SEJARAH MEKONGGA

SEJARAH KERAJAAN MEKONGGArumah adat

inae

PERSEBARAN PENDUDUK TAHAP AWAL

Penduduk di wilayah Kolaka pada tahap awal dikenal To Unenapo yang merupakan penduduk mayoritas. Selain itu terdapat pula suku yang memiliki populasi relatif kecil seperti: To Laiwoi dan To Aere yang hidup secara berkelompok berdasarkan etnisnya di wilayah Kecamatan Pakue, Lasusua, Mowewe, Uluiwoi, Ladongi, dan Lambandia.

Suku bangsa tersebut tersebar di wilayah Kolaka melalui gerak persebaran suku-suku yang ada di Sulawesi Bagian Tangah, dan Bagian Timur yang berpusat di Danau Matana, Mahalona dan Towuti. Setelah beberapa lama bermukim di wilayah tersebut, kemudian mereka berpencar ke wilayah-wilayah seperti: Luwu Sulawesi Selatan, Mekongga, Konawe, Poso, dan Bungku. Nenek moyang Orang Mekongga kemudian membentuk perkampungan yang disebut Napoaha (napo=pusat pemukiman; aha=luas/besar), diantara pemukiman merek aterdapat diantara Lalowa dan Andolaki.

rumah asli mekongga

Sampai sekarang ciri persamaan dari etnis-etnis yang ada di wilayah ini masih nampak dengan jelas baik dari segi bahasa maupun pakaian adat seperti nampak dengan jelas ketika terjadi pentas budaya dalam festival internasional di Masamba Desember 2003. Jenis tarian dan pakaian adat secara jelas memperlihatkan adanya persamaan di antara mereka, khususnya dari corak dan warna pakaian adat/tarian tradisional yang mereka tampilkan.

To Moronene dan To Laiwoi merupakan penduduk yang mula-mula mendiami daerah Unenapo (Kolaka) yang kelak menjadi wilayah Kerajaan Mekongga. Informasi mengenai To Laiwoi ini menyatakan bahwa di aliran Sungai Konaweha bagian hulu sampai ke Pakue (Kolaka Utara) dahulu dihuni oleh orang To Laiwoi di wilayah Kodeoha, jumlah mereka relatif kecil yang berdiam di pedalaman Kecamatan Rate-rate, Ladongi, Mowewe, dan sebagian di wilayah Kecamatan Pakue dan Lasusua. Sedangkan To Moronene di pedalaman Wundulako dan Watubangga.

penduduk asli kolaka

Istilah Laiwoi dalam Bahasa Mekongga dari kata To = orang, La = batang/pinggir, Iwoi = air. Artinya orang yang hidup di batang/pinggir air. Disekitar itu dulunya juga hidup To Aere (Bahasa Moronene= orang hidup di sekitar air). To Laiwoi dan To Aere yaitu orang di air (hidup di dekat sungai) adalah penduduk pertama Daerah Kolaka dan Kendari (Bhurhanuddin, 1981: 126). Termasuk Ladongi, dan Lambandia. Kelompok etnis tersebut hidup di pedalaman.

Pemaparan di atas dapat ditafsirkan bahwa kata To Laiwoi berasal dari kata To “Orang” La atau Ala = Sungai “ aliran” iwoi berarti air. Jadi To Laiwoi adalah orang yang mendiami aliran sungai, aliran sungai yang dimaksud yaitu hulu sungai Konaweha. To Laiwoi dan To Aere, hidup secara berkelompok di pedalaman Kabupaten Konawe dan Kabupaten Kolaka (Kecamatan Unaaha Kabupaten Konawe Kecamatan Pakue, Lasusua, dan Mowewe Kabupaten Kolaka) (Nsaha, 1978: 8).

Eksistensi To Laiwoi/To Laiwuri diungkapkan pula oleh Tarimana (1985: 37) bahwa penduduk asli yang berdiam di wilayah Kerajaan Mekongga atau Kabupaten Kolaka sekarang menamakan dirinya Orang Unenapo, mereka yang berdiam di wilayah Kerajaan Konawe, yakni bagian wilayah Kabupaten Konawe sekarang menamakan dirinya Orang Konawe atau Orang Tolaki, dan bagian utara Kerajaan Konawe dan bagian utara Kerajaan Mekongga menamakan dirinya To Laiwoi.tolaki

Orang Mekongga berasal dari satu rumpun dengan penduduk di sekitar Danau Matana dan Danau Mahalona, selanjutnya terjadi migrasi kemudian sampai di Alaaha, kemudian sebagian dari kelompok mereka melewati Gunung Watukila atau Pegunungan Mekongga, kemudian membelok ke arah barat dan sampai di daerah Unenapo. Toono Dadio selaku penduduk baru belum ada marga maupun sukunya. Setelah tinggal beberapa di daerah ini kemudian terbentuk beberapa wilayah pemukiman kecil, seperti: Alaaha, Rahambuu, Ueesi, Parabua, dan Sanggona, kelompok masyarakat tersebut dikepalai seorang yang disebut Owati (penguasa), daerah kekuasaannya diberi nama Wonua Unenapo.

Sumber lain mengungkapkan bahwa nenek moyang Orang Mekongga bermigrasi dari Danau Mahalona kemudian mereka tersebar melalui Sungai Lasolo, kemudian mereka menetap di daerah Wawolesea Pesisir, tepatnya di Matarape (Matatehae) mereka berkembang sekitar 7 generasi, tetapi akibat datangnya gangguan bajak laut, mereka menyelamatkan diri menyingkir ke daerah lembah aliran sungai Landawe.

  Pada mulanya masyarakat di daerah ini berladang dan tinggal dalam suatu komunitas terkecil dikalangan masyarakat yang disebut tobu, yaitu suatu wilayah pemukiman yang sama kedudukanya dengan kampung atau desa sekarang ini.

             Dari usaha peladangan inilah sehingga terbentuk beberapa tobu (Okambo) yang dipimpin oleh seorang Tonomotuo (Orang Tua). Adapun tobu atau okambo tersebut adalah sebagai berikut: 1. Toono Motuo I Puehu (Wundulako) 2. Toono Motuo I Tikonu (Silea) 3. Toono Motuo I Sabilambo 4. Toono Motuo I Lalombaa 5. Toono Motuo I Lambo (Mowewe) 6. Toono Motuo I Puundoho (Baula) 7. Toono Motuo I Poondui

       Ke tujuh tobu/okambo tersebut diatas adalah merupakan kampung atau tempat tinggal pertama kelompok rombongan yang menyusuri/mengikuti lereng pegunungan mekongga.

7toonomotuo

Ke tujuh Toonomotuo terakhir sebelum diganti dengan Kepala Kampong oleh Pemerintah Hindia Belanda

      Pada saat itu hidup seekor burung raksasa yang dinamakan KONGGAAHA, istilah konggaaha berarti elang besar (Kongga : Elang. Ha : menunjukkan besar). Konon ceritanya burung elang tersebut besarnya tujuh kali lipat kerbau putih (Karembau pute). Burung tersebut sangat buas, karena disamping memakan hewan seperti kerbau juga memangsa manusia, sehingga semua masyarakat penghuni ketujuh tobu/okambo tersebut dibuat tidak tentram dan selalu dicekam dengan ketakutan. Sudah banyak cara yeng mereka lakukan untuk membunuh burung kongga tersebut, namun selalu sis-sia.

