kolaka mengirim sersan Saiman (Bekas KNIL) tawanan tentara jepang bergabung  barisan API Kolaka) melatih pemuda Distrik andolo.

Pada 5 Oktober 1945  Bendera Merah Putih di kibarkan oleh para Pemuda di Lasusua yang dimotori oleh Barisan Kipas Hitam sebuah organisasi Pemuda Militan Lasusua

Bendera Merah Putih lasusua

Pemuda Lasusua mengibarkan Bendera Merah Putih pertama kali tanggal 5 Oktober 1945

Perjuangan Menentang Sekutu

          Tentara Australia mendarat di Kendari pada awal bulan Nopember 1945 dari Makassar yang didudukinya sejak September 1945. Pada saat itu pemuda Sulawesi Tenggara dengan dasar berita melalui berita radio telah mengetahui bahwa di belakang misi Sekutu yang menang perang ikut suatu kekuatan yang ingin mengembalikan kekuatan penjajah Belanda di Indonesia. Hal ini bertentangan dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.      

          Setelah Jepang menyerah tanpan syarat pada sekutu, maka kekuasaan diambil ali oleh NICA yang membonceng pada sekutu. Pada keadaan yang demikian disaat masyarakat Kolaka belum sempat untuk memperbaiki keadaan ekonomi, semakin terperangah oleh masuknya NICA yang juga ingin menguasai ekonomi serta menindas rakyat.

          Pada masa pendudukan NICA di Kolaka, pedagang dapat dikatakan lumpuh sama sekali, bahkan kebutuhan hidup rakyat semuanya didatangkan dari luar daerah, dan sepenuhnya untuk kebutuhan tentara NICA, pertanian sangat sedikit didapati di daerah Kolaka akibat ketakutan masyarakat  terhadap NICA dan tenaga kaum lelaki diperlukan sepenuhnya untuk melakukan perlawanan secara bergerilya  dihutan-hutan. Kekuatan ekonomi dari tambang Nikel juga diambil alih oleh NICA setelah selama penjajahan Jepang juga dikuasai oleh Jepang.

          Kemerosotan ekonomi juga diiringi dengan kemerosotan moral dikalangan belanda, mereka dengan sewenang-wenang menyiksa rakyat terutama kaum pria yang dianggap sebagai pejuang. Maka ditangkap dan disiksa secara keji untuk meminta keterangan tentang perjuangan yang dilakukan masyarakat Kolaka.

          Rakyat Kolaka yang telah mengumumkan wilayahnya sebagai wilayah RI dengan sendirinya bersikap waspada terhadap kedatangan tentara Australia di Kendari. Demikian pula pemuda pemuda Republikein di Kendari Muna dan Buton. Dengan kedatangan tentara Australia yang didalamnya ikut serta pula satu pleton tentara Belanda (KNIL) yang dipimpin oleh Kapten Wolhof memperjelas tugas pemuda Republikien Sulawesi Tenggara untuk mempertahankan kemerdekaannya, Supu Yusuf adalah seorang Pamong Praja dan merupakan tokoh pemuda pejuang Kolaka dari Kendari ikut hadir pada saat tentara Australia mengadakan upacara bendera di Kota Lama Kendari.

          Pada hari pertama kedatangan Australia di Kendari pemerintah NICA dengan segera merehabitir bekas–bekas KNIL di kamp Tahanan Wawotobi dan segera dipanggil untuk dipersenjatai. Saat itu sebagian dari bekas tentara KNIL dipekerjakan oleh Jepang di tambang Nikel Pomalaa. Dalam usaha untuk mengumpulkan bekas KNIL ini maka sepasukan tentara NICA sebagai tentara-tentara KNIL di daerah itu.

Setelah 10 Nopember 1945 Kapten Kabasima memberitakan kepada Andi Kasim dan Andi Punna, Adanya pertempuran pejuang bersenjata Kota Surabaya melawan tentara Sekutu dibantu tentara Inggris dengan Komando Allahu Akbar dari Bung Tomo.10 november

Pada tanggal 16 Nopember 1945, PRI memperoleh informasi dari Kabasima Taico unsur pimpinan tentara jepang yang ada di pomala tentang rencana kedatangan  tentara NICA ke kolaka pada tanggal 19 Nopember 1945. PRI Kolaka segera mengadakan rapat pimpinan dan memutuskan untuk mencegah kedatangan NICA memasuki wilayah Kolaka sebagai wilayah RI tanpa seizin kepala pemerintah setempat.tapi ini sudah tidak dapat dihindari sehingga pemuda Kolaka dibawah pimpinan kepala pemerintahan (petor) Kolaka Andi Kasim mengadakan persiapan, Baik dalam Kota Kolaka maupun dijalur jalan ke pomalaa.hasil rapat menyepakati  antara lain: Pemerintah Kolaka menemui tentara NICA dengan menawarkan perundingan/Diplomasi Yaitu:

  1. Dipastikan tentara NICA /Australia mendapat mandat dari sekutu
  2. Jika tidak memperoleh mandat maka mereka harus kembali keKendari
  3. Jika tentara NICA/Australia tetap memaksakan diri melanjutkan perjalanan ke Pomalaa dapat diizinkan tetapi harus menyerahkan semua senjata untuk dititip dan diambil jika kembali dari Pomalaa menuju Kendari (Mendong.2007:4)

Pada tanggal 17 Nopember 1945, diadakan upacara pengibaran bendera Merah Putih dan pawai akbar barisan PETA/API/PI diikiti murid-murid sekolah dan pandu Nasional mengelilingi Kolaka. Pukul 10.00 Kapten Kabasima memberitakan bahwa tentara Belanda/ sekutu akan datang dari Kota Kendari menuju Pomalaa. untuk mengajak bekas tentara KNIL yang bebas dari tawanan jepang dan memeriksa peninggalan tentara Jepang di Pomalaa.

Tanggal 18 Nopember 1945, para pemuda pejuang yang didukung oleh segenap lapisan masyarakat, mengadakan persiapan dengan melengkapi diri untuk menghadapi tentara NICA senjat-senjata tua dan kalewang dikumpulkan, Andi Kasim mengutus Andi Jaya Langkara, Andi Punna mengutus Salampessy  (kedua Utusan) sudah lama menjadi penghubung dengan bekas KNIL yang bermarkas di Kampung Hoko-Hoko di bawah Naungan Bendera Merah Putih. Sejak tanggal 18 November 1945 Barisan PETA, API, dan PI mengawasi sekitar Km-8 kampung baru Sabilambo, dijaga siang dan malam untuk pengamanan medan persiapan pertempuran bila tentara Belanda /sekutu memasuki tempat tersebut .sabilambo

Pukul 07.00 Andi Kasim Tuan Petor kepala pemerintah RI Kolaka didampingi M.Yunus Ketua API menunggu kedatangan tentara belanda /sekutu dari jurusan Kendarin di tempat itu dipasang penghambat jalan Mobil menuju ke Pomalaa. Susunan Formasi pertahanan:

Kepal Penerjang                                                     : H. Abdul Wahid didampingi Abd.Kadir Tawokia

Kepala Penyelidik                                                  : Andi Punna didampingi Salampessy

Regu Penyelidik dan penghubung                    : Abu Baeda dibantu Syamsuddin Opa

Penembak Tanda Komando Pertempuran     : Raccade didampingi Ali Arifin

Regu I Sayap Kanan                                             : Lappase dibantu Abu Bone (bekas Heiho)

Regu II sayap Kiri                                                 : Muhiddin.S dibantu Mallise ( bekas Manarai Jumpo )

Regu III Pegawai I Komando                            : Talibbe dibantu H.Arafah (bekas Kaijo Sen Tai)

            Senjata Lop Panjang digunakan  30 pucuk. Pengatur rakyat Repulik-ken bersenjata tajam. Indumo Daeng Makkalu kepal distrik Kolaka dibantu M.Nur kepal Kampung Kolaka. Pada pukul 11.00 kedengaran deru mobil dari arah Kendari. Tentara Belanda/Sekutu dengan 3 pengawalnya lengkap senjata api turun di tempat penghalang jalan. Komandan tentara Belanda/Sekutu bertolak pinggang berkata “Kurang ajar siapa yang pasang kayu penghalang disini? Ada 4 orang tentara Jepang tanpa senjata dan topi baja, dua orang sopir mobil truk toyota persiapan mengangkut bekas KNIL yang tinggal di kampung Hoko-Hoko. Komandan tentara Belanda/Sekutu memrintahkan ke empat tentara Jepang hendak mengangkat dan menyingkirkan kayu penghalang jalan. Sementara keempat tentara Jepang hendak mengangkat kayu penghalang, tiba-tiba andi Kasim yang didampingi M.Yunus muncul langsung berhap-hadapan dengan tentara Belanda/Sekutu, akhirnya terjadi dialog  antar Andi Kasim dengan Komandan tentara belanda/Sekutu.

(AK)     Selamat siang tuan, Saya Andi Kasim Petor Kepala pemerintah RI Kolaka daerah Proklamasi 17 Agustus 1945 di jakarta

(TB)     Saya Letnan John Van Boon tentara sekutu, atas perintah Komandan sekutu di Makassar saya mau ke Pomalaa untuk memeriksa keadaan dan peninggalan tentara Jepang dan mengambil bekas KNIL yang pernah ditawan tentara jepang di Pomalaa.

 (AK)    Dimana surat perintah Komandan tentara Sekutu?

(TB)     Letnan John Van Boon diam pura pura meraba saku bajunya, tidak dapat memperlihatkan surat perintah kemandan tentara sekutu.

ml_KNIL

Lambang KNIL

(AK)    Tuan melanggar memasuki Daerah RI tanpa izin pemerintah RI Kolaka, tuan tidak boleh melanjut kan perjalanan ke Pomalaa, senjata tuan-tuan dititip di markas barisan PETA/API/PI Kolaka. Bila tuan-tuan kembali dari Pomalaa senjatanya boleh diambil, Keamanan tuan-tuan selama berada di daerah RI Kolaka tanggungan kami kalau tuan-tuan tidak menghiraukan diluar pengetahuan kami.

            Letnan John Van Boon dengan congkak tanpa kata-kata melanjutkan perjalanan ke Pomalaa melewati pos-pos barisan PETA/API/PI. Letnan John Van Boon dan pasukannya jelas adalah tentar NICA, yang tidak mengakui Proklamasi 17 Agustus 1945, dan menghina serta memandang enteng pemerintah dan pejuang bersenjata pembela Proklamasi 17 Agustus 1945. Letnan John Van Boon dan pasukannya harus ditangkap hidup atau mati, itulah kesepakatan pemerintah dan pejuang bersenjata 45. Letnan John Van Boon dan pasukannya singgah di markas pemuda pejuang kampung Hoko-Hoko tempat M. Yosep dan dkk ( bekas anggota KNIL). Dimarkas ini sementara berkibar Bendera Merah Putih yang dijaga 2 orang pemuda  memengang tombak sambil bertolak pinggang. Letnan John Van Boon bertemu M.Yoseph dkk dan memanggil semua bekas KNIL ke Kendari bergabung tentar NICA di Kendari. M.Yoseph dkk. Secara halus menulak dan mengatakan lebih senag jadi petani atau orang kampung dari pada menjadi tentara belanda NICA. Letnan John Van Boon dan pasukannya meninggalkan markas pemuda pejuang kampung Hoko-Hoko.

drama kolosal

ilustrasi peristiwa 19 November 1945 dalam drama Kolosal HUT TNI tahun 2015 di Kolaka dikoordinir oleh Kodim 1412 Kolaka

            Letnan John Van Boon melanjutkan perjalanan ke Pomalaa, secepatnya M.Yoseph berbocengan sepeda dengan Belibau (Sama-sama bekas KNIL) meninggalkan markas pemuda menuju tempat persiapan pertempuran di Km-8 Kampung baru Sabilambo. M.Yoseph didampingi Belibau menyampaikan kepada Andi Kasim bahwa bekas KNIL yang ada di markas pemuda pejuang kampung Hoko-Hoko akan memilih bergabung dengan barisan pejuang bersenjata Kolaka dari pada masuk tentara NICA kembali. M.Yoseph menyerahkan 5 pucuk senjata Lop Panjang. Seluruh bekas KNIL yang ada di markas pemuda pejuang kampung Hoko-Hoko diangkut mobil Truk di bawa ke medan pertempurandan di beri 5 pucuk senjata lop panjang. Di tunjuk M.Yoseph mendampingi penembak pertama tanda dimulai pertempuran. Keadaan panasnya terik matahari  pukul 14.00 tanpa sarapan pagi dan makan siang lapar dan dahaga sangat terasa, namun kebulatan tekad perjuangan bersenjata dan rakyat Pro-RI bersatu padu membela Proklamasi 17 Agustus 1945 dan menyatakan tentara NICA harus ditangkap hidup atau mati. Pemuda pejuang bersenjata gelisah menunggu dalam kubu, mereka ingin berangkat ke Pomalaa menangkap hidup atau mati tentara NICA yang sementar berada di markas tentara Jepang di Pomalaa. Andi Kasim dan Andi Punna melarang. Menjaga hubungan baik dengan semboyan Nippon Indonesia Banzai.20160525_122412

Subuh tanggal 19 Nopember 1945 Andi Kasim dan seorang Pimpinan PRI yaitu Tahrir menuju ke Pomalaa dan mengadakan pertemuan pada pagi sekali dengan para bekas KNIL di daerah itu. Ternyata semua bekas KNIL di Pomalaa tetap setia pada Proklamasi 17 agustus 1945. Tokoh-tokoh bekas KNIL ini adalah M.Yosef, Sarilawang dan M.Billibao yang dari PRI ketiganya menjadi pimpinan KPR yaitu Badan Kelasykaran dari PRI Kolaka yang dibentuk pada tanggal 17 Oktober 1945,mereka inilah yang menjadi pelatih para pemuda di pusat latihan kemiliteran PKR di Silea.

Berdasarkan kepastian dan tekad dari bekas KNIL di Pomalaa ini maka pemerintah kolaka dan PRI mengambil keputusan untuk menentang dan mencegah kedatangan tentara NICA kewilayan RI di Kolaka Kalau perlu dengan melalui pertempuran.kemudian diputuskan untuk menghadang pasukan NICA tersebut di Kampung baru Yaitu di suatu tenpat 8 Km dari Kolak kejurusan Kendari dimna terjadi simpang jalan  menuju ke Pomalaa.

Sejak pagi hari Rakyat sudah beduyung-duyung berjalan kaki menuju ke Km 8 yaitu kampung baru yang sekarang bernama Sabilambo, Sepanjang jalan dari Kolaka menuju Km 8 begitupula didalam Kota setelah diadakan Pos pertahanan. Segala jenis kendaraan darat seperti Oto,sepeda dan lain-lain dipersiapakan untuk mengangkut pasukan dan perlengkapan perang, dan untuk membawa berita. Yang sukar diatur ialah rakyat banyak yang begitu meluap-luap semangatnya untuk menggempur NICA sehingga mereka tinggal dijalan di tempat terbuka di sekitar steling yang sudah diatur diptepi jalan yang waktu itu masih berhutan lebat senjata api pada waktu itu berkelebihan sedangkan yang tau mempergunakannya terbatas jumlahnya , senjata dibagikan kepada bekas KNIL dan Heiho yang ada serta mereka yang biasa berburu rusa dan binatang hutan lainnya. Para pemuda yang belum dilatih kemiliteran dan belum tau mempergunakan senjata tidak mau ketinggalan mangambil bagian dalam pertempuran yang bakal terjadi. Mereka itu minta supaya diberikan senjata agar tidak mengundurkan semangat juang pemuda yang berkobar-kobar dan memuncak itu maka mereka diberi senjata. Untuk itu diadakan latihan kilat ,bagaimana mempergunakan senjata yaitu bagaimana memasukkan peluru dan cara menembakkannya kepada musuh, yang akan dipraktekkan dalam pertempuran yang akan terjadi.

Pemuda-pemuda yang sudah dilatih kemudian disebar kedesa-desa. Pasukan PKR yang bersenjata tombak, parang bambu runcing dan sebagainya diatur dalam steling di sepanjang jalan antara Km 8 kejurusan Wundulako. Tenaga yang dikerahkan diwaktu itu kurang lebih 1000 orang. Melihat suasana yang kurang menguntungkan maka dikirim seorang kurir ke Pomalaa untuk menemui pemerintah (Andi Kasim) dan dipimpin PRI (M.Tahir) yang pergi menemui bekas KNIL di Pomalaa dan Huko-Huko untuk memberikan laporan dan meminta supaya segera ke Front. Sementara itu beberapa pohon ditebang di tepi jalan untuk menghalangi kedatangan NICA, Agar mereka tidak langsung ke Pomalaa. Didekat pohon yang ditebang itu yaitu pada tempat ketinggian yang tersembunyi oleh hutan telah dipasang steling untuk menggempur NICA.

Utuk menghadapi kedatangan NICA oleh kepala pemerintah Kolaka Andi Kasim dam pinpinan PRI.PKR Kolaka (Tahrir,Ch.Pingak,H.Abd wahid Rahim,Andi Punna dan I.M Ohijyer) diputuskan untuk menempuh dua cara yaitu: Berunding atau bertempur. Dalam usaha untuk membatasi NICA memasuki wilayak Kolaka dan mengambil KNIL dari Pomalaa dan Huko-Huko maka diputuskan dalam pertemuan tersebut tentang syarat perundingan dengan NICA yaitu:

  1. Kalau mendapat tugas dari sekutu harus memperlihatkan surat perintah.
  2. Jika tidak ada surat perintah harus kembali kekendari.
  3. Kalau NICA atau sekutu berkeras untuk Kepomalaa Maka harus menyerahklan senjata pada pemerintah RI di Kolaka untuk dititip dan dapat diambil kembali jika kembali Kekendari.

Ternyata setelah tentara NICA berunding dengan Andi Kasim yang disaksikan oleh Abu Baeda dan beberapa kawan semua persyaratan diatas tidak dapat dipenuhi, tetapi mereka berkeras untuk terus kepomalaa. Kekuatan NICA sekitar 1 Peleton yaitu 3 Truk, ditambah dengan 1 sedan Paccard yang ditumpangi oleh letnan Jhon Boon yang bertindak sebagai Komandan pasukan. Setelah perundingan gagal maka tentara NICA tetap dilepas untuk terus ke Pomalaa.

Bekas KNIL di Pomalaa dan Huko-Huko tak seorangpun yang mau di bawa kembali kekendari oleh NICA. Malah dikunjungi oleh tentara NICA dan ketika tentara NICA masih di Pomalaa banyak diantara bekas Tentara KNIL di bawah Pimpinan M.Yosef segera berangkat ke Km 8 dengan kendaraan yang telah di sediakan dan bergabung dengan pasukan yang telah disiapkan. Pada saat tentara NICA sebagai tentara sekutu menuju kepomalaa pasukan PKR Kolaka di kampung Baru mengatur siasat penyergapan. Pimpinan atau komandan pertempuran di serahkan pada H.Abd Wahid.

            Rupanya NICA juga merasa was-was sehingga mereka meminta bantuan 1 Truk tentara Jepang untuk menyertainya kembali kekendari. Namun mereka tidak menduga sama sekali bahwa rakyat Kolaka dengan senjata yang sederhana akan menggempur mereka dengan tiba-tiba. Salah duga yang mendatangkan kelengahan barakibat fatal bagi Letnan Jhon Boon dan Pasukannya.

Setiba mereka di Km 8 kampun baru dengan tiba-tiba mereka diserang oleh pasukan PKR. Pasukan NICA kocar-kacir dan hampir tidak dapat membalas serangan PKR. Satu truk tentara jepang yang menyertai mereka dengan segera menyerah pada PKR karena paniknya.Tentara NICA yang selamat lari Kocar-kacir masuk kehutan dan diburu oleh rakyat dam pemuda yang menambah kepanikan mereka, Letnan J.Boon dapat menyembunyikan diri dan setelah malam baru ia meloloskan diri, tetapi dua hari kemudian tertangkap oleh anggota PKR di (sekitar 40 Km dari Kolaka) Pasukan NICA yang dapat di hancurkan oleh PKR Kolaka dan senjata dan perlengkapannya dapat dirampas adalah sebagai berikut: 2 Orang mati (satu Kena tembak) 2 orang ditawan dalam keadaan lika-luka 1 pleton tentara Jepang ditawan, 4 Truk, 1 sedan, 6 pucuk Jongle, 2 Pucuk LE, dan 3 pucuk pistol, bayonet, granat tangan, parang australia, topi baja, ransel, dan beberapa dokumen dapat dirampas. Dipihak PKR jatuh Korban 1 orang Gugur dan 1 orang luka. Dari tangan letna J. Boon yang ditangkap disita oleh PKR 1 Pucuk pistol, 1 pucuk Jungle dan granat tangan.

            Letna J.Boon dan kawan-kawannya menjadi tawanan pemerintah RI di Kolaka. Dalam Usaha untuk melepaskan mereka, maka pada tanggal 21 Nopember 1945 satu delegasi jepang dari kendari dengan memakai tanda palang merah dan bendera putih (Tanda damai) datang menemui pemerintah RI di Kolaka untuk meminta mayat Korban pertempuran, tawana, dan semua alat perlengkapannya.

            Permintaan ini Pemerintah RI Kolaka dan pimpinan PKR tidak dikabulkan. Penolaka atas misi damai jepang oleh pemerintah RI didasarkan atas pendapat bahwa urusan tersebut adalah masalah yang menyangkut antara Australia dan pemerintah RI merdeka di Kolaka. namun demikian pemerintah RI masih membenarkan mengambil mayat-mayat tentara NICA yang telah dikebumikan secara wajar dikolaka.

            Tentara jepang yang ditawan sebanyak 1 peleton sebelumnya telah dibebaskan oleh pemerintah RI di Kolaka dengan peringatan jangan campur tangan lagi dengan semua persoalan antara pemerintah RI dan Australia yang melindingi dan membawa masuk NICA di sulawaesi tenggara. Juga pada delegasi jepang yang datang dari kendari diminta supaya jepang jangan ikut menentang kemerdekaan RI dan membantu Belanda untuk kembali menjajah, karena Kolaka telah diumumkan sebagai Wilayah RI merdeka.

         Pada  Siang tanggal 19 Nopember 1945   Pukul 15.30 kedengaran deru mobil jurusan Pomalaa deru mobil agak berbeda dengan deru mobil sewaktu tentara NICA dari Kendari. Pemuda pejuang bersenjata memperkirakan ada kelainan 2 mobil truk muncul lepas tikungan memuat 1 pleton tentara jepang tanpa topi baja dan tidak pasang sangkur pada bedilnya. Menyusul satu mobil sedan yang ditumpangi tentara NICA, menyusul 2 mobil truk kosong dikemudikan tentara Jepang tanpa senjata, 5 mobil beriringan masuk sasaran penembakan. Tembakan pertama dimulai disusul tembakan beruntun dari pemuda pejuang, tembakan pejuang redah. Tantara NICA membalas tembakan beruntun, seorang pemuda Repoblik kena tembakan (luka ringan siku Kiri).

            Tentara Jepang lompat berlindung diselokan tidak melepaskan tembakan, kemudian berteriak “Indonesiaaa. Tembak, sidini Nippon Tuan , Nippon Indonesia Banzai. Seluruh tembakan pejuang bersenjata diarahkan pada mobil tentara NICA. Tentara pejuang serempak menembak sambil berteriak ,kalau mau hidup menyerah tentar NICA diserbu barisan tombak, Letna John Van Boon menghilang (Lari meninggalkan pasukannya sambil bertempur). Satu orang tentara NICA (Berkebangsaan Indonesia) mati tertombak oleh pemuda Lantema dengan menggunakan Tombak Karada. Ada 2 tentar NICA (Bangasa Indinesia) menyerah dengan senjatanya Yunggle Gun (Jenggel), 2 orang tentar Jepang luka ringan bagian paha, setelah mendapat pertolongan Palang Merah Indonesia bergabung dengan pemuda pejuang. Pada pukul 17.00 para pejuang bersenjata mengadakan Apel konsulidasi dan pemekaran Organisasi perjuangan di markas pemuda Pundooho. selasai santap siang dan istirahat, Opu Topatanpanangi anggota BPR (Badan Pertimbangan Revolusi) mengumumkan terbentuknya PKR (Pembela Kedaulata Rakyat) Pimpinan Utama  PKR:

            Kepala penerjang                : H. Abdul Wahid

            Kepala Penyelidik               : Andi Kasim

            Kepala Pelatih                      : M.Yoseph

            Satu peleton anggota penyidik yang dipimpin Andi Punna memburu letnan John Van Boon dan memberitakan pos-pos penjagaan API sektor distrik Rate-rate.

Pada Tanggal 22 November  1945, barisan API yang ada di distrik rate rate (Abdul Hamid dkk), Pos Kampung Poli-Polia Ladongi menyergap letnan John Van Boon bersama senjatanya. Letnan John Van Boon menampakkan dirinya ia menyangka sudah masuk daerah Kendari. Letnan John Van Boon kemudian dibawa ke Kolaka  dan dimasukkan kedalam penjara Kolaka. Dalam pemeriksaan dan penjagaan PI (Polisi Istimewa) bekerja sama bagian penyidik PKR Kolaka. Para tentara NICA yang ditawan pejuang bersenjata di perlakukan sesuai HAM (Hak asasi Manusia) Tentara NICA dalam tawanan diberi kasur kelambu dan minum.

Pada Tanggal 24 Nopember 1945, Kapten Kabasima memberitakan kepada Andi Kasim  dan Andi Punna tentang permintaan komandan tentara sekutu /Australia untuk berunding dengan pemerintah dan pejuang bersenjata RI Kolaka. Permintaan perundingan melalui Datu Luwu dan Kapten Kabasima di Pomalaa. Informasi dari kapten Kabasima menyatakan bahwa permintaan tentara sekutu/Australia:

  1. Letnan John Van Boon dan pasukannya diserahkan kepada tentara sekutu/Australia.
  2. Pemimpin dan seluruh senjata api yang ada dalam tangan pemberontak diserahkan kepada tentara sekutu/Australia.
  3. Tentara sekutu /australia menjaga keamanan di Kolaka.

Pada Tanggal 25 Nopember 1945   Kapten Kabasima menganjurkan kepada Andi Punna untuk membentuk BBM (Barisan Berani Mati). Kelak BBM dipimpin Oleh Andi Punna dengan garis perjuangan:

  1. Senjata jangan lepas ditangan lebih bai pisah kawan dari pada pisah senjata
  2. Rakyat jangan disakiti, Pemerintah RI di tegakkan
  3. Letnan John Van Boon disandra ole BBM
  4. Kolaka di pertahankan, Bila tidak mungkin masuk hutan bergerilya.
  5. Jika tidak bisa bertahan di daerah Kolaka, Hijra ke Sulaweasi Selatan, kalau terpaksa mundur ke daerah Enrekang untuk bertahan habis-habisan bersama pemuda pejuang bersenjata Massenreng Pulu Cakke pimpinan andi Sose.

            Daerah Enrekang menjadi perhatian pemuda pejuang bersenjata PETA (pembela tahan air) Kolaka, disebabkan informasi yang didengar dari:

  1. Kapten Antonio sewaktu mundur melawan tentara jepang di kendari merencanakan ke daerah Enrekang bertahan melawan tentara jepang.
  2. Penyelidikan Kapten Puji Ara Komandan Tokke Tai yang melakukan penelitian seluruh Indonesia, mencari tempat pertahanan melawan tentara sekutu di Indonesia termasuk daerah enrekang.
  3. Anggota barisan PETA menganut agama islam Umumnya pemuda sulawesi selatan ada suku bangsa duri Enrekang (Mas Jidi dan Pammai).
  4. Potensi medan dan alam daerah enrekang, memungkinkan pejuang dapat menahan musuh.
  5. Masyarakat dan pemuda pejuang bersenjata Laskar Massenreng Pulu Cakke yang di pimpin Andi Sose memungkinkan bersatu dengan Barisan PETA/BBM yang dipimpin Andi Punna.

Informasi dari PETA/BBM yakin dan percaya bisa bertahan dan menahan Tentara NICA di dearah Enrekang. Garis kebijaksanaan BBM:

  1. Perundingan dengan tentara sekutu/Australia diserahkan sepenuhnya kepda Andi Kasim di dampingi Dr.Wahyu Kawi (Dr.Hoat Hoe) mewakili pemerintah RI daerah Kolaka.
  2. Tempat perundingan di kampung Pomalaa sebatas 1 Km persegi bebas tanpa gangguan.
  3. Pengawal perundingan 1 Pleton barisan PI yang di pimpin Ali Arifindi bantu Arifuddin dadu.

Pada tanggal 26 Nopember 1945 pemerintah RI di Kolaka menerima sebuah kawat dari makassar yang berasal dari pucuk pimpinan tentara pendudukan australia melalui Komandan tentara Jepang di Pomalaa. Kawat tersebut memberitakan bahwa tentara Australia akan datang ke Kolaka, seterimanya kawat tersebut kepala pemerintah RI di Kolaka berunding dengan pimpinan PRI/PKR kolaka dan Pimpinan PRI/PKR Luwu yang berada di kolaka dan mengambil keputusan sebagai Berikut:

  1. Tentara Australia diperbolehkan datang ke wilayah Kolaka tetapi pertemuan diadakan di Pomalaa dan ruang gerak tentara Australia di batasi 1 Km dari titik tempat perundingan
  2. Supaya datu Luwu di palopo dibawa serta karena kolaka adalah wilayah dari kerajaan Luwu dalam lingkungan RI merdeka.