      Bersamaan itu pula pada akhir abad X disuatu bukit yang bernama bukit kolumba yang terletak didesa balandete, telah turun seorang lelaki dan perempuan kakak beradik. Mereka mengendarai sarung bersar (Toloa Mbekadu) atau sewuuha yang diantar oleh angin sakti , mereka adalah Larumbalangi dan Wekoila yang kelak menjadi ANAKIANO WANUA (Bangsawan yang memimpin negeri). Masyarakat tolaki percaya bahwa mereka berdua adalah merupakan tetesan dewata yang agung, sehingga mereka dianggap sebagai dewa (Sangia).

      Kedatangan mereka berdua di Kolumba diketahui oleh para toonomotuo sehingga ketujuh pemimpin tobu tersebut mengadakan musyawarah dam bersepakat untuk menemui Larumbalangi menceritakan tentang kebuasan burung elang besar (Konggaaha).

      Permohonan ke tujuh toonomotuo tersebut diterimah oleh Larumbalangi dan dilaksanakanlah upacara pembunuhan burung Konggaaha yang terkenal dengan lima kata mufakat, yaitu:

  1. Setiap masyarakat penghini tobu menyediakan bambu runcing ( Osungga).
  2. Disiapkan seorang manusia sebagai umpan.
  3. Sebuah pohon ditata dahannya sebagai tempat Larumbalangi berdiri.
  4. Disiapkan Gong, lesung dan alat bunyi-bunyian lainnya yang akan dipukul untuk menarik perhatian burung konggaaha.
  5. Perempuan dan anak-anak mencari tempat perlindungan sedangkan laki-laki dewasa harus siap dengan segala alat.

      Berkat Strategis taktik yang dilakukan oleh Larumbalangi maka burung konggaaha tersebut dapat terbunuh dan dengan terbunuhnya konggaaha maka bersepakatlah ketujuh toonomotuo penghulu tobu untuk megangkat Larumbalangi menjadi  pemimpin mereka dan dikukuhkan menjadi raja pertama dikerajaan Mekongga dengan bergelar SANGIA LARUMBALANGI. Adapun ketujuh tobu (Toonomotuo) tersebut kelak menjadi daerah istimewa dan mempunyai hak untuk turut serta dalam memusyawarakan pemilihan dan pelantikan raja.

patung mekongga

      Dinamakan kerajaan Mekongga  karena daerah ini merupakan tempat terbunuhnya burung Konggaaha tersebut.

Mekongga mempunyai arti sebagai:

Me : Merupakan awal kata yang berarti melakukan sesuatu kegiatan

  • Kongga : Nama burung (Elang)
  • Jadi Mekongga :Melakukan suatu kegiatan dengan membunuh burung Kongga ( Elang).

      Bahkan sampai sekarang didaerah kecamatan Wundulako, ada sebuah sungai dan kampung yang diberi nama Lamekongga. Sungai tersebut menurut cerita adalah tempat jatuhnya burung konggaaha tersebut sebelum kembali menerjang mangsanya. Sedangkan tempat burung tersebut terbang berputar-putar setelah kena tombak dan keris Sangia Larumbalangi, tanahnya menjadi merah oleh tetesan darah burung Kongga tersebut. Konon kabarnya setelah kongga tersebut terluka maka burung itu terbang selama satu hari melewati daerah pomalaa, Kolono, Malili, Wulasi, Asera, Lanowulu dan Amesiu.

Terbentuknya Kerajaan Mekongga

capture24

Terbentuknya Kerajaan Mekongga terkait dengan tradisi lisan tentang kedatangan Sangia yaitu orang dari atas (langit) yang berarti bukan orang ddari daerah setempat atau bukan orang kebanayakan, ia dianggap orang hidup di satu dunia lain, yaitu dari luar daerah, masyarakat setempat menyebut Iwawo Sangia atau kediaman dewa-dewa. Mereka yang berasal dari dunia ini, disebut Sangia (Sanghiang). Generasi mereka ini disusun menurut waktu pemerintahan sebagai berikut: 1. Pemerintahan Anakia Larumbalangi (Sangia Ndudu) 2. Pemerintahan Anakia Lakonunggu (Sangia Bubundu) 3. Pemerintahan Anakia Malanga (Sangia Menggaa) 4. Pemerintahan Anakia Lagaliso (Sangia Mbendua) 5. Pemerintahan Anakia Lamba-Lambasa (Sangia Rumbalasa) 6. Pemerintahan Bokeo Lombo-lombo (Sangia Sinambakai) 7. Pemerintahan Bokeo Teporambe (Sangia Nilulo) 8. Pemerintahan Bokeo Laduma (Sangia Nibandera) 9. Pemerintahan Bokeo Lapobandu (Sea i Kapu-kapu) 10. Pemerintahan Bokeo Lasipala (Sea i Puuduria) 11. Pemerintahan Bokeo Lasikiri (Sea i Puuduria) 12. Pemerintahan Bokeo Pobe (Sea i Lombosia) 13. Pemerintahan Bokeo Mburi (Perempuan) (Sea i Wundulako) 14. Pemerintahan Bokeo Bioha (Sea i Wundulako) 15. Pemerintahan Bokeo Latambaga 1906-1932 (Sea i Kambobaru) 16. Pemerintahan Bokeo Indumo 1932-1945 (Opu Daeng Makkalu). 17. Pemerintahan Bokeo Guro 1945-1949 (Opu Daeng Makkalu). 18. Pemerintahan Bokeo Puwatu 1946-1950 (Diangkat Oleh NICA menggantikan Bokeo Guro yang mau ditangkap).

bokeo latambaga

Bokeo Latambaga 1906 - 1932  (Bokeo terakhir Saat Belanda Masuk Ke Mekongga) Bokeo selanjutnya diangkat untuk pelestarian adat saja karena yang berkuasa adalah Controeleur

Manusia yang tadinya hidup dalam ketakutan, kekacauan atau penderitaan, kemudian hidup dengan tentram, aman dan bahagia. Manusia bertambah banyak dan penyebarannya makin melebar mendiami daerah yang luas itu, terutama menyebar ke Selatan dan mendiami pantai-pantai sepanjang Teluk Bone. Setelah pemerintahan Indumo masih ada dua Bokeo yang memerintah, namun dalam konteks yang sedikit berbededa karena lebih pada aspek adat-istiadat Kerjaan Mekongga, yaitu: (1) Pemerintahan Bokeo Guro, dan (2) Pemerintahan Bokeo Puwatu.