Hasil perundingan dan persyaratan tersebut segera di kirim kemakassar melalui jepang di Pomalaa, menanggapi hal tersebut maka pimpinan tentara Pendudukan sekutu di makassar mengeluarkan maklumat pada tanggal 1 desember 1945 ditandatangani oleh Mayor Hearman atas nama Brigadir Jendreal tentara Australia di makassar yang isinya sbb:

  1. NICA adalah bagian dari tentara sekutu di sulawesi selatan dibawa Komandi Brigadir Jendral.
  2. Perwira0perwira NICA oleh karenanya bertindak atas nama Komando militer sekutu di makassar.
  3. Setiap pembangkangan untuk bekerja sama dengan NICA adalah berarti penolakan terhadap kekuasaan Komando sekutu makassar
  4. Tentara australia memerintahkan kepada rakyat sulawesi selatan bekerja sama dengan NICA
  5. Tentara australia akan mempergunakan kekerasan seperlunya sampai semua perintah tentara australia dan NICA di taati secepatnya (Patang 1975: 198)

Kemudian isi Ultimatun tersebut dikirim pula ke kolaka bersama kawat balasan bahwa persyaratan yang di ajukan pemetrintah RI Kolaka/PRI dapat di terima, kemudian tentara Australia akan datang ke Pomalaa pada tanggal 19 Desember 1945.untuk menghadapi perundingan dengan tentara australia, maka kepal pemerintahan RI DI Kolaka berunding dengan pimpinan PRI Kolaka dan di pimpin PRI Luwu yang kebetulan sedang berada di Kolaka maka di susunlah delegasi yang akan mendampingi datu Luwu sebagai puncak pimpinan pemerintahan kerajaan Luwu untuk menghadapi utusan tentara australia. Delegasi itu terdiri dari.

  1. Andi Kasim kepal pemerintahan RI Kolaka
  2. Andi Kamaruddin ketua umum PRI Kolaka
  3. Kwa Hoat Yu bagian kesehatan/palang merah PRI Kolaka
  4. Ahmad, Kepal polisi istimewa PRI Luwu
  5. Sanusi Dg.Mattawang kepela penerangan PRI Luwu

Datu Luwu kemudian dalam perundingan ini mengirim 2 utusan yang datang bersama-sama dengan tentara australia yaitu: (1) Andi Mappanyompa, Opu Tamarilaleng kerajaan Luwu dan (2) M.A.Azikin sekretaris I PRI Luwu yang bertindak sebagai juru bahasa.

Sebelum perundingan di adakan dengan australia delegasi Kolaka berkesempatan mengadakan pertemuan dengan utusan datu Luwu dalam pertemuan ini diambil keputusan  sebagai berikut:

  1. Letnan J.Boon adalah seorang tawanan perang dan didakwa oleh pemerintah RI sebagai pengacau pengganggu keamanan karena karena memasuki wilayah RI di Kolaka tanpa Izin dan menggunakansenjata api dan tidak patuh pada persyaratan yang diajukan oleh pemerintah kepadanya sehingga menimbulkan kekacauan dan gangguan keamanan. Letnan J.Boon juga dituduh telah melanggar kedaulatan negara Repoblik Indonesia.
  2. Kalau australia menuntut senjata yang digunakan dalam pertempuran maka senjata itu sekarang berada di tangan rakyat yang sudah merdeka dan tidak menginginkan negaranya dijajah oleh siapapun.
  3. Mengenai masalah tawanan akan di serahkan secara resmi sebagai tawanan perang kemerdekaan dengan saran akan dipertukarkan dengan tawanan pemuda pejuang di Palopo. Sebagai langkah pertama maka Letnan J.Boon akan dibawa menghadap australia sebagai terdakwa yang menggaggu keamanan daerah Kolaka.

Sehari sebelum kedatangan tentara Australia terjadi suatu peristuwa yang hampir saja membahayakan kedudukan pemerintah RI Kolaka dalam menghadapi tentara australia. Peristiwa itu adalah tindakan sepihak dari sementara pemuda yang menculik letnan J.Boon untuk dibunuh. Untung saja tindakan ini dapat diatasi oleh pemimpin Pemuda.

Dikalangan pemuda timbul kegelisahan atas kedatangan australia ke Kolaka bahkan mereka mempersiapkan diri manghadapi keadaan yang gawat. Semua kekuatan dikerahkan dan rakyat disiagakan untuk menghadapi segala kemungkinan. Sedangkan Pemimpin pemerintahan Andi Kasim  dan pucuk pimpinan PRI menghendaki pengakuan adanya pemerintahan RI di Kolaka yang syah dan berdaulat serta menginginkan Australi menghormati kedaulatan ini pada hari perundingan akan diadakan (jam 14 siang) di sekitar pomala di penuhi oleh pemuda bahkan M.Yosef dan pasukannya berada tidak beberapa jauh dari pasanggrahan tempat perundingan akan diadakan.rakyat dengan berbagai jenis senjata telah memenihi jalan antara Kolaka dengan Pomalaa.

Keselamatan letnan J.Boon dikhawatirkan ketika akan di bawa ke pomalaa sehingga haris di sembunyikan dengan di tutupi terpal. Pemuda dan rakyat kolaka yang cinta kemerdekaan dan cinta RI telah bertekad untuk menghadapi siapa saja yang akan mengancam kemerdekaannya. Jam 14.00 perundingan di mulai dimana delegasi luwu/Kolaka dipimpin oleh andi mappanyompa (Wakil Dari Luwu) dan andi kasim kepala pemerintahan RI di Kolaka sedangkan tentara australia dipimpin oleh seorang perwira yang berpangkat kapten. Delegasi luwu/Kolaka berjumlah 7 Orang dan australia juga terdiri dari 7 orang.

Dalam perundingan Letnan J.Boon dihadirkan pula delegasi Kolaka mula-mula menggambarkan kesalahan J.Boon sementara tentara australia tidak dapat membuktikan bahwa J.Boon Kepomalaauntuk menjemput bekas KNIL atas perintah australia. Delegasi Luwu Kilaka dalam kesempatan itu dapat pula menunjukkan dan meminta konfirmasi dari tentara australia tentang selebaran australia yang berbunyi sebagai berikut:

  1. Australia tidak mencampuri urusan pemerintahan
  2. Nica ini adalah pegawai australia
  3. Tidak boleh Nica melakukan sesuatu hal jika tidak diperintahkan oleh australia.

Delegasi Luwu/Kolaka adalah delegasi pemerintah yang menghormati hak-hak yang

dikandung dan dihormati dalam kedaulatan pemerintah. Sedangkan delegasi australia adalah delegasi militer yang telah memperoleh perintah-perintah militer yang harus dilakukan sesuai perintah. Berdasarkan tugas ini maka australia memajukan tuntutan  sbb:

  1. Tawanan harus diserahkan
  2. Pemerintah RI di Kolaka harus dapat menyerahkan 50 pucuk senjata api yang digunakan pejuang dalam peristiwa 19 Nopember 1945
  3. Pimpinan pejuang harus diserahkan
  4. Harus tunduk dan patuh pada pemerintah jepang atas nama australia.

Kepala pemerintahan RI di Kolaka menyadari delegasi australia adalah delegasi militer yang bekerja atas perintah yang mutlak harus dilaksanakan dan dipatuhi, tetapi kedaulatan harus pula di hormati. Syarat pertama disetujui dengan permintaan australia harus melepas 7 orang pemuda Luwu yang saat ini menjadi tawanan Australia di makassar. permintaan ini disanggupi oleh delegasi tentara australia untuk diurus tapi tidak memberikan kepastian mengenai pelepasan mereka dari tawanan. tuntutan kedua tentang penyerahan 50 pucuk senjata api dijawab oleh andi Kasim tidak mengetahui ada senjata sebanyak itu namun bersedia mengadakan pemeriksaan dari rumah kerumah dalam usaha mencari senjata tersebut.

Rupanya berita tentang PRI Kolaka dapat menyelami dan mengambil senjata, jepang yang dibuang di pelabuhan Pomalaa pada 5-10 september 1945, Tuntutan ke-3 dan ke-4 sama sekali tidak digubris oleh delegasi luwu/Kolaka karena apa yang disebut ekstermis ini adalah para pejuang kemerdekaan sedangkan untuk tunduk kepada jepang merupakan penghinaan terhadap kedaulatan rakyat indonesia sebagai rakyat merdeka.

             Hari itu juga Letnan J.Boon diserahkan kepada tentara australia sedangkan tawanan lainnya di serahkan keesokan harinya beserta sebuah karaben rusak dan sepucuk pistol kepunyaan letnan J.Boon beserta seberkas prosesverbal pemeriksaan/penggeledahan senjata api dari rumah kerumah dalam kota Kolaka. Rupanya yang dipentingkan oleh tentara australia adalah pembebasan tawanan karena pada kenyataannya mereka meninggalkan Pomala  dengan puas, malah meminta beberapa lambang  merah putih yang dikenakan di dada delegasi luwu/Kolaka sebagai kenang kenangan. Selanjutnya utusan datu luwu tidak ikut lagi bersama tantara australia tetapi akan berangkat langsung dari Kolaka ke Palopo. Pristiwa 19 Nopember 1945 merupakan pertempuran pertama melawan NICA di sulawesi tenggara. Tindakan Letnan J.Boon untuk mengambil bekas KNIL di Pomalaa dan Huko-huko tidak dapat dikaitkan sebagai tindakan Australia, karena hal itu bertentangan dengan missi pendudukan tentara sekutu. Tetapi usaha untuk betul-betul merupakan suatu usaha belanda untuk menegakkan kembali penjajahannya di sulawesi tenggara.

Didalam pertempuran 19 Nopember 1945 ini tergambar bahwa pertempuran ini merupakan perlawanan pemuda indonesia karena dalam peristiwa itu ikut serta pemuda dari suku ambon, timor, manado, jawa, batak/minang, bugis, bersama-sama dengan pemuda setempat. Juga didalamnya terdapat Muhammadiyah, PSII, Pemuda Kristen, Bekas Knil bekas Heoho, dan rakyat biasa. Dalam peristiwa ini tergambar perpaduan semangat dari pemerintahan setempat, pemuka masyarakat dan para pemuda untuk mempertahankan kemerdekaan. Pertempuran 19 Nopember 1945 tidak hanya dapat dikatakan sebagai perlawanan dari anggota kelaykaran, tetapi merupakan perlawanan rakyat di bawah pimpinan Kepala pemerintahan RI di Kolaka, walaupun perang uatama dilakukan oleh PRI dengan KPR.

             Akibat  yang ditimbulkan oleh kedatangan tentara australia di pomalaa yaitu tindakan keras dan penghinaan yang dialami oleh Komandan tentara jepang di daerah itu dari Komandan tentara australia. Kabarnya kapten kabasima karena dianggap gagal menjalankan tugas yang di berikan oleh sekutu sebagai penjaga keamanan di tempeleng oleh komandan tentara australia. Kabasima kemudian meninggalkan tugasnya dan segera bergabung dengan para pejuang kemerdekaan RI di Kolaka. Seterusnya dengan nama Mansyur di aktif dalam perjuangan kemerdekaan, sebagai pelatih dan pimpinan pertempuran.

             Kedatangan NICA ke sulawesi tenggara atas nama sekutu dapat dikatakan berhasil menarik raja atau kepala pemerintahan setempat ke pihak NICA kecuali pemerintah Kolaka yang sejak awal dengan tegas telah mengumumkan wilayahnya sebagai wilayah repoblik indonesia atas dorongan para pemuda yang cinta akan kemerdekaan. Sikap raja-raja atau kepala pemerintahan tersebut mungkin didasari atas harapan “keamanan” setelah masa perang yang kejam. Apalagi jika ini dikaitkan dengan fungsi raja sebagai pengayom rakyat disamping sebagai kepala pemerintahan.

             Tentara australia tidak berkedudukan di kendari secara tetap dan kedaan ini dimanfaatkan secara maksimal oleh NICA untuk membangun kekuasaannya. Setelah berakhirnya tugas australia, NICA dapat dikatakan secara de jure telah menguasai sulawesi tenggara (bekas Afdeling Buton dan Laiwui) kecuali Kolaka yang masuk dalam pemerintahan Raja Luwu yang pada masa mudanya mengalami perang pendudukan belanda atas kerajaan Luwu pada 1905 dengan tegas menyatakan kerajaan Luwu sebagai Wilayah RI yang juga mencakup Kolaka. Secara Khusus Kolaka dinyatakan wilayah RI oleh kepala pemerintah Andi Kasim Pada 17 september 1945.

         Perjuangan kolaka yang ditandai dengan berdirinya organisasi pemuda pada awal kemerdekaan di sesuaikan pula dengan Organisasi pemuda di Palopo  (Luwu) pada tanggal 15 Oktober 1945 PNI Palopo yang berasal dari Sukarno muda, Dijelmakan pula kedalam PRI ( Pemuda repoblik Indinesia) sedangkan Api Kolaka dijelma menjadi PRI Kolaka pada tanggal 17 Oktober 1945.dengan demikian maka diharapkan bahwa organisasi PRI dimana-mana dapat mempersatukan perjuangan PRI yang berpusat di palopo yang mempunyai cabang sampai di luar kerajaan Luwu seperti di Poso, Sengkang,(Wajo) Bone, dan Kendari. di Sulawesi Tenggara cabang-cabang PRI adalah:

  1. Patampanua (Kolaka Utara) dipimpin oleh M.Rasyad dan Dg Silasa
  2. Kolaka dipimpin Oleh A. Kamaruddin
  3. Kendari dipimpin oleh Supu Yusuf dan A.Patanjengi

Patut dicatat bahwa pada zaman pendudukan jepang  distrik patampanua (Kolaka Utara) termasuk dalam Ken Luwu sedangkan Kolaka (Distrik Kolaka, Mowewe) dimasukkan kedalam Ken kendari dan buton sebagai satu bun ken walaupun dalam urusan pemerintahan kerajaan, Kolaka (termasuk Mowewe dan rate-rate) adalah wilayah Luwu. Setelah jepang, pemisahan ini dengan sendirinya hilang walaupun dalam beberapa hal termasuk dalam langkah langkah perjuangan dan pemerintahan, Kolaka ,Mowewe dan rate-rate mempunyai kedudukan tersendiri yang dilakukan  oleh PRI Kolaka, merupakan pertempuran pertama melawan Nica di sulawesi tenggara  atas nama sekutu (Australia) sedangkan PRI Luwu (Palopo) mengalami pertempuran pertama dengan NICA pada tanggal 23 Januari 1946 setelah membentuk Komando pertempuran pada 17 Januari 1946.

PRI Kolaka menanggapi kepentingan sendiri sesuai dengan tradisi daerahnya sekaligus menggambarkan bahwa nama PRI adalah nama kesatuan penggalangan perjuangan. Tiap-tiap cabang PRI merupakan organisasi yang dapat bertindak sendiri-sendiri sesuai dengan kepentingan dan kebutuhannya yang harus dapat mengurus dirinya masing-masing. Usaha NICA yang terselubung di balik sekutu semakin dirasakan mendesak oleh para pejuang kemerdekaan. Kedaan ini lebih jelas lagi setelah keberangkatan tentara australia.

Setelah wilayah kendari hampir seluruhnya telah dapat dikuasai oleh belanda, kecuali distrik Andoolo keadaan ini mengkhawatirkan KPR di bawah komando PRI/PKR Kolaka karena dianggap membahayakan kedudukan Kolaka sebagai pusat perjuangan di sulawesi Tenggara maka

Pada tanggal 29 Nopember 1945, Pukul 06.00 sebuah kapal perang bergerak pelan-pelan memasuki perairan Kolaka-Pomalaa. Di ujung jembatan pelabuhan Pomalaa siap (1) Andi Jaya Langkara Koordinator perundingan, (2) Satu barisan PI di pimpin Ali Arifin, (3) Satu peleton tentara Jepang di pimpin seorang Gonco dan (4) Dua bendera berkibar (Bendera Merah Putih dan Bendera Jepang) di ujung jembatang menunggu mendaratnya. Pukul 07.00 Tanggal 29 Nopember 1945, kapal perang Suriezse berlabuh lebih kurang 200 meter dari ujung jembatan pelabuhan Pomalaa. sebuah motor bood turun dari kapal Surizse memuat 1 regu Mobil tentara sekutu/Australia, mendarat di ujung jembatan Pomalaa. Tiga bangsa bertemu (Bangsa Indonesia, Jepang Dan Australua) berjabat tangan, berkenalan bersantai menunggu mendaratnya Komandan Tentara Sekutu/Australia. Pukul 07.30 ada 3 motor Bood dari kapal perang  Sunrizse mengantar Kapten Caiger Komandan tentara Sekutu/Australia. Kapten Ceiger di dampingi wakil datu Luwu (Andi Pangajoang dan andi Azikin sebagai juru bahasa) dikawal 1 pleton tentara sekutu/Australia. Ada 3 bendera berkibar di tempat perundingan di Pomalaa (Bendera Merah Putih,Bendera Jepang dan Bendera Australia) Pukul 09.00 selesai perkenalan dan istrahat sejenak perundingan dimulai Tentar sekutu/Australia diawali Kapten Caiger, Pemerintah Ri Kolaka di wakili Andi Kasim di dampingi Dr Kwe Hoat Toe (Dr. Wahyu Kawi), dan Datu Luwu peninjau diwakili Andi Panggajoang di dampingi Andi Azikin sebagai juru bicara.

Pertemuan di buka langsung  Kapten Caiger meminta Letnan Jhon Vav Boon diserahkan kepada tentara Sukutu/Australia. Andi Kasim Menjawab kami mengakui dan menghormati tentara Australia penguasa tentara sekutu dan bertanggung jawab atas keamanan dan Ketertiban indonesia Bagian timur. Kami bersedia menghadirkan Letnan John Van Boon di tengah perundingan, tetapi kehadirannya bukan tentar sekutu. Letnan John Van Voon adalah tentara NICA datang di daerah RI tanpa surat peritah tentara sekutu dan tidak menghormati  pemerintah RI Kolaka, bahkan Letnan John Van Boon sumber terjadinya pertempuran 19 Nopember 1945.

Perundingan di tunda Andi Kasim Memerintahkan anggotan PI mengambil letnan John Van Boon di bawah ketengah perundingan. Letnan John Van Boon sementara dalam sandra barisan BBM di luar Kolaka (Kampung Pundooho). Demi pemerintah RI Barisan BBM menyerahkan Letnan John Van Boon kepada barisan PI untuk di bawah keperundingan di Pomalaa. Perundingan dibuka olek Andi Kasim memperhadapkan letnan John Van Boon kepada Kapten Caiger, Andi Kasim menjelaskan pada Kapten Caiger tentang dialog antara Andi Kasim dan Letnan John Van Boon sebelum terjadi pertempuran 19 Nopember 1945, Kapten caiger tersenyum kemudian langsung memarahi dan mengatai Letnan John Van Boon “Orang Bodoh Sekali”.

Kapten Caiger meminta kepada Andi Kasim:

  1. Pemimpin-pemimpin pemuda pejuangdan seluruh senjata api yang digunakan diserahkan kepada tentara Sekutu/Australia.
  2. Pasuka tentara NICA yang ditawan pemuda pejuang diserahkan kepada tentara Sekutu/Australia.
  3. Keamanan dan ketertiban di Kolaka deserahkan kepada tentara Jepang sampai datangnya tentara Sekutu/Australia

Andi Kasim Menjawab:

  1. Pemuda pejuang telah membawa semua senjata api masuk Hutan, mereka siap berperang melawan tentara NICA bila berada di daerah Kolaka.
  2. Tentara Jepang kalah perang dunia ke II, Tidak wajar menjaga keamanan dan ketertiban daerah Kolaka
  3. Daerah Kolak adalah Daerah RI yang ingin merdeka dan berdaulat sesuai Proklamasi 17 Agustus 1945.
  4. Pemerintah RI Kolaka memiliki aparat PI untuk membantu tentara sekutu/Australia menjaga keamanan dan ketertiban daerah Kolaka.
  5. Kami bersedia memeriksa rumah-rumah penduduk di daerah Kolaka mencari senjata api. Perundingan Istrahat dilanjutkan keesokan harinya tanggal 30 Nopember 1945 pukul 14.00.

Pada Tanggal 30 Nopember 1945 pukul 14.00 perundingan dibuka. Andi Kasim menyerahkan 1 Pucuk senjata api lop panjang 9,5 kedaan rusak, 2 orang tentara NICA (Bangsa Indonesia) memilih kembali menjadi tentara NICA dari pada menjadi anggota barisan pejuang bersenjata RI. Atas pengertian Kapten Caiger menghasilkan keputusan:

  1. Pemerintah RI Kolaka membantu tentar sekutu /Australia menjaga keamanan dan ketertiban daerah Kolaka.
  2. Tentara Sekutu/Australia membantu membebaskan pemuda pejuang anggota barisan “Soekarno Muda” yang ditawan tentara NICA di Makassar.
  3. Tukar cendra mata antara PI dengan tentara Sekutu/Australia.
pomalaa

Gelora 45 monumen perundingan penyelesaian peristiwa 19 November 1945 di Pomalaa

Setelah pertukaran cendra mata antara pimpinan barisan PI Ali Arifin dengan komandan pleton tentara Sekutu/Australia. Tentara Sekutu/Australia bersama Walik Datu Luwu Andi Pangajoang dan Andi Azikin, meninggalkan kampung Pomalaa turun  di kapal perang Sunrizse . Pukul 20.00 terdengar tembakan meriam dari kapal perang Sunrizse  sebanyak 21 kali tanda penghormatan bangsa australia kepada bangsa indonesia. Ada berita dari Andi Azikin Letnan John Van Boon meminta kepada kapten caiger agar tembakan dari kapal perang sunriezse diratakan Ke Kolaka, Kapten Caiger menolak hingga antara kapten Caiger dan letna John Van Boon timbul ketidak serasian dalam tugas sebagai tantara Sekutu. setelah perundinga antara tentar Sekutu/Australia dengan pemerintah RI Kolaka. Pemerintah dan pemuda Kolaka merasa berada dalam daerah defacto dan dejure wilayah RI Proklamasi 17 agustun 1945. Persatuan dan kesatuan antara pemerintah RI. Rakyar republik-ken dan pejuang bersenjata tambah yakin dan percaya bahwa kemerekaan dan kedaulatan bangsa dan negara RI dari sabang sampia meroke tercapai dalam waktu singkat.

Pada Tanggal 14 Desember 1945, Wakil Datu Luwu dan wakil barisan PRI (Pemuda Repomlik Indonesia) sebanyak 5 orang ( Andi Ahmad dkk) ke Kolaka meninjau keadaan Kolaka setelah terjadi pertempuran 19 Nopember 1945, Andi Ahmad anak Datu Luwu menyampaikan ucapan selamat dari Datu dan rakyat Luwu, Keberhasilan yang dicapai pemerintah RI Kolaka dalam perundingan dengan tentara Sekutu/Australia. Selain itu Andi ahmad memberitahan adanya perubahan organisasi di Luwu dari barisa soekarno Muda menjadi barisan PRI (Pemuda Repoblik Indonesia) yang berjuang secara diplomasi dan revolusi untuk merangkul semua rakyat prokemerdekaan. Di Kolaka telah terbentuk beberapa Organisasi perjuangan bersenjata yaitu :

  1. Barisan PETA (Pembela Tanah Air)
  2. Barisan API (Angkata Pemuda Indonesia)
  3. Barisan PI (Polisi Istimewa)
  4. Barisan PKR (Pembela Kedaulatan Rakyat)
  5. Barisan BBM (Barisan Berani Mati)

Organisasi bersenjata dianggap cukup, yang diperlukan organisasi menggalang pemuda dan masyarakat republik-ken pendukung perjuangan bersenjata dan pemerintah RI Kolaka pada tanggal 17 Desember 1945, setelah upacara pengibaran bendera merah putih  yang diiringi lagu kebangsaan indonesia raya , Andi Kasim kepala pemerintah RI Kolaka, mengumumkan terbentuknya oraganisasi menggalang Massa Republik-ken PRI (Pemuda Repoblik Indonesia).

Struktur Organisasi PRI:

Ketua             : Andi Kamaruddin Jurutulis kepal distrik Kolaka.

Sekretaris      : Ch Pingak Kepal sekolah dasar Kolaka.

Pada Tanggal 1 Januari 1946, pukul 12.00 ada 1 peleton tentara NICA dipimpin sersan Sambur dari kendari menyerobot masuk ke kolaka dengan alasan merayakan Tahun baru dengan kerabatnya di Kolaka.

Pada Tanggal 17 Januari 1946 sementara Bendera Merah Putih berkibar di rumah-rumah penduduk, kembali tentara NICA yang di pimpin Sersan Sambur mengacau dalam Kolaka, antara Lain gerakan tentara NICA:

  1. Seorang janda setengah tua, memasang bendera Merah putih di depan rumahnya, tiba-tiba tentara NICA singgah dirumah itu langsung mengambil bendera merah putih dan merobek-robek untuk dijadikan lap sepatu, sang janda melawan dan memaki-maki tentara NICA dengan ucapan “Tentara Kafir”
  2. Dipasar Kolaka, Seorang anggota polisi pemerintah RI (Tamboli) dirampas jam tangannya merek Seiko oleh tentara NICA dan menyuruh sang polisi itu memakan lambang merah putih yang melekat di dada bajunya.
  3. Lappase bekas anggota Heiho sementara memegang Dopis Granat, tiba-tiba ditangkap tentara NICA
  4. Abdul Wahid dkk, lolos dari sergapan dan tembakan beruntun tentara NICA di Km 5 dari Kolaka.
  5. Mertua M.Yoseph dan beberapa bekas KNIL dipukul sampai berdarah-darah oleh tentara NICA.

Adanya gerakan tentara-tentara NICA di daerah Kolaka pemerintah dan pejuang bersenjata RI sepakat untuk menghajar tentara NICA bila datang memasuki Kolaka.PETA PALAGAN SULAWESI

Pada Tanggal 30 Januari 1946, Andi Tanriajeng dengan pengawalnya dari Palopo ke Kolaka, Andi Tanriajeng memberitakan Andi Kasim dan Andi Punna, bahwa pada tanggal 23 januari 1946 barisan PRI (Pemuda repoblik Indonesia) Palopo dibantu pemuda “Kipas Hitam” Lasusua Kolaka Utara, menyerang tentara NICA yang menduduki Kota Palopo. Datu Luwu dan keluarganya meninggalkan kota palopo menuju benteng Batu Putih Pakue Kolaka Utara. Kota Palopo dikuasai tentara NICA.

index

Datu Luwu dan keluarganya

Pada Tanggal 3 Pebruari 1946, Distrik rate-rate di kepalai Lapae daeng Makkatutu merupakan daerah rawan dan terancam serangan tentara NICA dari Kota kendari. 1 Peleton API (Angkatan Pemuda Indonesia) dipimpin Nur Latamoro dibantu Nasi bekas anggota Heiho  dan seorang anggota angkatan udara tentara jepang dari lapangan Ambepua Kendari, Untuk membantu pertahanan Wilayah RI Kolaka dari gangguan tentara NICA, diperbantukan 2 Regu PKR pos distrik Rate-rate. Pos I dari jurusan Kendari dipimpin Sersan Soejiman dibantu H.Malla, Pos II dari jurusa poli-Polia dipimpin Konggoasa Latambaga dibantu Sarullah (Bekas Heho). Beberapa barisan berkumpul di Kolaka dan sepakat untuk menggempur tentara NICA bila memasuki daerah RI Kolaka. Tempat pertempuran Daerah Distrik Rate-rate:latamoro

Barisan yang berangkat ke daerah pertempuran

  1. Barisan BBM dipimpin Andi Punna
  2. Barisan PKR dipimpin Haji Abdul Wahid
  3. Barisan PI dipimpin Abdul Kadir Bangsa
  4. Barisan Kipas Hitam Lasusua dipimpin Badawi
  5. Barisan Bekas KNIL dipimpin Ohyver
  6. Andi Tenriajeng dan pengawalya
  7. Dan beberapa barisan bersenjata lainya ikut, sehingga merupakan kekuatan terbesar selama dalam Revolusi 17 Agustus 1945 di daerah Kolaka.

Enam mobil Truk Toyota mengangkut pejuang bersenjata dari Kolaka ke Rate-rate, Bergabung dengan pemuda pejuang yang telah menungga kedatangan tentara NICA yang sering masuk Tiba-Tiba dari Kota Kendari. Ada berita dari kampung Awoliti Lambuya, 1 Peleton tentara NICA sementara Pos di persimpangan jalan. Barisan pemuda bersenjata sepakat untuk menyergap tentara NICA di kampung Awoliti, setelah pejuang sampai di kampung Awoliti tentar NICA telah mundur ke Wawotobi. Para pemuda pejuang masuk kewawotobi. Asrama bekas tentara jepang yang ditempati tentara NICA di Wawotobi Kosong, Tentara NICA mundur Kekendari. Pemuda bersenjata hendak melanjutkan gerakannya kekota Kendari untuk menyerang Tentara NICA di kota Kendari. Goco Ninomia (Sersan Ninomia yang bersahabat pemuda pejuang, pembantu Tokke Tai di Pomala) menasehatkan untuk tidak melanjutkan gerakan ke kota Kendari.

Di Kota kendari sudah mendarat Kompi 151 dari Morotai memiliki persenjataan lengkap dan moderen lebih baik pulang memnpersiapkan perlawanan karena ada kemungkinan tentara NICA dalam waktu singkat akan menyerang Kolaka. Pemuda pejuang bersenjata meninggalkan Wawotobi ke Rate-rate. Sehubungan perlengkapan kurang dan cape, sebagian besar pemuda pejuang bersenjata kembali kemarkas Masing-Masing di Kolaka.