1. Pemerintahan Larumbalangi Sebelum datangnya Larumbalangi sebagai Sangia, maka Wonua Unenapo atau Wonua Sorume (nama wilayah Mekongga sebelum terbentuk kerjaan) ini terbagi atas wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Toono Motuo. Toono berarti orang, Motuo berarti tua. Toono Motuo berarti yang dituakan dan sebagai penguasa atas suatu wilayah. Terbunuhnya Konggaaha ini sangat menggembirakan dan membahagiakan rakyat banyak. Berita ini segera tersebar dimana-mana. Maka para Toono Motuo lalu bersepakat untuk mengangkat Larumbalangi sebagai pemimpin tertinggi mereka, sebagai raja yang berarti yang menguasai negeri (wonua), menurut arti dalam Bahasa Mekongga. Orang banyak lalu berkumpul dan menghadap Larumbalangi untuk menyatakan hasrat dan keinginan orang banyak, lalu pimpinan wilayah diterima oleh Larumbalangi dengan ketentuan bahwa: Wilayah-wilayah yang terpisah-pisah itu hendaklah menjadi satu kesatuan yang kokoh dan kuat. Orang banyak dari berbagai etnis hendaklah selalu bersatu dan merupakan suatu kesatuan yang tidak terpeceh belah, seperti yang sudah nyata, didalam usaha menewaskan musuh besar yaitu Konggaaha. Bahwa ia sebagai pimpinan orang banyak, Raja Mekongga sangat dihormati/dijunjung tinggi. Maksudnya urusan pemerintahan, baru disodorkan kepadanya kalau telah dimatangkan oleh orang banyak atau semuanya hendaklah atas persetujuan orang banyak barulah ia akan melaksanakannya. Ia menyatakan juga, bahwa ia diangkat menjadi pimpinan (Anakia) adalah atas kehendak orang banyak dan bukan karena dipaksakan olehnya melalui suatu kekerasan. Persatuan orang banyak (mepokoaso), sehingga merupakan suatu kesatuan daerah (Wonua) yang mempunyai wilayah yang tertentu diberi nama Wonua i Mekongga, demi untuk memperingati hubungan dengan peristiwa Konggaaha. Pemberian nama Mekongga itu diharapkan agar generasi masa mendatang akan teringat selalu bahwa daerah yang pernah diserang ats keganasan Konggaaha dan terpecah belah karena adanya wilayah-wilayah yang diakui oleh para Toono Motuo sudah bersatu, menjadi satu kesatuan sehingga merupakan satu kesatuan bersama. Hanya dengan melalui persatuan dan kesatuan ini dapatlah dilakukan suatu perbuatan besar, demi keselamatan, kemaslahatan orang banyak. Menurut tradisi lisan pada masyarakat Tolaki bahwa ada tujuh buah kerajaan besar ialah: (1) Mekongga, (2) Konawe, (3) Luwu, (4) Bone, (5) Gowa, (6) Ternate, dan (7) Sumbawa. Ketujuh buah kerajaan ini memiliki hubungan kekeluargaan dari leluhurnya. Dalam hubungan bilateral dan multilateral Datu Luwu selalu dianggap sebagai saudara tetrua diantara raja-raja tersebut.

Sebelum Kerajaan Mekongga terbentuk, ditempat ini terjadi suatu kumpulan orang banyak yang dikepalai oleh seorang kepala suku yang disebut Owati, yang artinya penguasa. Daerah kemudian diberi nama Wonua Unenapo/Wonua Sorume yang artinya Negeri Anggrek. Menurut tradisi lisan bahwa kalau bibit padi ditanam bersama-sama padi lainnya, maka padi akan berisi (panen) berhasil. Bibit padi dibungkus pada takinawo yaitu kain kulit kayu barsama dengan dengan daun sanggula, sejenis daun yang dipakai untuk mengharumkan pakaian wanita. Dahulu tempat menyimpan benda-benda itu adalah pada Bungge-bungge (peti). Wanita-wanita memakai daun Sanggula itu pada sanggulnya. Mungkin nama Sanggula itu berasal dari kata sanggul atau sebaliknya. Dengan memakai daun itu maka rambut mereka selalu berbau harum. Benda-benda alat makan Raja/Bokeo, seperti: piring, barang pecah belah, dan kuningan.

peninggalan larumbalangi

Keris pusaka dan sarung tenun peninggalan Larumbalangi

2. Lakonunggu Ketika Larumbalangi sudah tua pada suatu hari datanglah guntur kilat sambar menyambar disertai kabut tebal menyebabkan orang banyak heran dan ketakutan, sesudah reda kembali ternyata bahwa Larumbalangi telah lenyap, di tempat ia berdiri tampaklah seorang laki-laki gagah tak dikenal sebelumnya. Semua orang bertambah heran dan merasa takjub dibuatnya. Sebelum keheranan orang banyak hilang, maka yang tak dikenal itu memperkenalkan dirinya dan mengatakan, bahwa ia bernama Lakonunggu (dari langit). Adapun ayahnya, Larumbalangi telah kembali Iwawo Sangia dan ia ditugaskan untuk melanjutkan tugas dan kewajiban ayahnya, demi keselamatan dan kesejahteraan rakyat yaitu Tono Dadio yang artinya rakyat banyak. mendengar itu orang banyak bersuka cita karena ia akan meneruskan tugas ayahnya yang telah pergi dan tak akan kembali lagi. Lakonuggu diterima dari dan ia diangkat Anakia oleh orang banyak. Demikian Lakonunggu menjadi Anakia, sehingga tiba pula saat dan ketikanya ia harus mengakhiri tugas tanggungjawabnya memimpin orang banyak. Apa yang terjadi pada Larumbalangi terjadi pula pada Lakonunggu. Guntur dan petir, halilintar serta kabut, menutupi Lakonunggu.

3. Melanga Nama Melanga diambil dari proses kedatangannya di bumi Mekongga menurut tradisi lisan terjadi ketika dalam keadaan suasana mendung tiba-tiba terjadi kilat sehingga suasana menjadi terang-benderang dalam Bahasa Mekongga berarti Melanga, setelah mangkat dia digelar Sangia Menggaa.

4. Lagaliso Sesudah semuanya reda, maka Melanga hilang dan seorang lainnya yang tak dikenal muncul lagi ditengah-tengah rakyat banyak. Ia memperkenalkan dirinya dan menyebut namanya Lagaliso dan ia adalah anak dari Lakonunggu dari istrinya yang ada Iwawo Sangia. Ia ditugaskan untuk meneruskan tugas dan tanggung jawab ayahnya Lakonunggu menjadi Bokeo. Keadaan rakyat menjadi lebih baik hidupnya, maka dengan tak diragu-ragukan, Lagaliso diterima dan diangkat oleh orang banyak sebagai Anakia Iwuta Mekongga. Beberapa lama Lagaliso memerintah, tidak diketahui dengan pasti, Lagaliso lalu kembali ke Iwawo Sangia. Kemudian datanglah anaknya yang bernama Lamba-lambasa atau Rumbalasa yang menyatakan bahwa ia disuruh ayahnya Lagaliso untuk menggantikannya menjadi Anakia di Mekongga.

5. Lamba-Lambasa atau Sangia Rumbalasa Lamba-lambasa kemudian diangkat menjadi Anakia Mekongga. Ia lalu kawin dengan seorang putri yang bernama Wekonengge. Hasil perkawinannya memperanakkan dua orang anak laki-laki bernama Tobenua dan Lombo-lombo yang juga bernama Sabulombo. Mulai pada pemerintahan Lombo-lombo, maka pemerintahan Mekongga dilengkapi dengan jabatan Kapita, Pabitara, dan Sapati yang menjadi Osara I Mekongga.

6. Lombo-Lombo atau Sabulombo Menurut kisah bahwa lombo-lombo meskipun ia sudah berumur empat tahun, tetapi ubun-ubunnya belum keras. Lombo-lombo artinya ubun-ubun, dari sinilah asal namanya. Pada suatu waktu seorang wanita pengasuhnya yang bernama Inaweduangga mendapat pesan melalui mimpi dari neneknya Wasasi Wasabenggali yang menyatakan bahwa putra Bokeo yaitu Lombo-lombo baru akan bertulang ubun-ubunnya kalau ia diupacarakan secara adat Mekongga disebut Sinosambakai.

Menurut kisah bahwa sesudah Sinosambakai, maka bertulanglah ubun-ubun Lombo-lombo dan ia menjadi seperti orang biasa. Itulah yang menjadi asal mulanya adat di Mekongga, mesosambakai kepada anak pertama. Bagi anak kedua dan seterusnya tidak ada lagi, kecuali hanya do’a selamat. Setelah Lombo-lombo dewasa, maka ia kawin dengan seorang wanita yang bernama Mawuanese, maka lahirlah seorang putra yang diberi nama Tabutuala yang digelar Sangia Ngginoburu. Sesudah Lamba-lambasa meninggal, maka Lombo-lombo diangkat menjadi Bokeo Mekongga sebelum ia dilantik, maka ia harus kawin dengan seorang putri yaitu anak Buburanda di Latoma yang digelar Sangia i Wowalatoma yang bernama Wungabae. Ketika perkawinan dilangsungkan, maka Sangia i Wowalatoma memberi hadiah anaknya Wungabae suatu daerah yang cukup luas yaitu mulai dari Tumbudadio (Rate-rate) perbatasan Gunung Tamosi sampai dengan Sungai Konaweeha, dengan sendirinya Daerah Mekongga menjadi luas.

Hasil perkawinan dengan Wungabae, lahirlah Wasitau, Teporambe, Puluase/Latoranga, dan Wandudu. Setelah mangkat ia digelar Sangia Sinambakai dan sumber lisan lainnya menyebut Sangia Ndapetoala dan dikuburkan (Niduni) di Gua Watuwulaa Wilayah Kecamatan Wundulako sekarang.

Raja ke VI Wonua Mekongga, Raja Mekongga yang pertama kali menetapkan gelar Bokeo (Buaya) sebagai gelar raja di Wonua Mekongga adalah Sangia Lombo-lombo dan beliau disebut Bokeo Sabulombo. Diceriterakan bahwa beliau memiliki kembar dalam air, Buaya yang tidak suka memakan manusia. Sangia Lombo-Lombo memerintah di Wonua Mekongga diperkirakan selama 48 tahun, yaitu tahun 1550 hingga tahun 1598 M. Dan dalam menjalankan roda kepemimpinannya beliau memiliki pengetahuan sangat luas dan pemikiran maju, Sangia Lombo-lombo memiliki beberapa istri salah satunya adalah Innoi Sari Bua yang merupakan keturunan bangsawan Muna-Buton, meskipun hanya permaisuri ke 2 dari sangia Lombo-lombo  namun diceriterakan bahwa dialah permaisuri kesayangan Sangia Lombo-lombo. pertemuan pertamanya dengan Sangia Lombo-lombo di wilayah yang disebut Patikala. selama ia mendampingi Sangia Lombo-lombo, ia memiliki peranan penting dalam pemerintahan, pendapatnya selalu didengarkan oleh suaminya itu.

Pada suatu masa Sari Bua sedang hamil muda saat diadakan pesta permainan tali dan tiba-tiba ada sebilah tombak yang mengarah ke tubuhnya, namun tombak tersebut meleset dan mengenai leher Sangia Lombo-lombo, satu lemparan tombak lagi kembali di arahkan kepadanya dan menewaskan Permaisuri Sari Bua.

Sangia Lombo-lombo memiliki 33 orang keturunan diantaranya  adalah Sangia Nilulo atau Teporambe (Bokeo ke VII ayah dari Sangia Nibandera) dan Sangia Ibende ( Kapita Latoranga Sangia Ibende).

Pada masa pemerintahan Lombo-Lombo Rakyat Kerajaan Mekongga mulai hidup teratur setelah beberapa lama tidak terurus akibat situasi di dalam negeri kerajaan yang tidak stabil. Lombo-Lombo telah berhasil menyusun kembali struktur pemerintahannya dengan baikyang terdiri dari : Kepala kerajaan Mekongga disebut Bokeo (buaya) binatang buas yang berkuasa di air. Karena kekuasaannya itulah sehingga mengilhami penyebutan gelar raja di Mekongga. Sebelumnya bergelar Sangia, sebab kehadiran mereka di tengah-tengah masyarakat tidak diketahui asal-usulnya. Dalam menjalankan pemerintahannya Lombo-Lambo dibantu oleh tiga orang wakil masing-masing: (1) Sapati yang bertugas mengatur orang banyak dan kesejahteraan di semua bidang kehidupan atau sekretaris kerajaan, (2) Kapita adalah Panglima Perang yang mengatur urusan pertahanan keamanan dan kemakmuran kerajaan, (3) Pabitara adalah juru bicara dan memelihara adapt-istiadat, serta benda pusaka kerajaan. (Tamburaka, 2003: 493). Ketiga jabatan ini telah ada sebelumnya yakni pada masa pemerintahan ayahnya Lamba-Lambasa. Perluasan wilayah Kerajaan Mekongga, maka Lombo-Lombo membagi Kerajaan Mekongga menjadi empat wilayah dan tujuh Toono Motuo yang diperintah langsung oleh Bokeo. Keempat cabang Wonua tersebut adalah: Ibukota kerajaan (wilayah khusus) meliputi 7 daerah Tobu Toono Motuo yang diperintah langsung oleh Bokeo (Raja) mulai dari Lanu-Woimendaa sampai ke Tuwonduwo (Laponu-ponu). Daerah bagian Kondeeha (Mala-Mala) diperintah oleh Mokole Kondeeha mulai dari daerah Woimendaa sampai ke Utara Pakue (Patikala). Daerah bagian Solewatu (Singgere) diperintah oleh Mokole Tinondo/Singgere mulai dari Mowewe sampai Sanggona. Daerah bagian Lapai (Watu Mendonga) diperintah oleh Mokole Lapai, mulai dari Uete sampai Tongauna. (Munaser dalam Tamburaka, 2003: 494). Pembagian wilayah seperti ini maka Sangia Lombo-Lombo dapat mengatur pemerintahannya. Rakyat hidup makmur sehingga kerajaan Mekongga semakin dikenal khususnya dengan kerajaan Konawe karena adanya hubungan persaudaraan.