Pada Tanggal 4 Pebruari 1946 suatu pasukan KPR di bawa pimpinan Konggoasa dan M.Jufri memasuki wilayah kendari dan menawan kepala distrik Lambuya (suami Istri Laposudo dan Bungaharu,Laposudo kemudian ditembak mati) dan putra kepala Distrik Konawe di Wawotobi (Mahadini). Kedua tawanan dibawa ke Kolaka dan kemudian dibunuh oleh prajurit PKR tanpa sepengetahuan pimpinan umum KPR. Tindakan KPR untuk memasuki wilayah kendari yang telah dikuasai NICA ini merupakan jawaban PKR dibawa peringatan pada NICA yang telah merencanakan untuk menyerang Kolaka (Bhurhanuddin, 1980: 59)

konggoasa dan ponaan

Konggoasa Latambaga

Pada Tanggal 5 Pebruari 1946 yaitu sehari sesudah ekspedisi PKR distreik rate-rate di serang oleh NICA, Psukan PKR dipimpin oleh I.M Ohuijver dan pada saat itu Konggoasa dan pasukannya berda di derah itu. Serangan itu dimaksudkan untuk menduduki kota kolaka dengan melalui dua distrik yaitu: Distrik rate-rate dan distrik Mowewe. Setelah melalui pertempuran sengit Akhirnya Kolaka dapat diduduki NICA dan Kota di bakar habis. Rate-rate yang merupakan pos terdepan PKR dalam menghadapi NICA yang berkedudukan di kendari. Dalam pertempuran ini Gugur dari pihak PKR 3 Orang.

rate2

Monumen Pertempuran Rate-rate

Pada pagi hari tanggal 5 Pebruari 1946 Pos terdepan pemuda pejuang Kolaka berada di Kampung Rate-Rate. sektor PKR Rate-rate dipimpin oleh Nur Lantamoro dibantu Nasir. Sebagian besar pemuda pejuang bersenjata setelah melakukan manufer kedaerah kendari isirahat di markas Masing-Masing di Kolaka.  Pos Rate-rate dibantu 2 Regu. Regu I dipimpin sersan Soejiman (Bekas Knil) dibantu H.Malla dan Soekiman (bekas Romusa dari pulau Jawa), Bertugas Pos I meliputi jurusan Kendari. Regu II dipimpin Konggoasa Latambaga di bantu Sarullah dan Latumaa (Pasukan dari Kampung Wundulako) Kolaka, pos meliputi jurusan Poli-Polia. Pukul 14.00 tiba-tiba 1 Kompi tentara NICA Kompi 151 Morotai dan 1 Peleton MP (Militer Polisi) dipimpin Kapten Abeyn menyerang Pos I kubu Rate-rate jurusan kendari .tiga Orang pasukan PKR berada dalam Kubu Pos I (Sersan Soejitman,Haji Malla, dan Soekiman).Tembak menembak terjadi antara 3 anggota PKR lawan tentara NICA. Serangan mendadak tidak terduga sehingga pasukan PKR yang istirahat tidak dapat membantu Kubu Pos I tembakan pasukan PKR melukai Letnan Bioshof wakil Kapten Abeyn,tembakan tentara NICA tambah Gencar ke tiga pasukan PKR dalam Kubu Gugur. Pertahanan distrik Rate-rate jatuh ketangan tentara NICA, kemudian tentara NICA melanjutkan gerakannya masuk ke kampung Mowewe. Sejak bulan januari Kepada distrik Mowewe Kapita Puwatu meninggalkan pemerintah RI Kolaka tanpa pamit dan  bergabung dengan tentara NICA.Tentara NICA Kompeni    menduduki Mowewe, Kapten Abeyn membentuk  Detasemen barisan rakyat disebut detasemen Mowewe dipimpin Kapitan Mowewe Puwatu dengan pangkat Kapten Tetuler.

Pada Tanggal 6 Pebruari 1946. Dari rate-rate kemudian tentara NICA menduduki Mowewe tanpa melalui pertempuran, I.M Ohuijver dan Konggoasa dengan pasukannya mengundurkan diri ke arah Kolaka . Di Mowewe NICA mengatur siasat untuk menduduki kolaka.

Pada Tanggal 7 Pebruari 1946. Pasukan NICA di pecah menjadi dua, sebagian berjalan kaki dari mowewe menuju kolaka melalui jalan pintas dan sebagian lagi memakai kendaraan dengan melalui jalan raya siasat nica ini dengan segera dapat di ketahui oleh Pimpinan PKR sehingga PKR sempat mengatur pasukannya di luar Kota Kolaka yaitu jalan jurusan kendari di empat tempat yaitu: Km-1, Km-4, Km-6 dan Km-8 (Bhurhanuddin 1980: 60)

    Pasukan di daerak Km -8 terdapat sebuah jembatan dimana dalam memperebutkan jembatan ini seorang KPR gugur. di daerah Km-6 dijaga oleh I regu PKR dibawa pimpinan Andi Punna  dan untuk merebut  daerah ini terjadi pertempuran selama setengah jam. daerah Km-4 dijaga oleh pasukan bersenjata tajam dan daerah ini juga mendapat serangan sekitar jam 5 subuh. Induk pasukan di daerah Km-1 menghadapi musuh  sekitar jam 06.00 pagi berlangsung pertempuran sengit selam kira-kira 10 jam. Dari pihak KPR 1 orang gugur dan luka yaitu penembak Bren karena gencarnya serangan musuh dengan peralatan yang lengkap maka KPR pada sekitar  jam 14.00 siang mengundurkan diri dari Kolaka ke arah utara yaitu ke Mangolo dan seterusnya dengan markas berpindah-pindah menuju Kolaka Utara ( Bhurhanuddin 1980: 61)

Kolaka sebagai pusat perjuangan dari PRI/KPR yang di umumkan oleh A.Kasim sebagai wilayah Repoblik indonesia pada tanggal 17 september 1945,berhasil diduduki NICA pada jam 14.00 tanggal 7 februari 1946. Jalan kendari Kolaka lebih dahulu di kuasai oleh NICA sedangkan Andolo telah diduduki pula melalui suatu pertempuran sengit pada tanggal 6 pebruari 1946 dalam pertempuran andolo gugur saiman bekas sersan KNIL yang dengan tegas menolak panggilan Wolhof untuk menjadi tantara belanda kembali. Tokoh pejuang andolo semuanya tertangkap diantaranya Aburaera Silondae, Abdullah Silondae,Jakuk Silondae sedangkan pemimpinnya yaitu Ali Silondae saat itu berada di sekitar dalam usaha mencari berita tentang pertempuran. Beberapa hari setelah andoolo di duduki NICA M.Ali silondae tertangkap di wilayah Rate-rate (Bhurhanuddun 1980: 61).

KPR Kolaka mengadakan konsolidasi dalam pengunduran diri menuju ke kolaka Utara (di Distrik Patampanua). Pada saat itu Andi Jemma datu Luwu dan anggota hadatnya beserta keluarga serta para pemimpin PRI/PKR luwu telah pula mengundurkan diridari Palopo ke Latowu (distrik patampanua). Palopo ibukota kerajaan Luwu telah pula diduduki NICA sebelum kolaka di rebut.

Pada siang hari tanggal 7 pebruari 1946 pukul 01.00 ada berita sampai ke Kolaka. Rate-Rate sudah jatuh ditangan tentara NICA, tentara NICA berada di mowewe. Pasukan BBM (Barisan Berani Mati) dipimpin Andi Punna berada di Km-7 dari Kolaka untuk menghadang tentara NICA bila datang melalui jalan raya jurusan Kendari. Pasukan yang berada di kolaka, terdiri atas:

  1. Pasukan Kipas Hitam dari Lasususa Kolaka Utara dipimpin Badawi dibantu Oleh Halise dengan kekuatan 1 regu, 1 Bren dipegang Letnan Ikida Alias Labandu (Si-Pendek)
  2. Pasukan Pemuda Wawo dipimpin Abdul Majid Kekuatan 1 Regu
  3. Pasukan BBM dipimpin Talibbe kekuatan 1 regu
  4. Tenaga bantuan pasukan PKR dipimpin M.Yusuf (Supu Aip)

Tentara NICA berkekuatan:

  1. Satu Kompi dipimpin Kapten Abeyn bernama Kompeni 151
  2. Satu peleton MP (Militer Polisi) dipimpin sersan sambur
  3. Satu Detasemen barisan rakyat dipimpin Kapten Puwatu
  4. Satu Peleton Agen Polisi dipimpin mayor polisi Ta’nang Daeng Pagiling.
KNIL_Inf-I

Tentara KNIL dibawah Komando NICA

Tentara NICA menyerang dari Mowewe potong kompas ke kampung Lomba-Kaluri Lalomaa-Laloeha turun di Km-1 Kolaka. pukul 06.00 tembak menembak terjadi antara tentara NICA dengan pasukan pejuang bersenjata  yang ada di Kolaka. 1 peleton pasukan pejuang bersenjata menahan serangan tentara NICA yang begitu besar jumlahnya. Labandu (Letnan Ikida San) yang memegang Bren Luka tangan kanannya kena tembakan musuh, pasukan pemuda bersenjata lapar dan dahaga belum sarapan pagi dan makan siang sehingga pada pukul 14.00 terpaksa mundur ke kampung Mangolo Kolaka Utara. Kolaka Jatuh ketangan NICA. Tentara NICA tidak menjunjung tinggi Ham  (Hak Asasi Manusia) perlakuan tentara NICA yang biadap, seperti Merampok, membakar rumah-rumah pejuang, tawanan diperlakuakan seperti hewan dianiaya diambil istrinya, dan di tembak mati tanpa melalui pengadilan.

Pada tanggal 8 Pebruari 1946, Aparat pemerintah dan pejuang bersenjata yang mempertahankan Kolaka berada di kampung mangoolo. Pasukan BBM dari pertahanan Km-7 kampung mangoolo baru mundur kekampung Tahoa dan naik perahu ke kampung Mangoolo tanpa melakukan perlwanan yang berarti. Andi Kasim di kampung mangoolo menunggu kapten kabasima dkk dari Pomalaa. Pada pukul 18.00 Kapten Kabasima tiba di kampung Mangoolo naik perahi dari Pomalaa, Kapten Kabasima Langsung bergabung  dengan andi kasim di kawal 1 peleton BBM. Kapten Kabasima (Haji Mansyur) di dampingi oleh seorang pemuda bernama Pakalu yang menjadi Ajudanya. Pada tanggal 9 pebruari 1946, 1 Regu anggota PKR bekas KNIL menyerah (Tidak pernah melakukan perlawanan) dipimpin Ranggamoni pemuda suku timor. pada tanggal 17 pebruari 1946, 1 Regu PKR di keluarkan dari tawanan kemudian dibawa ke Mowewe untuk ditembak matioleh tantara NICA.

Pada tanggal 28 pebruari 1946. pemerintah dan pimpinan KPR luwu mengadakan rapat dengan pemerintah dan pimpinan PKR Kolaka di Latuwo yang dipimpin langsung oleh Datu Luwu A.Jemma. dari pertemuan ini dihasilkan kesepakatan yaitu (1) Latuwu menjadi pusat pemerintahan Repoblik Indonesia di Luwu (2) badan pemerintahan terdiri dari Anggota hadat kerajaan Luwu dengan nama pusat keselamatan rakyat (PKR) (3) untuk mendukung pusat keselamatan Rakyat (PKR)  dibentuk badan gabungan operasi bersama yang intinya terdiri dari dua kelasykaran yang berasal dari Luwu dan Kolaka yang di beri nama pembela keselamatan Rakyat (PKR)  (4) markas ditetapkan di Benteng Batu Putih lebi dari 3 Km ke Hulu Sungai Latuwo.

Pusat keselamatan rakyat merupakan badan pemerintah dan perwijudan jari KNI. Pusat keselamatan Rakyat sulawesi dibentukpertama kali oleh gubernur Sulawesi yang pertama Dr.Ratulangi. cabangnya di bentuk di daerah-daerah, diantaranya : Di luwu dengan anggotanya yaitu: (1) Andi Kaso (2) Andi Pangerang (3) Andi Mappnyompa (4) Andi Hamid mereka ini adalah anggota kabinet dari kerajaan Luwu.

   Sedah rapat penggabungan di Latowu maka susunan pusat keselamatan rakyat adalah sbb:

  1. Andi Kaso (Opu Patunru-petur besar Luwu) sebagai ketua
  2. Andi Mappanyompa (Opu Tumarilaleng) anggota untuk urusan pemerintahan
  3. Andi Pangerang (Opu Pabbicara) anggota untuk urusan kehakiman/kesejahteraan
  4. Andi Hamid (Opu Balirante) anggota untuk urusan seberang
  5. Andi Kasim (Petor-kepala pemerintahan Kolaka )anggota untuk urusan ekonomi keuangan

PKR (Pembela keselamatan Rakyat) yang di bentuk pada tanggal 1 maret 1946 di Latowu, susnan pengurusnya sbb:

  1. Yusuf arif : Kepala staf (ketua)
  2. Andi Akhmad : Wakil Ketua Staf (Wakil Ketua)
  3. Sudirman : Anggota (sekretaris I)
  4. Pingak : Anggota (sekretaris II)
  5. Hasyim pangeran : Anggota (keuangan)
  6. Arsyad  : Anggota (Penghubung)
  7. Mahmud Dg silasa : Anggota (Perbekalan)
  8. Andi Tanriajeng : Anggota (Pertahanan dan Keamanan)

Bagian –bagian

  1. Sudarman : Kepala sekretariat
  2. Pingak : Wakil
  3. Hamzah pangerang : Kepal persenjataan
  4. Andi Mutakallimun : Wakil
  5. Hasyim Pangerang : Kepala perlengkapan
  6. Abd.Wahid Rahim : Perlengkapan
  7. Sumilat : Kepal kesejahtraanpalang merah kesehatan
  8. Benyamin Guluh : Kesehatan
  9. Landau Dg Mabbata : Kepal kepolisian/ketentraman (PKT)
  10. Radhi Tohatemma : Wakil
  11. Sanusi Dg Mallata : Kepal penerangan/Juru Bicara
  12. Supu Yusuf : Wakil
  13. Andi Pangajoang : Pehubungan
  14. Mansyur (Kabasima Taico) : Penasehat Kelasykaran

Pimpinan Harian PKT Yaitu

  1. Abdul Kadir Tokia
  2. R Salampessy
  3. Paddare
  4. Jafar

Penerjang (Panglima)

  1. Andi Tanriajeng : Ketua
  2. Mustafa : Wakil
  3. Mustafa : BS I Komandan
  4. Baso Rahim : BS II Komandan

Barisan Berani Mati yaitu:

  1. S Mahmud : Komandan
  2. Patang : Wakil

Dalam menjalankan operasi, KPR dibagi atas 2 sektur yaitu: Sektor Barat dan sektor timur. Sektor Barat meliputi Pusai kerajaan Luwu (di Palopo) dan sekitarnya sampai di malili, Sedangkan sektor timur meliputi Sulawesi tenggara, Khususnya wilayah Kolak dan kendari. Karena pusat pemerintahan RI Kerajaan luwu berada di sektor timur (Latuo) maka sektor barat di tunjuk A.Hamid (Opu Balirante) yang tempatnya berpindah-Pindah karena sektor barat hampir seluruhnya pada saat itu telah dikuasai oleh NICA. Dalam organisasinya PKR berbentuk suatu kesatuan Devisi yang operasinya dipimpin oleh Staf pemimpin dengan kepala Staf M.Yusuf Arief sebagai puncak pimpinan.

Datu Luwu Andi Jemma diangkat dan didudukkan sebagai panglima Laskar PKR. Divisi PKR luwu terdiri dari 7 resimen dan 1 barisan berani mati yang di percayakan kepada S.S.Mahmud dan guru Patang. Dan tiga pasukan Inti yang disebut Basis (BS) yang masing-masing di pimpin oleh Mustafa, M.Yosef dan A.Baso Rahim, dan pimpinan panglima pertempuran A.Tanriajeng.

Susunan resimen adalah Sbb:

  1. Resimen I Palopo ( 6 Batalyon)
  2. Resimen II Masamba ( 5 Batalyon)
  3. Resimen III Malili ( 3 Batalyon)
  4. Resimen IV Patampanua (Kolaka Utara) yang terdiri dari 5 Batalyon dengan susunan Sbb

1. Batalyon I (Lasusua)

    Komandan                                 : Badawi

    Wakil                                           : Marzuki a. Kompi 1 (Lasusua)

         Komandan                            : Ismail

         Wakil                                      : Salehe

   b. Kompi 2 (Limbung)

        Komandan                            : Abd.Syukur

       Wakil                                      : Salawangeng

   c. Kompi 3 (Katoi)

        Komandan                            : Ahmad

        Wakil                                      : Sampe

  d. Kompi 4 (Awo)

       Komandan                            : Manggang

      Wakil                                      : Muhammad

  e. Kompi 5 (Mala-mala)

      Komandan                            : Wa’na Hadia

      Wakil                                      : Syuaib 2. Batalyon II (Wowu)

     Komandan                             : Abd.Rasyid Mangga

     Wakil                                      : Nahariya

    a. Kompi 1 (Wowu)

        Komandan                         : Abd.Rasyid Mangga

       Wakil                                    : Nahariya

   b. Kompi 2 (Ranteangin)

       Komandan                           : Kaseng

      Wakil                                     : Palancoi

   c. Kompi 3 (Waimenda)

       Komandan                            : Palakia

       Wakil                                      : Arafah

   d. Kompi 4 (Lambai)

        Komandan                            : Muh.Arafah

       Wakil                                      : M.Ali

   e.  Kompi 5

        Komandan                            : Laong

       Wakil                                      : Palandung 3. Batalyon III (Latou)

       Komandan                            : Abd. Hamid

       Wakil                                     : Muh.Amin

   a. Kompi 1 (Latou)

       Komandan                            : La Mere

       Wakil                                      : Lauddin

   b. Kompi 2 (Tolala)

       Komandan                            : Azis

       Wakil                                      : Mansyur

   c. Kompi 3 (Lelawawo)

       Komandan                            : Latang

       Wakil                                      : Abd.Halik

   d. Kompi 4 (Purehu)

       Komandan                            : Langesa

       Wakil                                      : La Misi

   e. Kompi 5 (Larui)

       Komandan                            : Lawi

       Wakil                                      : So Turu

4. Batalyon IV (Batunong)

     Komandan                              : H.Iskandar

     Wakil                                        : Nurdin

   a. Kompi 1 (Batunong)

       Komandan                            : H. Iskandar

       Wakil                                      : Nurdin

   b. Kompi 2 (Kosali)

       Komandan                            : To Hanapi

       Wakil                                      : La Wenua

   c. Kompi 3 (Toaha)

       Komandan                            : La Sanji

       Wakil                                      : La Mentor Dg Macinde

   d. Kompi 4 (Lapai)

       Komandan                            : Situru

       Wakil                                      : M.Ali

   e. Kompi 5 (Tiwu)

       Komandan                            : Abd.Hamid

        Wakil                                      : Laroko

5. Batalyon V (Olo-Oloho)

     Komandan                                      : Beddu Dg Mako

     Wakil                                                : G,Beddu

   a. Kompi 1 (Olo-Oloho)

       Komandan                            : La Kalo

       Wakil                                      : Lasummung

   b. Kompi 2 (Pakue)

       Komandan                            : La Tunggalim

       Wakil                                      : La Naja

   c. Kompi 3 (Lanipa)

       Komandan                            : H.Mallo

       Wakil                                      : La Werru

   d. Kompi 4 (Labipi)

       Komandan                            : La Paddere

       Wakil                                      : La Sammang

   e. Kompi 5 (Pandoho)

       Komandan                            : La Marati

       Wakil                                      : Akhmad Dg Mangassing.

            Resimen V yang wilayahnya di harapkan meliputi kolaka dan kendari serta wilayah Bupinang yang termasuk kekuasaan Buton. Resimen ini belum sempat disusun dengan baik sampai dapat kekuasaan oleh NICA. Kecuali andolo telah dapat menyusun Formasi Batalyon dibawa pimpinan M.Ali Silondae dengan Kompi Kompinya yaitu: (1) Andoolo, (2) Palangga, (3) La Ea, dan (4) Kolono.

            Batalyon Andoolo merupakan batalyon  IV dari resimen V sedangkan Batalyon lain menurut rencana, meliputi Batalyon I Kolaka, Batalyon II Rate-rate, Batalyon III Mowewe/Latoma, sedangkan Batalyon V untuk Bupinang. Bayalyon III yang meliputi lembah bagian hulu sungai Konaweha yang termasuk dalam wilayah Mowewe (Kolaka) dan Latoma (Kendari) hanya dapat menyusun kompi, karena letaknya jauh dari jalan raya kendari Kolaka dan Kompi iti adalah:

  1. Kompi Tawanga
Komandan                                        : J.Poapa

            Kepala Staf                                       : Lahasa

      2.  Kompi Togauna

            Komandan                                        : Putete

            Kepala Staf                                       : Palangga

  1. Kompi Uesi
  2. Kompi Pehanggo
  3. Paopa, Baso, Tete dan Kabora kemudian dapat ditangkap oleh NICA di Rahabangga. Resimen VI dibentuk di Tanatoraja. Resiman VII merupakan Kelasykaran Tanjung bulu di Poso dengan Pimpinannya Sbb:
  4. Abd. Latif Mangitung : Komandan Resimen
  5. Jap Soa Ciong : Wakil Komandan
  6. A.L Pangimanan : Kepala Staf Resimen
  7. I.K Janis :Penasehat
  8. Ong Kek Lae : Penasehat
  9. R.M Kusno Dhanupoyo : Penasehat

            (Bhurhanuddin 1980: 66)

            Disamping pasukan resimen, Batalyon dan kompi di latou ada pula pasukan induk di bawa pimpinan Andi Tanriajeng dan M.Yosef dengan penasehat kemiliteran dan pelatih adalah Mansyur bekas komandan tentara jepang di Pomalaa.Pusukan induk ini merupakan gabungan dari Inti PKR Luwu dan PKR Kolaka.

            Markas Pasukan bertempat di benteng batu Putih suatu tempat dialiran sungai Latou yang dikelilingi oleh gunung batu terjal dan purih mengkilat juka ditimpa sinar matahari. Dilembah sungai terdapat dataran dan Pulau-pulau  kecil di tengah sungai yang ideal sekali untuk dihuni \. Daerah ini dikelilingi oleh gunung batu terjal kecuali ke arah pintu depan yang sempit dan tempat ini juga dianggap paling strategis dan aman untuk di jadikan markas pertahanan. Tidak lama setelah Latou menjadi pasukan pemerintah RI Kerajaan Luwu, Mak Belanda juga berkeinginan menguasai daerah sekitar itu. Sebelum raja Luwu Tiba yaitu Pada 21 pebruari 1946 di matandahi terjadi pertempuran di laut antara pasukan Nica dan pemuda PKR pimpinan La Guli.Pertempuran antara NICA yang menumpang kapal Motor dengan PKR yang mempergunakan perahu tidak mengambil Korbandari pihak PKR malah kapal Motor sempat dibocorkan dan menjauh atas siasat pemuda yang pura-pura sebagai Korban dari perahutenggelam. Sejak itu Latou dan Benteng Batu Putih menjadi titik Tujuan dari semua operasi NICA.

Pada tanggal 11 Maret 1946 Latou diserang oleh patroli NICA tetapi berhasil di ukul mundur walaupun latou dibakar ole NICA. Hari itu juga terjadi pertempuran antara PKR dan NICA di jalan Latou Pureh (Km4). Pasukan PKR dipimpin oleh Mansyur dan Sarilawang (PKR Kolaka). Dalam pertempuran itu di Pihak PKR tidak ada Korban malah dapat merampas  perbekalan NICA yang diangkut dengan Kuda.

            Latou berhasil diduduki NICA pada tanggal 11 Maret 1946 walaupun menjadi pusat pemerintahan terpaksa di tinggalkan oleh PKR dan pindah kebenteng Batu Putih. Sejak 11 Maret 1946 benteng Batu Putih menjadi Pusat pemerintahan dan pusat pasukan inti/induk PKR. Pimpinan PKR melihat bahwa mereka tidak boleh hanya bertahan saja sambil menunggu gempuran Musuh, tetapi harus merencanakan operasi keluar. Kemudian pasuka operasi gabungan disusun ole KPR Luwu dan Kolaka untuk mengadakan serangan terhadap kedudukan NICA di sektor barat. Ekspedisi kesektor barat dilakukan oleh dua pasukan pertama dipimpin oleh M.Josef (KPR Kolaka) dan yang ke dua dipimpin oleh M.Landu Dg Mabbate. M.Yosef amat populer dala ekspedisi ini terutama penghadangan di Buntu Torpedo(Antara Palopo dan Masamba) yang kemudian tempat itu dikenal sebagai Kuburan NICA.

            Dari benteng Batu Putih pula di keluarkan surat yang ditanda tangani oleh datu Luwu sebagai kepala pemerintahhanRI di kerajaan Luwu dan pimpinan PKR, yang ditujukan pada pemerintah RI di Yogyakarta menceritakan keadaan perjuanganrakyat luwu yang mengharapkan bantuan senjata, perbekalan dan lain-lainnya.

Pada tanggal 21 maret 1946  Latou diserang oleh NICA dan dua jurusan dengan maksud menggempur Batu Putih. Serangan atas Latou di mulai jam 09.00 pagi sampai larut malam. Serangan dari Utara(arah Lalewawo) dan selatan (Arah Pakue) dimanfaatka oleh PKR sedemikian rupa sehingga pada malam harinya kedua pasukan itu saling berhadapan dan menggempur dengan tembakan dari kapal perang yang berlabu di muka taou. Malam itu juga pasukan NICA meninggalkan Latou dengan kerugian besar (Bhurhanuddin 1980: 68)

Pada tanggal 2 april 1946 pasukan NICA menggempur Lasusua terletak disebelah selatan dari latou. Perlawanan dari pihak PKR dipimpin Oleh M.Jasi, Badawi, Muhuddin dan Konggoasa. Karena persenjataan NICA lebih Kuat,maka PKR terpaksa mundur dari Lasusua dengan meninggalkan beberapa orang anggota yang Gugur, sementara NICA melakukan perampikan dan pembakaran di Lasusua, kemudian di tinggalkan lagi.

Pada tanggal 10 April 1946 Sebenarnya kolaka telah pernah mengalami serangan dari PKR yang di lakukan oleh M.Ali Kamry beserta beberapa orang pengikutnya dari Wawo. Dala serangan malam itu dapat di tewaskan beberapa orang musuh tetapi Ali Kamry juga tertembak patah Tulang rusuknya namun dapat di selamatkan.

            Setelah gempuran Kolaka itu. Maka patroli NICA diarahkan dengan ketat ke arah utara Kolaka .markas PKR Kolaka yang berpindah-pindah antara Puuwiau, Tomboli, dan lapao-pao selalu di hadang oleh patroli belanda .

Pada tanggal 11-12 April 1946, Tentara Nica merencanakan pembunuhan 10 orang tawanan terdiri atas 3 orang Unsur pemimpin 7 oprang pasukan BBM/bekas anggota tokke Tai. Sehubungan adanya larangan dari ratu belanda yuliana yang tidak memperbolehkan melakukan pembunuhan semena-mena di indonesia, dan pemerintah Raja Bone Andi Pabbenteng agar orang-orang Bugis yang melakukan pemberontakan ,jangan di bunuh tanpa diadili, tentara NICA membentuk pengadilan SOB (Stat Van Oorlagan Belag) Hukum keadaan perang. Pengadilan SOB,terdiri atas:

Ketua                           : Kapten Abeyn Komandan Kompi 151 Morotai

Panitra/Penuntut     : Letnan Moyen Wakil Kapten Abeyn

Penuntut Umum      : Kapten Tetuler Puwatu Komandan detasemen Mowewe

Pembela                     : Sersan Mayor yang Karowan Komandan peleton Komponi Macan

Juru Tembak           : Kopral Hendrik Paraya Komandan regu Kompeni 151.

Pada tanggal 13 April 1946 tentara NICA mengambil 10 tawanan di penjara Kolaka di bawah Operasi di Kolaka Utara. Sewaktu tentar NICA beroperasi di kampung Ranteangin, Daeng parani penghubung pejuang dari pulau jawa (Tegal) di tangkap tentara NICA. Daeng Parani diikat bersama 10 tawanan dari penjara Kolaka. Setelah tentara NICA berada di kampung Lambai tentara NICA mengadakan sidang  pengadilan SOB. Sidang pertama di perhadapkan Daeng parani dengan tuduhan penghubung TRI (Tentara Repoeblik Indonesia) pulau jawa dengan pemuda pejuang bersenjata Kolaka. Sidang memutuskan Daeng Parani dihukum tembak Mati, secara rileks Daeng Parani berdiri melompat hendak merampas senjata Lee Kopral Hendrik Komandan Juru tembak. Andai kata Daeng Parani tidak terikat pasti mencederai tentara NICA. Daeng parani ditembak Mati di kampung Lawekara.sidang kedua diperhadapkan Opu Topatampanangi dengan tuduhan Anggota BPR (Badan Penimbang Revolusi) daerah Kolaka.Keputusan sidang Opu Tapapampanangi dihukum tembak mati. Sebelum Opu Topatampanangi dibawa untuk menerima hukuman tembak mati, timbul dialog antara Kapten Abeyn dengan Opu Topatampanangi.

(KA)    Apakah Tuan Opu Topatampanangi mau minum teh susu atau kopi.

(OT)    Tidak

(KA)    Apakan Tuan Opu Topatampanangi mau ketemu istri dan anak?

(OT)    Tidak

(KA)    Tuan Mau Apa

(OT)    Saya minta diberi kesempatan mengambil air widhu dan sholat 2 rakaat

(KA)    Apalagi permintaan tuan

(OT)    Kalau saya mau ditembak mati mata saya jangan di tutup, dan ditembak didepan supaya saya dapat melihat siapa yang menembak saya, karena pasti saya akan tuntut di hadapan Allah.