Melalui kesepakatan Para Toono Motuo di Mekongga bahwa Teporambe sering mengadakan kunjungan ke Konawe, bahkan pernah tinggal mengikuti keluarga pihak ibunya. maka setelah Sangia Lombo-Lombo meninggalkan pemerintahan dilajutkan anaknya yang bernama Teporambe dengan gelar “Bokeo” sebab Teporambe-lah yang dapat mewarisi tahta kerajaan Mekongga (Tamburaka, 2003: 494).

7. Teporambe Setelah Lombo-lombo meninggal, maka anaknya Teporambe menggantikan menjadi Bokeo. Ia lalu kawin dengan seorang putri yang bernama Wehiuka, yaitu seorang putri dari Sangia Lakarama di Benua. Pada pemerintahan Teporambe ditetapkanlah struktur pemerintahan pada tingkat wilayah atau Toono Motuo dan Toono Motuo ini dilengkapi dengan Tolea, Posudo, Mbuowai (mbuakoi dengan Mbusehe), Tamalaki, Otadu dan Tusawuta.

Dari hasil perkawinan Teporambe dan Wehiuka, lahirlah Lelemala (Laduma). Pada masa pemerintahan Teporambe, agama Islam masuk ke Mekongga dibawa oleh seorang utusan dari Datu Luwu, diperkirakan pada masa pemerintaan Datu Pati Arase yang bergelar Petta LatindroE di Pattinrang ± akhir abad ke XVI.

Ketika Teporambe mangkat ia digelari Sangia Nilulo. Munurut kisah bahwa yang dikenal, baik di Mekongga maupun di Konawe, bahwa katika Teporambe akan dilantik atas kemauan orang banyak, maka Buburanda mengirim suatu utusan dengan membawa pesan dan amanah untuk Teporambe cucunya. Dalam pesan itu neneknya mengharapkan agar Teporambe yang nama aslinya Puluase diganti menjadi Teporambe kalau ia sudah menjadi Raja Mekongga. Nama itu adalah untuk memperingati peristiwa pendekatan atau perhubungan yang jauh menjadi dekat kembali. Teporambe mengubah strategi pendekatan dalam melawan kerjaan Konawe melalui perkawinan politik dengan putri Raja Latoma bernama Bungabae (penguasa Kerjaan Konawe kawasan Barat), sehingga dari perkawinan ini Konawe memberikan hadiah perluasan wilayah kepada Teporambe, meliputi: Sanggona, Poraboa, Ulesi, Alaaha, Puuraa, sampai dengan perbatasan Singgerek dan semua kampung tua yang terletak di hulu Sungai Ameroro yang bermuara ke Sungai Konaweeha, seperti: Singgere, Tanggobu, Tamasi, Ambopa, termasuk Mowewe, Lasolewatu, Tinondo, dan Rate-rate tidak diberikan karena masuk wilayah kekuasaan Raja Asaki/Uepai (penguasan Kerajaan Konawe Kawasan Selatan/Barata Ihana).

Setelah Teporambe kawin dengan putri Raja Latoma bernama Bungabae, kemudian kawin lagi untuk kedua kalinya dengan Weheuka dari Angata/Benua turunan Raja Asaki, sehingga dia diberikan hadiah wilayah lagi oleh Raja Asaki atas persetujuan Raja Konawe (Tebawo) daerah-daerah: Rate-rate, Ladongi, Lambandia, Mowewe, Tirawuta, Singgere, Tonondo, Lasalewatu, Ambopa, dan Tamasi, juga wakobu.

Bokeo Teporambe kawin dengan seorang puteri yang bernama “Weheuka” salah seorang puteri Sangia Ndudu dari Benua Kerajaan Konawe. Teporambe kembali memperoleh tiara (hadiah) dari kerajaan Konawe seperti ayahnya dulu. Seperti dijelaskan beberapa sumber tertulis maupun lisan bahwa: Pada waktu pelatikan Teporambe sebagai Bokeo Mekongga ke-IV Buburanda kembali menghadiahkan hampir seluruh daerah Latoma kecuali Latoma Inti dan aliran sungai Konaweeha sehingga kerajaan Mekongga memiliki daerah yang kira-kira sama dengan wilayah Kolaka sekarang ini. Pemberian daerah tersebut ada dua alternatif, disamping karena hubungan kekeluargaan, juga atas keberhasilannya menjadikan pemerintahan sebagai Puutobu Latoma.

Sebagaimana dikemukakan bahwa sebelumnya Teporambe pernah tinggal di kerajaan Konawe sambil belajar tentang cara-cara pemerintahan di kerajaan Konawe. Setelah Teporambe dilatik, maka segera dia menata struktur pemerintahannya sebagaimana yang ayahnya telah jalankan.

Teporambe menetapkan 7 Toono Motuo dari Mekongga inti sebagai dewan kerajaan yang secara bersama-sama merupakan bahan legislatif yang tugasnya antara lain mengangkat dan menurunkan Bokeo (Tamburaka, 2003: 495). Setiap daerah dikepalai oleh seorang Toono Motuo.

Disamping itu dibentuk pula aparat pembantu Toono Motuo yaitu: Pabitara, bertugas mengawasi pelaksanaan hukum adat, menyelesaikan persoalan-persoalan dan perkara yang terjadi di daerahnya (pembantu Bokeo). Tolea, bertugas untuk mengurusi bidang perkawinan. Posudo sebagai perangkat keuangan. Mbuakoy, sebagai dukun urusan kepercayaan, kesehatan dan pengambilan sumpah, (Mbuoway dan Mbusehe). Tamalaki sebagai prajurit yang berfungsi ganda, sebagai unsur pembelaan negara dan keamanan, ketertiban masyarakat. Ponggawa, bergerak dalam urusan pertanian (yang menentukan waktu bercocok tanam, pengerahan tenaga kerja dan pertanian). Tadu, sebagai ahli Nujum, ahli taktik dan strategi perang (Pingak, 1963: 51).

Struktur atau jabatan pemerintah pusat tidak mengalami perubahan, dengan demikian kerajaan Mekongga selain pemerintahan pusat (Kabinet Kerajaan) juga terdapat pemerintahan daerah yang dipimpin oleh Toono Motuo yang berkuasa penuh pada suatu daerah dan kampung.

Pada masa pemerintahan Bokeo Teporambe inilah dibentuk ”Sara Owoseno Wonua” atau undang-undang kerajaan. Dengan adanya undang-undang tersebut, maka raja dalam menjalankan pemerintahan senantiasa dibatasi oleh undang-undang. Seorang Raja atau Bokeo selalu mendapat pengawasan yang dilakukan oleh Sara Owoseno Wonua, suatu lembaga Legislatif yang merangkap sebagai lembaga Yudikatif, apabila raja melanggar hukum.

Berdasarkan pelimpahan wewenang penyelenggaraan pemerintah daerah-daerah dapat dikatakan bahwa pelaksanaan pemerintahan di Kerjaan Mekongga adalah secara desentralisasi. Hal ini diketahui bahwa struktur pemerintahan mulai dari pusat sampai daerah-daerah dapat dibentuk. Pemerintahan pusat dilaksanakan oleh Bokeo (raja) bersama para pembantunya yakni: Kapita, Pabitara dan Sapati. Kemudian pemerintah daerah dilaksanakan oleh Puutobu dan pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Toono Motuo.

Berdasarkan pembagian itu maka jelas setiap daerah berhak menjalankan pemerintahan di daerahnya dan tidak bertentangan dengan pemerintah pusat. Sehingga segala urusan pemerintahan selalu dapat dipertanggungjawabkan kepada atasannya. Oleh karena itu dalam pemerintah Toono Motuo dibentuk pula perangkat kerja yang menjadi pembantu Toono Motuo sehingga pemerintahan dapat berjalan dengan lancar.

guci

Guci peninggalan Sangia Ni Lulo

Hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah terselenggara melalui upacara–upacara kenegaraan yang biasanya berkaitan dengan upacara pertanian dan kepercayaan. Bokeo Teporambe sangat menghargai dan selau menyelenggarakan upacara ritual seperti ”Monahu ndu” yang disertai dengan tari-tarian seperti Tari Lulo Ngganda. Sehingga pada saat beliau meninggal diberi gelar Sangia Nilulo. Pada masa pemerintahan Bokeo Teporambe, Agama Islam mulai masuk di kerajaan Mekongga. Dari data-data tertulis dikemukakan bahwa Agama Islam yang masuk di Mekongga dibawa oleh para pedagang dari Sulawesi Selatan. Namun juga ada utusan dari kerajaan Luwu datang membawa Islam yang besar kemungkinan pada masa pemerintahan Datu Pati Arase. Yang digelar Petta Matinroe ri Pattimang sekitar abad XVI. Walaupun Agama Islam sudah masuk pada masa pemerintahan Bokeo Teporambe, tetapi sampai beliau meninggal tidak masuk Islam. Hal ini dapat diketahui sebab pada saat itu masyarakat masih sering makan babi yang diharamkan bagi Agama Islam.

8. Laduma Sangia Nibandera Setelah Teporambe mangkat, maka anaknya Laduma disetujui orang banyak menjadi Bokeo. Ketika Laduma telah berusia belasan tahun, maka ayahnya Teporambe membawanya untuk menemui neneknya Buburanda yang sudah tua. Karena perkunjungan ini maka Bubundara memberi tanah pada cucunya, tanah di sebelah Barat yang dibatas oleh Teluk Bone, yaitu Tanjung Patikala. Dengan demikian ketika Laduma menjadi Bokeo yang ketiga di Mekongga, maka wilayahnya menjadi luas mulai dari Tamboli hingga batas Singgere di Selatan, dari batas barat hingga sekitar tepi Kali Konaweeha. Laduma adalah raja yang pertama memeluk agama Islam di Mekongga. Untuk memerintah daerah-daerah warisan dari neneknya Buburanda, maka Laduma menempatkan seorang Mokole Kondoeha (Mekongga Utara). Pada zaman pemerintahan Bokeo Laduma, maka terjadilah suatu peperangan antara raja Goa dan raja Bone yaitu Arupalaka. Dalam peperangan itu maka menurut riwayat bahwa Buton atau Wolio, Wuna (Muna) dan Belanda ikut terlibat. Konawe pun ikut pula terlibat dalam peperangan itu, membantu Arupalakka melawan Gowa di suatu pihak. Pada waktu itu Datu Luwu yang bernama Alimuddin, memerangi Belanda, membantu kerajaan Gowa. Datu Alimuddin akhirnya dapat ditawan oleh Belanda dan diasingkan di Buton, selama dua tahun lamanya. Setelah perjanjian Bongaya untuk mengakhiri perang Gowa ini pada tahun 1667, maka Datu Luwu dibebaskan dan ia kembali ke Luwu. Ternyata kedudukan Datu Luwu sudah diisi oleh orang lain, saudara sepupunya yaitu Patunru (Patundu). Akibatnya timbullah perang saudara memperebutkan tahta kerajaan Luwu.

Mulai saat ini Datu Luwu menempatkan seorang mincarangapa di Lelewawo yang merupakan bagian dari pengaruh Mekongga, yang berkedudukan di Lelewawo yang mendapat persetujuan Bokeo Mekongga. Tugasnya adalah menjadi pengantar kedua kerajaan. Bilamana ada Duta (suro) baik dari Luwu maupun dari Mekongga, yang tidak melalui mincarangapa dan ia dibunuh, maka matinya itu disebut “Mate ndinukarino karambau” dalam bahasa Bugis mate nalejja tedong, yang mempunyai arti mati sia-sia, tanpa ada tuntutan.

Pada masa pemerintahan Bokeo Laduma ia menempatkan seorang Mokole di Kondoeha, yaitu di Lelewawo, sebagai pintu disebelah Barat Mekongga. Dalam bahasa Mekongga disebut Tambo Tepuliano Oleo. Ia diberi kekuasaan penuh yaitu Mondooriako Dowo. Adapun Toono Motuo i Sabilambo adalah petambeanggareano Bokeo, sedang Toono Motuo I Lalombaa adalah Dulumbaaluano Bokeo. Mereka itu adalah orang yang sangat diharapkan oleh Bokeo. Ketika Laduma mangkat, maka ia digelari Sangia Nibandera, karena di ia menerima hadiah bendera dari Luwu. Hubungan dengan Kerajaan Luwu makin akrab, sesudah Laduma masuk Islam.

Dari perkawinan Teporambe dengan puteri Buburanda, maka Buburanda memberikan hadiah kepada cucu pertamanya, sebagaimana tradisi dalam masyarakat suku Tolaki untuk memberikan tiari Wonua kepada cucunya. Oleh karena tiari tersebut maka Kerajaan Mekongga memiliki wilayah yang sangat luas. Adapun tiari wonua tersebut adalah “Pehanggo, Tawanga, Sanggona, Lasolewatu, Mowewe, Tonggauna dan Puurau (Tamburaka, 2003: 494).lulo silea

Masa Kecil Sampai Dewasa Sangia Nibandera

      Dari perkawinan Bokeo Teporambe dengan Weheuka, beliau memperoleh seorang anak laki-laki yang kelak bernama Laduma setelah beliau memeluk Agama Islam. Sejak ia lahir bernama kinokori, setelah dewasa bernama Lelemala dan setelah memeluk Agama Islam bernama Laduma. La berarti seorang laki-laki dan duma berarti Jum’at dalam arti seorang laki-laki yang memeluk Agama Islam pada hari Jum’at. (Tamburaka, 2003: 496).

Atas persetujuan dari orang banyak maka Laduma diangkat menjadi raja dengan Gelar Bokeo menggantikan ayahnya yang sudah meninggal. Wilayah pemerintahannya semakin luas dan penduduk Mekongga semakin banyak sehingga banyak mendiami daerah-daerah kekuasaannya yang sebelumnya belum mempunyai penghuni. Oleh karena wilayah Kerajaan Mekongga sangat luas, maka Bokeo Laduma menempatkan seorang Mokole di Kondeeha yaitu di Lelewawo. Mereka itu adalah orang yang sangat diharapkan oleh Bokeo untuk membantunya dalam menjalankan pemerintahan. Adapun struktur pemerintahan Bokeo Laduma yang berlaku sampai kerajaan Mekongga mengalami kemunduran adalah: 1) Pemerintahan Pusat Kerajaan, yang terdiri dari:

a) Bokeo adalah Raja b) Kapita adalah tangan besi Bokeo (Panglima Perang) c) Pabitara wonua adalah juru bicara kerajaan d) Sapati adalah yang mengurus bagian umum dan rumah tangga kerajaan (mirip sekretaris negara/menteri dalam negeri).