            Seluruh permintaan Opu Topatampanangi di kabulkan Kapten Abeyn, selanjutnya Opu Topatampanangi di tembak mati di kampung Lawekara (berdekatan dengan daeng Parani). Sidang ketiga diperhadapkan Supu Rate-Rate dengan tuduhan kepala perbekalan pemerintah RI Distrik Rate-rate sebelum sidang memutuskan kapten Abeyn berdiri dan berdialog dengan Supu Rate-Rate yang dalam keadaan terikat dan telah disiksa oleh tentara belanda (sekujur badan dan muka bengkak bengkak)

(KA)    Apakah benar tuan bernama Supu rate-rate?

(SR)    Mengangguk (tanpa kata-kata karena mulut bengkak)

(KA)    Tuan Supu Rate-rate kenal kapten Antonio sekarang mayor Antoni?

(SR)    Menggeleng dan menjawab lupa

(KA)    Coba Tuan Ingat baik-baik, kapten antonio sewaktu diburu tentara jepang dari kendari, tuan bantu dan selamatkan kapten antonio dengan pasukannya.

(SR)    Barang kali tuan besar (Supu rate-rate mulai sadar dan ingat setelah tali pengikat dilepas diberi kopi susu dan roti oleh sersan mayor yang karowan (Pembela).

(KA)    Ini Orang tuan Supu rate-rate harus ditolong dan diselamatkan, sesuai permintaan mayor Antonio Supu Rate-Rate bebas penih

            Sidang keempat diperhadapkan Indumo daeng makkalu kepala Distrik dan kepala perbekalan pemerintan RI Kolaka. sebelum pemerintah RI Kolaka. sebelum sidang SOB memutuskan, Supu rate rate bersemangat berdiri dihadapan Kapten Abeyn. Supu Rate-rate bertanya kepada kapten Abeyn, apakah saya bisa bicara tuan besar ?

(KA)    Ya,ya,ya Tuan supu rate-rate orang baik kepada kompeni belanda

(SR)    Indomu daeng makkalu sudah 25 tahun bekerja pada  Hindia Belanda tak pernah bikin kesalahan, sewaktu pemberontakan  merah putih tidak pernah bikin kejahatan.

            Dibandingkan Puwatu sewaktu menjadi Kapitan di Mowewe, pernah merampok barang-barang pendeta di daerah mowewe sebelum tentara jepang mendarat dan pernah menjadi mata-mata tentara jepang sehingga terbunuh  1 peleton tentara belanda di kampung sanggona-Tawanga. Kapten tetuler Puwatu sebagai penuntut umum dan pengawalnya Walk out meninggalkan sidang sejauh lebih kurang 100 M. dari tempat sidang SOB ( Sidang Lapangan) ditunda sementara. Kapten Abeyn termenung menggoyangkan kepalanya, karena Puwatu sebagai tenaga bantuan operasional sangat diperlukan tentara NICA untuk merebut benteng batu putih sehingga Puwatu dipanggil kembali menghadiri sidang SOB. sidang SOB dilanjutkan Indomu Daeng Makkalu bebas hukuman mati (Bebas penuh) . sidang kelima diperhadapkan 7 pemuda dengan tuduhan anggota pembantu tokke tai (Mata-mata tentara jepang). Dan anggota inti pemberotak bersenjata melawan tentara NICA di Kolaka. Tujuh pemuda diajukan dalam pengadilan SOB: Abdullah, Abdul Gaffar, Syamsuddin Opu, Budu Latip, Jabarullah, Made Ali, dan abu wahid.

            Sebelum ketujuh pemuda dianjukan kepengadilan SOB Sersan Mayor Karowan selaku pembela dalam sidang,membisikkan pada pemuda,saya ini adalah pemuda Nyiur Melambai Manado, anggota Dr.Ratulangi, kamu jangan takut. Abdullah menjawab “Dee Nalabuu Matanna Essoe di tengngana biterae (matahari tidak terbenam di tengah langit:bahasa bugis) Kematian Allah yang tentukan. Setelah sidang membacakan kesalahan pemuda, sersan Mayor Yan Korawan berdiri dan bicara bahwa pemuda-pemuda ini tidak berontak kalau bukan perintah Indomu Daeng Makkalu kepala Distrik Kolaka dan mereka tidak bisa bergerak kalau tidak diberi makan Supu Rate-Rate bagian perbekalan pejuang, kalau ketujuh pemuda ini di hukum mati, harus Indomu Daeng Makkalu dan Supu Rate-rate juga harus di tembak mati bersama pemuda pemberontak ini. Kapten Abeyn menjawab, pemerintah belanda tidak bisa memutuskan dua kali, kalu sudah bebas hukuman tembak mati harus dipenuhi. Sersan Mayor Korawan tetap ngotot dalam pendiriannya, akhirnya ketujuh pemuda bebas hukuman tembak mati. Karena perintah Puwatu, akhirnya ketujuh pemuda seharusnya bebas, dimasukkan kembali dalam penjara Kolaka.

            Patut dicatat bahwa pasukan atau Kompi PKR di semua tempat hanya terdiri dari pemuda dan Rakyat, umumnya mereka tidak mempunyai senjata yang dapat mengimbangi tentara NICA. Mereka hanya mempunyai beberapa pucuk senjata api, pada umumnya mereka bersenjata Tombak, badik/parang dan ada pula yang bersenjata panah. Pasukan yang agak lengkap persenjataannya adalah pasukan Inti di bawa pimpinan Andi Tariajengdan pasukan asal PKR Kolakayang di pimpin oleh M.Yosef setelah ekspedisi M.Yosef ke sektor barat kembali ke Batu Putih, maka atas permintaan Andi Kasim Kepala pemerintahan RI di Kolaka dan Pimpinan PKR Kolaka.

Pada tanggal 14 april 1946 pasukan PKR dikirim pula untuk menggempur NICA di kota Kolaka dan Pomalaa. Pasukan yang dikirim hanya berkekuatan 15 pucuk senjata api di bawah pimpinan M.Yosef. Supu yusuf turut pula dalam pasukan penggempur posisi NICA di Kolaka.

            Pasukan penggempur yang terdiri dari PKR Kolaka, agak mengecewakan Andi Kasim karena terhadap Pucuk Pimpinan PKR M.Yusef dan anggota PKR Kolaka telah di perintahkan untuk memasuki sektor barat untuk menggempur NICA, malahan ada di antara anggotanya yang gugur di daerah itu.Andi Kasim tidak Puas karena merasa sewajarnyalah serangan kekolaka juga mendapat bantuan dari PKR Luwu. Rupanya kedaan itu turut pula diserahkan oleh M.Yosef sebagai pimpinan pertempuran. Dengan kekuatan yang makin besar di perjalanan menuju Kolaka sampai mencapai 400 orang, PKR Kolaka bertekad untuk menyerang Kolaka walaupun kekuatan senjata tapi amat sedikit

Pada tanggal 17 April 1946, datu Luwu Andi Jemma sudah lama berda di benteng batu putih memanggil Andi Kasim dan Kapten Kabasima ke benteng batu putih. setelah upacara pengibaran Bendera Merah Putih yang diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya, diumumkan terbentuknya PKR (Pembela Keamanan Rakyat). Kapten Kabasima diangkat penaseha t dan pengatur siasat pertahanan dan pertempuran PKR. Komandan PKR Andi Tenriajeng wakil M.Yoseph, Pada tanggal 21 April 1946, Istri Andi Kasim (Andi Abeng sekeluarga) ditangkap tentara NICA di kampung Mala-Mala Kolaka Utara,Andi Abeng sekeluarga ditawan dalam penjara Kolaka.

Pada tanggal 21 April 1946 subuh dengan pecahan pasukan atas 4 kelompok menurut sasaran yang telah ditetapkan kota Kolaka digempur dan berhasildi kuasai oleh PKRselam 6 jam dari Pihak PKR gugr seorang pasukan Panah, sedangkan di pihak NICA Gugur diantaranya Komandan MP. Beberapa orang polisi dan kaki tangan NICA berhasil di tangkap oleh PKR dan merampas beberapa pucuk senjata api termasuk Bren dengan peluruhnya (Bhurhanuddin 1980: 69)

            Maksud gempuran PKR ke kolaka bukan untuk menduduki tetapi sekedar untuk menunjukkan bahwa PKR masih ada dan mampu untuk merebut kembali Kota Kolaka. Setelah serangan dianggap berhasil maka pasukan kembali meninggalkan Kolaka menuju ke utara kecuali satu regu yang langsung dipimpin oleh M.Yosef dan W.Billobao masih tinggal selatan Kolaka

pada tanggal 24 April 1946,PKR Kolaka yang menuju ke utara mendapati markas di Puuwiau yang dipimpin oleh Sarilawang telah diserang dan dibakar oleh patroli NICA . Pasukan PKR terus menyusuri pantai ke utara dan bermarkas di Lataopao dekat lasusua dan kadang-kadang berpindah tempat sesuai dengan strategi dan persediaan makanan. Rupanya ketegangan antar Andi Kasim dan Pucuk pimpinan PKR di Batu Putih sudah meninggi sehingga pasukan PKR Kolaka tidak langsung bergabungke benteng Batu Putih. Andi Kasim kemudian secara resmi meninggalkan Batu Putih.

Pada tanggal 27 April 1946, Kapten Kabasima berpendapat bahwa Kolaka harus direbut dan pada pukul 05,00 Kolaka diserang PKR dan berhasil dikuasai selama 6 jam (dari pukul 06.00 s/d 12.00). serangan ini dinamakan Serangan Malam Jumat atau serangan fajar dan serangan 6 jam di Kolaka. Serangan 27 April 1946,pihak pejuang bersenjata merebut beberapa pucuk senjata dan 1 Brenserta membunuh beberapa orang tentara NICA , antar lain Sersan Sambur Komanda MP (Militer Polisi) sektor Kolaka.setelah ada bantuan dari Kota Kendari dan Pomala.Kolaka ditinggal pejuang bersenjata,Kolak dikuasai tentara NICA kembali. Beberapa anggota BBM (barisan berani mati) luka-luka akibat pecahan granat, dan seorang anggota pemuda Wowo (muhammad Ali) luka parahbagian dadakemudian 2 anggota BBM (Baco Puttiri dan Sarulah) ketiduran disergap rakyat Laloeha yang dipimpin Laloeha kepala Kampung Laloeha.

Pada tanggal 29 April 1946 Baci Puttiri dan sarullah (Anggota BBM) disiksa dipaksa untuk menunjukkan tempat konsulidasi pejuang bersenjata Kolaka. Kampung pobiau sebagai markas dan tempat Konsolidasi pejuang bersenjata,diserbu tantara NICA ,pasukan pemuda bersenjata kocar kacir setelah diserang tentara NICA .terbatasnya persediaan makanan dan kurangnya amunisi, sehingga beberapa anggota pasukan pejuang bersenjata menyerah setelah terjadi pertempuran, M.Yoseph dan Andi Kamaruddin ketua PRI Kolaka tertangkap dan ditawan.

Perpecahan diantara pejuang terjadi pada sekitar pertengahan bulan Mei 1946. Dengan demikian pasukan PKR Kolaka dengan usaha sendiri berusaha menggempur musuh pada setiap kesempatan. Supu Yusuf dan Konggoasa denganpasukan kecil mengadakan operasi penghadangan terhadap NICA di jalan –jalan poros kendari Kolaka.

Yosef setelah menggempur Kolaka untuk menyerang Pomalaa bertemu dengan patroli NICA di Huko-Huko (dekat Pomala) pada tanggal 4 mei 1946, segera terjadi pertempuran sengit, dalam pertempuran pasukan M.Yosef dua orang Gugur yaitu Dg Parukka dan Bolak. Karena kehabisan peluru M.Yosef dan W.Billibao dapat di tangkap oleh NICA, dengan tertangkapnya Yosef maka Kolkaka telah kehilangan seorang Pimpinan pertempuran yang berani dan berpengalaman.

Pada bulan mei 1946, sebagian anggota PKR Luwu dan Kolaka, mengadakan gerakan operasi di daerah palopo-malili dan sebagian ke daerah Kolaka. Sebagian Anggota PKR berjaga-jaga dedepan benteng batu Putih. Andi Kasim dan Kapten Kabasima meninggalkan Benteng Batu Putih,ada perasaan tidak senang atau gelisah tinggal dalam benteng Batu Putih, Tentara NICA menyerang masuk ke benteng Batu Putih melalui jalan belakang Benteng. Datu Luwu dan keluarganya serta rakyat pengikut Datu Luwu tertangkap delanjutnta di tawan di Kolakakemudian di bawa ke Palopo. Benteng Batu Putih jatuh. Pasukan PKR Kolaka dan PKR Luwu kocar Kacir kekurangan persediaan makanan,obat obatan dan mesiu.

            Andi Tenriajeng dan pasukannya tertangkap bersama beberapa pasukan PKR Kolaka, Haji Abdul Wahid lolos meninggalkan daerah Kolaka ke sulawesi selatan. Sebagai Kelompok-kelompok kecil bersenjata di derah Kolaka melakukan perkuangan bergerilya seperti:

  • Konggoasa Latambaga dengan pasukannya.
  • Nur Latamoro dengan pasukannya.
  • Supu Aip dengan pasukannya.
  • Andi Punna dengan pasukannya.
  • Andi Kasim bersama Kapten Kabasima bergerak berpindah pindah dengan pengawalnya.

Gerakan pejuang bersenjata tambah sempit dan terjepit, dan mundur setelah melaui pertempuran yang tidak seimbang,akhirnya beberapa pasukan Gugur dan menyerah akibat kekurangan dan terdesak serta bujukan kaki tangan tentara NICA bahwa NIT ( Negara indonesia Timur) akan terbentuk, tentara-tentara jepang yang ikut dalam perjuangan bersenjata lebih baik mati bertempur atau bunuh diri daripada menyerah pada tentara NICA. Kapten Kabasima Gugur dikampung Lada Kolaka Utara. Bujukan anggota Nevis ( Kakitangan tentara NICA). Semua anggota pemerintah dan pejuang bersenjata Kolaka (Bergerilya) di daerah Jeneponto dan daerah Enrekang bergabung pejuang bersenjata Massenreng Pulu-Cakke yang dipimpin Andi Sose.

pada tanggal 21 mei 1946 markas Puuwiau kembali diserang dengan tiba-tiba dimana beberapa pucuk senjata PKR hilang dan beberapa orang pasukan Gugur dan ditawan belanda

            Selanjutnya tekanan kepusat Benteng Batu Putuh di perketat, pada 21 mei 1946 datang laporan ke benteng Batu Putih yang mengatakan bahwa:

  1. Dipantai Latou (seblah Barat) telah berlabu sebuah kapal perang belanda tetapi pasukan belum di daratkan
  2. Di Lelewawo (seblah Utara Latou) terlihat pasukan NICA di perahu sedang bergerak ke Latoy
  3. Di Pakue (sebelah selatan Latou) pasukan NICA telah mendarat membakar rumah, dan penduduk menyingkir selanjtnya NICA telah membuat pos di daerah itu
  4. Pesawat udara selau mengintai dari udara dan sering terbang rendah diatas benteng Batu Putih.
  5. Laporan terahir menyatakan bahwa pasukan NICA telah mendarat dan berpos di Latou (Bhurhanuddin 1980: 70)

Dari kedaan ini telah di pastikan bahwa Benteng Batu Putih telah di ketahui musuh senagai markasPKR dan tempat persembunyaian dari datu Luwu dan pengikutnya. Memang hal ini telah diduga sebelumnya sehingga telah direncanakan oleh pimpinan pemerintah dam pimpinan PKR untuk mencari markas baru. Rencana ini belum dapat di laksanakan karena musuh telah berada di depan benteng yang siap untuk menggempur.