2) Penguasa wilayah, untuk membantu pemerintah pusat Puu Tobu yang mengepalai satu wilayah terdiri dari beberapa daerah, tugasnya adalah mengatur adat (Osara).

3) Toono Motuo (orang tua) yang dibantu oleh para ketua adat antara lain: Pabitara, yang mengatur, mengawasi hukum adat, menyelesaikan perkara-perkara dan persoalan dalam daerahnya. Tolea yang bertugas khusus mengenai soal-soal menyangkut perkawinan, peminangan dan perceraian. Posudo, yaitu pembantu umum. Posudo berarti penongkat yang bertugas mencukupi apa yang kurang. Selain dari jabatan-jabatan tersebut di atas, ada pula jabatan lain yang berdiri sendiri, yaitu: Mbuakoi yaitu dukun, ia bertugas mengurus masalah kepercayaan, kesehatan dan menyumpah raja. Tamalaki adalah prajurit penjaga keamanan dan pertahanan bilamana kerajaan diserang musuh. Tadu sebagai ahli Nujum bertugas sebagai pengatur siasat perang. Ia yang menentukan waktu baik untuk berangkat berperang. Tusawatu (Puwuta) tiang tanah yang mempunyai tugas dalam bidang yang berhubungan dengan pertanian. Tugasnya adalah menentukan musim berladang (bertani) serta memperhatikan jalannya bintang-bintang di langit (Astronom). Struktur pemerintahan yang telah disusunnya, maka Bokeo Laduma dapat menjalankan pemerintahan kerajaan dengan aman, damai dan sejahtera. Keadaan ini didukung pula oleh rakyatnya yang sangat taat kepada perintah-perintah raja. Pemerintahan dijalankan secara desentralisasi. Kehidupan Sosial pada Masa Kerajaan Mekongga

Tidak diketahui dengan jelas bagaimana keadaan dan masa kecil Sangia Nibandera. Ini semua karena tidak lengkapnya data-data/ceritera tentang beliau, namun ada beberapa cerita yang penulis dapatkan dari beberapa informan, mengatakan bahwa Sangia Nibandera waktu kecil bernama Kinokori. Ayah dan ibu beliau sangat bergembira dengan kehadiaran putra mereka, oleh karena itu tidak mengherangkan jika putra mereka itu disambut dengan meriah dan upacara-upacara ritual karena sudah lama sekali mereka mendambakan anak laki-laki namun baru kali ini terkabul. Bahkan bukan cuman mereka yang merasa senang dan bergembira tetapi semua rakyat penghuni kerajaan Mekongga ikut bergembera menyambut kelahiran Sangia Nibandera. setiap hari istana kerajaan ramai dikunjungi oleh para tamu istana yang ingin menjenguk dan mamberikan selamat kepada pangeran baru.

      Bagi Sangia Nilulo dengan lahirnya Sangia Nibandera sebagai putra mereka satu-satunya merupakan suatu berkah dan harapan, karena tentunya sudah ada yang akan mewarisi dan melanjutkan tahta kerajaannya. Maka tidaklah mengherankan jika diwaktu masih kecil Sangia Nibandera dijaga dan dipelihara dengan baik dan sangat istimewa. Malah ada beberapa orang anggota keluarga kerajaan yang ditugaskan khusus menjaga dan membimbing Sangia Nibandera.

      Sangia Nibandera tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat dan lincah. pada usia sekitar lima tahun nama panggilan beliau yang tadinya Kinokori di robah menjadi Lalemala, karena waktu itu beliau sering digendong diatas pundak.

      Dikala remaja beliau sudah memperlihatkan bakat dan jiwa kepemimpinan. setelah dewasa dan menjadi pemuda yang perkasa beliau banyak belajar ilmu pemerintah pada ayahnya dan kebetulan beliau adalah putra tunggal Sangia Nilulo yang memang dipersiapkan untuk menggantikan beliau menduduki tahta kerajaan Mekongga. sedang kakaknya adalah seorang perempuan yang bernama Wasangga, dipersunting oleh Make (Turunan Kapita).

      Untuk ilmu beladiri dan startegis perang Sangia Nibandera banyak belajar pada pamannya utamanya Latoranga masih saudara ayahnya dan Tahombu suami Nasaranggai, Nasaranggai (Watiroi) masih saudara ayahnya juga.

      Dalam cerita rakyat Mekongga dikenal bahwa Latoranga adalah seorang panglima perang pada zaman pemerintahan Sangia Nilulo, beliaulah yang mendirikan benteng di Bende/Tawua untuk menghalau para perampok/bajak laut yang ingin masuk kekerajaan Mekongga. perampok tersebut berasal dari Hamahera utamanya orang Tobelo yang dipimping oleh Asomata. Mereka masuk kekerajaan Mekongga melalui  teluk bone menyusuri pulau padamarang dan Lambasina dengan menggunakan perahu pakatora.

      Sedangkan Tahombu adalah tamalaki yang ditugaskan di laponu-ponu/Toari untuk menghalau/membendung orang-orang Wolio yang ingin masuk merampok di kerajaan Mekongga dan mendirikan benteng yang disebut Tondo Wolio.

      Diketahui bahwa selain Latoranga dan tamalaki Tahombu, adalah tamalaki Mekongga yaitu Rire (Suami Nanggomba), sedangkan Nanggomba masih bersaudara dengan Tahombu. Rire dikenal karena beliau yang diutus ole Sangia Nilulo untuk mengambil Wasitau, Wasitau adalah masih saudara Sangia Nilulo yang sudah ditunangankan pada putra Mokole Konawe yang bernama Lakidende, namun Wasitau diculik oleh orang wolio/Buton dan dipersunting oleh Laode Mbitu Koda.

      Dengan penuh tantangan mengarungi lautan tamalaki Rere yang dibantu oleh satu perahu tamalaki dari sabilambo, berhasil menyusup masuk kerumah penculik dan mengambil wasitau tetapi anak Wasitau tidak sempat mereka ambil karena para penculik Wasitau sempat mengetahiu kedatangan mereka. Peranganpun tak terelakkan lagi, dalam keadaan terdesak tamalaki Rire mengamuk dengan beringas dan pada kesempatan yang baik Rire bersama Wasitau melompat kedalam perahu yang ditumpangi pasukan tamalaki Rire.

      Dari ketiga tokoh itulah Sangia Nibandera banyak mempelajari ilmu beladiri sedangkan untuk ilmu pemerintahan beliau dapatkan dari ayahnya.