      Setelah kedaan di analisa, maka kubu pertahanan di depan benteng di perkuat dan persediaan makanan di usahakan sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat-singkatnya. PIMPINAN PKR masih tetap yakin bahwa Benteng Batu Putih dapat di pertahankan. Satu satunya jalan untuk merebut benteng adalah dari depan,sedangkan arah kiri/kanan dan belakang sangat sulit karena dinding batu alam yang terjal yang sulit di tempuh oleh manusia. Segenap pasukan PKR dengan kekuatannya di bawa pimpinan Panglima pertempuran A.Tariajeng ditempatkan di depan bentengyang menghadap ke barat ke arah Latou. Dibagian belakang  hanya di tempatkan beberapa orang bersenjata tajam sekedar sebagai penjaga. Rupanya atas penyelidikan Belanda diketahui bahwa memasuki benteng dari depan adalah tidak mungkin maka di putuskan untuk menduduki benteng dari arah belakang informasi ini di peroleh NICA melalui pengamatan  dari udara dan anggota PKR kolaka yang di tawan antaranya M.Yosef. Malah M.Yosef dengan tangan di belenggu dipaksa sebagai penunjuk jalan dengan melintasi hutan dan gunung menuju arah belakang benteng.

      Pasukan NICA yang menyerang Benteng Batu Putih adalah pasukan dari Kendari di bawa Pimpinan Letnan Venick dengan bantuian cadangan dar tentara NICA dari Palopo (Luwu) di bawa pimpinan letnan Tupang.

Pada subuh hari tanggal 2 Juni 1946 pasukan Letnan Vanick mulai menuruni tebing-tebing batu di bagian belakng benteng batu putih tanpa perlawanan sama sekali seluruh penghuni benteng termasuk Datu Luwu pda jam 09.00 pagi telah dapat di tawan oleh belanda, setelah itu barulah pasukan PKR yang berada di depan Benteng di beri Tahu setelah Andi Tanriajeng panglima pertempuran mendengar kabar tersebut dengan segera mengundurkan seluruh pasukannya ke arah selatan secara bergelombang dam berkosulidasi sekitar Lanipa serta berusaha untuk bergabung kembali dengan pasukan PKR Kolaka untu secara bersama-sama melanjutkan perlawanan menghadapi musuh. Datu Luwu bersama permaisurinya pada tanggal 3 juni 1946 di bawa ke Palopo sedangkan tawanan lainya antaranya 100 orang wanita di angkut melalui laut ke Kolaka A.Tanriajeng berhasil mengkonsulidasikan pasukan PKR di lanipa.

Pada tanggal 3 Juni 1946 Andi Kasim kembali menyerang Kolaka dan Pasukannya,Andi Kasim pada saat itu bersikap sebagai, pemimpin pasukan dari pada sebagai kepala pemerintahan. Di dalam pasukan  Andi Kasim termasuk pula Sarilawang H.Wahid, Baso, Umar dan 2 orang bekas tentara jepang yaitu Mansyur (Kabasima Taici) dan sukri. tetapi serangan ini gagal, pasukan Andi Kasim Kocar Kacir, Andi Kasim tertangkap , Sarilawang menyerah denga Brennya , sedangkan Andi Wahid dan baso Umar lari menyelamatkan diri. Kedua orang jepang yaitu Mansyur dan Sukri bersembunyi di Hutan-hutan dan kemudian bergabung dengan M.Ali Kamry di Wawo, Andi Punna dan Kawan kawan ( abu Baeda, Sampe dan Lain-lain) lari dengan perahu dan kemudian berjuang di jawa.

Setelah tertangkapnya andi kasim dan pasukannya kocar-kacir malah ada di antaranya yang diduga berkerja pada belanda , maka perjuangan di teruskan oleh M.Ali Kamri, Majud Yunus dan kawan-kawan di samping adanya Supu Yusuf dan Konggoasa. Dimana ada kesempatan Bendera Merah Putih tetap dikibarkan.

bendera kerajaan

Bendera Merah Putih Pusaka Kerajaan Mekongga

      Bendera tersebut adalah warisan dari Sangia Nibandera seorang Bokeo Mekongga yang memerintah pada abad  ke -17 dalam siasatnya M.Ali Kamry dan Maji Yunus membuat Kubu-Kubu pertahanan yang sukar di dapat oleh nICA namun setelah kekuasaan NICA semakin Mantap keduanya membolehkan rakyat meninggalkan Kubu-kubu tersebut. M.Ali Kamry dan Majid Yunus sendiri kemudian meninggalkan kubu-kubu dan berangkat ke sulawesi selatan (Makassar) melalui balanipa (Sinjai) dan melewati Pos-pos pemeriksaan NICA untuk mencari Informasi tentang perjuangan. Selam berada di selawesi selatan sempat membatu KERIS MUDA bala nipa malah sempat mengadakan penghadangan dan merampas senjata. Dari balanipa mereka sempat mengirim surat pada Supu Yusuf dan Konngoasa  di Wawo supaya terus berjuang dan berjanji akan ketemu di Wawo. Supu yusuf dan Konggoasa merupakan Dwi Tunggal perjuangan di sulawesi tenggara khususnya Kolaka Utara yang tetap mengobarkan perjuangan selama keberangkatan M.Ali Kamri dan Majid Yunus . Mereka dengan setia menderita di hutan-hutan dan mengadakan sergapan atau penghadangan dimana-mana ada kesempatan kedaan ini berlangsung sampai terbentuknya NIT pada 24 desember 1946.

      Pada saat itu banyak pemuda-pemuda asal sulawesi tenggara yang melanjutkan atau turut berjuang di jawa antaranya:

  1. Andi Punna
  2. Abu Baeda
  3. Hamzah Pangerang
  4. Edy Sabara
  5. Hamid Langkosono
  6. Husen Sosidi dan Lain-lain
  7. Di sulawesi Selatan adalah Majid Yunus dan M.Ali Kamry.

Pada tanggal 10 juni 1946 A,tanriajeng di datangi oleh suatu delegasi yang membawa surat ancamanyang amay berat baginya. Demi keselamatan datu Luwu dan juga seluruh pimpinan keluarganya yang ditawanA.Tariajeng dan segala pasukan PKR dan semua persenjataan menyerah pada NICA.

      Namun demikian perjuangan PKR Kolaka masih terus oleh pasukan 6 kampung (Wawo,Wolo, Woimenda, Ranteangin,Pohu dan Lambai) di bawa pimpinan M.Ali Kamry dan majid Junus. Selai itu Supu Yusuf  dan Konggoasa dengan pangikutnya masih bertekad untuk melanjutkan perjuangan. Dapat dikatakan bahwa pada saat daerah “de Facto” RI di sulawesi tenggara hanyalah ke enam kampung tersebut diatas.

Pada tanggal 12 juni 1946 Sesudah penyerahan A.Tanriajeng, yang amat mengecewakan PKR Kolaka maka  M.Ali Kamry dkk mengadakan konsulidasi dan bertekad untuk melanjutkan perjuangan.

Pada bulan Juni 1946, Andi Punna Pimpinan BBM di bantu abu baeda dan bakil Dahlan mengkoordinir 1 regu pemuda bersenjata untuk ke Sulawesi Selatan dengan naik perahu Lambo (Perahu Bugis) ukuran 7 Ton, Andi Punna bersana 4 Awak perahu meninggalkan dusun donggala Tamboli Kolaka Utara menuju Sulawesi Selatan. Perahu Lambo yang digunakan Andi Punna rapat di kampung dikampung mare Bone, tiba-tiba keempat anak perahu menghilang meninggalkan perahu tanpa izin, Andi Punna khawatir, jangan sampai perjalanan bocor, Andi Punna dkk berlayar tanpa anak kapal perahu dan perlengkapan (Kompas dan makanan/air minum). Andi Punna merencanakan mendarat di derah Polongbangkeng Jeneponto. Ombak besar sulit merapat dipinggir pantai yang mereka tidak kenal situasi pantainya. Mereka berlayar terus lebuh kurang 15 hari 15 malam sampai di pulau jawa, mendarat di kampung Saloke-Rembang Jawa Timur,ke Jogjakarta menemui Letkol Kahar Muzakkar.

Pada bulan juli 1946, Andi Punna dkk masuk kesatuan TRI (Tentara repoblik Indonesia) persiapan sulawesi pimpinan Letkol Kahar Muzakkar di jogjakarta. Abu Baeda masuk pendidikan militer melalui Yon 3135 resimen siliwangi (Tentara Pelajar). Pada bulan desember 1946, terbentuk Bekaspedisi persiapan sulawesi (Komandan persiapan Sulawesi dipimpim Mayor Andi Mattalatta), dan mayor sala Lahade. Akhir desember 1946, tentara bekaspedisi persiapan sulawesi dari pulau jawa dikirim ke sulawesi. Abu Baeda berpangkat sersan dan beberapa temannya mendarat di kampung aikang Jeneponto ke Polong bangkeng bergerilya. Bakiel Dahlan alias sarilawang pangkat sersan dan beberapa temannya dari Kolaka, Masuk Pasukan Kapten Andi Sarfin, mendarat di kampung Mangkoso Barru.

Andi-Mattalatta1-300x192

Batalyon Andi Matalatta

Pada 3-5 April 1950 diadakan konferensi antara RIS, NIT, dan NST. Keputusannya: untuk membentuk negara kesatuan. Kedua negara bagian memberikan mandat kepada Hatta untuk berunding dengan Republik Indonesia.

Pada tanggal 30 April 1950 Pemuda Republik Indonesia (PRI) Kolaka (yang dibentuk pada tanggal 17 September 1945) mengadakan rapat dan keputusannya adalah:

  1. Selekas mungkin semua negara bagian yang ada di seluruh Indonesia yang belum melebur dirinya masuk Republik Indonesia lekas membubarkan dirinya , supaya menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia
  2. Supaya NIT dibubarkan dan dilebur masuk menjadi bagian dalam NKRI
  3. TNI didatangkan ke Kolaka

Pada tanggal 12 Juni 1950 terbentuklah KNI yang beranggotakan 15 orang diketuai oleh Ch Pingak, dengan keputusan:

  1. Di Indonesia hanya ada satu pemerintah yaitu Pemerintah Republik Indonesia yang berdasarkan Proklamasi 17 Agustus 1945.
  2. Anggota-anggota swapraja bentukan Belanda harus mengundurkan diri dan diganti satu Dewan Pemerintah Daerah dan didampingi Dewan Perwakilan daerah.konggoasa
Kenyataan dari putusan ini semua Anggota Swapraja Mekongga mengundurkan diri dan terbentuklah Dewan Pemerintah Daerah Kolaka yang terdiri dari
  1. Konggoasa (Ketua)
  2. Baso Umar (Anggota)
  3. M Nur Latamoro (Anggota)

Pada tanggal 15 Agustus 1950, Sukarno menandatangani UUD Sementara Republik Indonesia (UUDS 1950). Dua hari kemudian, 17 Agustus 1950 bertepatan dengan peringatan lima tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia, RIS secara resmi dibubarkan dan Indonesia kembali ke bentuk negara kesatuan.

thumbSUKARNO_WIR_0043

Pidato Presiden Sukarno tgl 17 Agustus 1950

Tanggal 24 Agustus 1951 pada suatu pertemuan di Kendari yang diadakan oleh Kepala Afdeling Buton dan Laiwoi dengan pemerintah-pemerintah setempat dan pemuka masyarakat Sulawesi tenggara yang dimaksudkan untuk menentukan letak kedudukan ibu kota Sulawesi Tenggara, karena waktu itu Buton yang menjadi Ibukota Negeri  ,kesimpulan pertemuan adalah bahwa Kolaka dan Kendari menuntut Kabupaten tersendiri,Selanjutnya beberapa organisasi politik yang ada di Kolaka membuat pernyataan, menuntut agar Daerah Kolaka yang berstatus Kewedanan menjadi kabupaten tingkat II ( Kabupaten Kolaka).

Pada tanggal 26 Mei 1957 antara utusan Panitia Pelaksana Persiapan Kabupaten Sulawesi Timur dengan wakil-wakil rakyat Kolaka tidak menyetujui kehendak Panitia Pelaksana Persiapan Kabupaten Sulawesi Timur dan pihak Kolaka menghendaki supaya keputusan panitia itu ditarik kembali, akan tetapi Kendari tetap mempertahankan keputusan Panitia Pelaksana Persiapan Kabupaten Sulawesi Timur, sehingga rapat yang diadakan itu tidak dapat membawa keputusan yang diinginkan. Akibatnya, pada tanggal 17 Juni 1957 mengeluarkan pernyataan dengan tegas tidak menyetujui penempatan ibukota Kabupaten Sulawesi Timur di Kendari dan mendesak pemerintah pusat supaya penempatan Kabupaten Sulawesi Timur berkedudukan di Kolaka. Dengan munculnya keinginan untuk membentuk kabupaten tersendiri, menyebabkan gagalnya pembentukan Kabupaten Sulawesi Timur.

Pada tanggal 20-22 Juli 1959 diadakanlah musyawarah antara kewedanan di Kabupaten Sulawesi Tenggara yang berlangsung di Kewedanan Kendari, dan dihadiri oleh utusan dari Kewedanan Buton, Muna, Kendari dan Kolaka masing-masing berjumlah 15 orang dan 5 orang dari staf Kantor Bupati Kepala Daerah Sulawesi Tenggara. Dalam rapat itu hadir pula Kepala Pemerintahan Negeri Buton H. Abdul Malik, Kepala Pemerintahan Negeri Muna diwakili Asisten Residen Wedanan A.R. Muntu, Kepala Pemerintahan Negara Kendari diwakili oleh Anas Bunggasi dan Kepala Pemerintahan Negeri Kolaka Abdul Wahab dan wakil-wakil dari setiap swapraja sebagai peninjau dalam musyawarah (Monografi, 1997:99).

Pada tanggal 29 Februari 1960.

Dengan ditetapkan Undang Undang Nomor 29 Tahun 1959, tentang pembentukan 4 Daerah otonom Tingkat II sebagai realisasi Pemekaran Kabupaten Sulawesi Tenggara. Kemudian diperkuat dengan SK Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, tentang pengangkatan para Kepala Daerah Tingkat II Kolaka dengan ibukota Kolaka. maka dilantiklah Kepala Daerah Yakub Silondae,

pelantikan

Pidato Pertama Bupati Silondae sesaat setelah pelantikan 1960

       

          .