SANGIA NIBANDERA DINOBATKAN SEBAGAI RAJA MEKONGGA

       Pada akhir abad -17 atau tepatnya pada tahun 1670. Lelemala (Sangia Nibandera) dilantik menjadi raja Mekongga ke- VIII menggantikan ayahnya Sangia Nilulo yang wafat karena sakit. Pada saat dinobatkan menjadi raja Mekongga beliau pada waktu itu bernama Lalemala dengan permaisurinya bernama Basembu.

     Basembu adalah cucu Mokole Kotua (Kabaena) yang bernama Tus Umar, yang kemudian menurunkan ibu Basembu yang bernama Nalinggode, sedangkan ayahnya bernama Laweani.

       Pada masa pemerintahan Lelemale sebagai raja ke-VIII, struktur pemerintahan sudah semakain teratur walaupun diketahui bahwa struktur pemerintahan  kerajaan Mekongga sudah dibentuk sejak pemerintahan Sangia Lombo-Lombo yang dikenal sebagai raja VI.

        Adapun struktur pemerintahan yang dibentuk oleh Sangia Lombo-Lombo adalah sebagai berikut. Kepala kerajaan Mekongga disebut Bokeo, yang berarti Buaya. digelari Bokeo (Buaya), karena buaya merupakan binatang buas yang berkuasa di air. Karena kekuasaannya itulah sehingga mengilhami penyebutan gelar raja di Mekongga.

Dalam menjalankan roda pemerintahan Bokeo (Raja) dibantu oleh tiga Wakil anggota masing-masing:

  • KAPITA : Urusan bidang pertanahan keamanan dan kemakmuran (Keuangan) kerajaan
  • SAPATI : Urusan bidang kesejahteraan (Sosial) dan perhubungan antar kerajaan
  • PABITARA : Juru bicara,memelihara adat istiadat dan benda-benda pusaka kerajaan.

Adapun bagan /struktur pemerintahan kerajaan Mekongga Sebagai berikut :

str

Karena luasnya wilayah kerajaan Mekongga maka Sangia Lomo-Lombo (Saulombo) membagi/mengadakan Sara Wonua (Kabinet Kerajaan). Wilayah kerajaan Mekongga dibagi atas 4 daerah/cabang Wanoa yang masing-masing di kepalai oleh Mokole kecil meliputi 7 Toonomotuo diperintah langsung oleh Bokeo.

Adapun pembagian Wilayah dari ke 4 daerah cabang Wonua yaitu:

  1. Pusat Kerajaan (wilayah inti) meliputi ke 7 daerah /Tobu Toonomotuo diperintah langsung oleh raja (Bokeo). Melalui dari Lanu-Weimendaa sampai ke selatan Tuwonduwo ( Laponu-Ponu) toari
  2. Daerah bagian Kenseeha (Mala-mala) diperintah oleh Mokole Kondeeha mulai dari daerah Woimendaa sampai keutara Pakue(Patikala)
  3. Daerah bagian Solewatu (Singgare) diperintah oleh Mokole Singgere, mulai dari Mowewe sampai Sanggona.
  4. Daerah bagian Lapai (Watu Mendonga) diperitah oleh Mokole Lapai ,Mulai dari Uete sampai ke Tongauna.

Sumbangsih Sagia Nibandera terhadap Luwu

        Pada zaman pemerintahan Sangian Nibandera kerajaan Mekongga mencapai zaman keemasannya dan menjadi terkenal sampai kekerajaan-kerajaan tetangga seperti ternate, Luwu, Buton, Bone,dan Konawe. Kepemerintahan beliau dikenal bukan cuman karena berhasil membawa rakyatnya hidup tentram dan makmur tetapi juga karena keberanian dan kesaktiannya sehingga sekitar tahun 1679 Datu Luwu Ke-XIX yang bernama Alimuddin Settia Raya, mengutus aparat kerajaan Luwu (Mincarangapa) untuk datang menghadap kepada raja Mekongga “Lalemala” yang kemudian bergelar Sangia Nibandera. Utusan luwu itu menyampaikan permohonan/permintaan Datu Luwu sehubungan dengan terjadinya kekacauan dan peperangan yang dihadapi kerajaan Luwu diketahui pada saat itu kerajaan Luwu sementara perang dengan Suppa.

Dikisahkan bahwa pada waktu itu Luwu tidak dapat mengalahkan Suppa, malah sebaliknya Suppa nyaris  melumpuhklan Luwu. Kenyataannya Datu dan Strategis perang kerajaan Luwu menjadi Prustrasi mereka bingung cara apalagi yang mereka harus gunakan untuk melumpuhkan Suppa.dalam keadaan kebingungan Datu Luwu mengingat bahwa di jasira tenggara ada sebuah kerajaan dengan rajanya yang terkenal Lelemala, Raja itu terkenal keberaniannya dan kesaktiannya. Adapun permohonan raja Luwu lewat Mincarangapa adalah  mengundan Lelemala (Sangia Nibandera) raja kerajaan Mekongga saat itu untuk datang ke Luwu dalam rangka membantu Luwu perang melawan kerajaan Suppa.

Dikisahkan bahwa raja Lelemala berangkat dengan 40 Orang pasukannya yang terdiri dari tamalaki-tamalaki pilihan yang diambil dari setiap tobu yang dikomandoi oleh Kapita Lapanga (Kapita Watu). kapita Lapanga adalah aparat kerajaan Mekongga yang bertugas Khusus menangani bidang pertahanan keamanan. kalau kita melihat silsilah maka Lapanga adalah paman dari Lelemale karena ibu Lapanga yang bernama Weanduru masih bersaudara sebapak dengan Sangia Lamo-Lombo

(Lihat Silsilah Dibawa).

sils

Pasukan rombongan Lelemala berangkat dengan menumpangi beberapa buah perahu dengan menyusuri pantai Tolala, Pakue dan Tanjung Patikala.

Setelah rombongan, raja Lalemala tiba di kerajaan Luwu, mereka dijemput oleh pembesar-pembesar kerajaan Luwu diantaranya Datu (Raja) Luwu sendiri yaitu Datu Alimuddin Settia Raya. lama sekali mereka berbincang bincang di istana kerajaan maklum leluhur Lelemala juga berasal dari tanah Luwu jadi sebenarnya antara kerajaan Luwu dan Mekongga masih ada hubungan kekeluargaan.

Setelah upacara penyambutan selesai, maka raja Lelemala mengatur strategis lalu berangkat kemedan pertempuran. Dikisahkan bahwa cuman dalam jangka waktu tiga hari mereka sudah dapat menaklukkan Suppa, itu semua karena berkat kesaktian  Lelemala hanya dengan sepotong bambu yang dibuat suling (Suling Meobu). membuat para jawara pengawal kerajaan tertidur pulas. kesempatan ini dipergunakan oleh pasukan Lelemala untuk masuk kedalam istana kerajaan mengambil gadis/putri yang menjadi penyebab sengketa antara kerajaan Luwu dan Suppa.

Atas bantuan kerajaan Mekongga  maka kerajaan Luwu dapat memenangkan peperangan tersebut yang diperkirakan terjadi  sekitar tahun 1679 dikala Lelemala berusia 59 tahun atau tepatnya 9 tahun beliau memerintah. Dan sebagai tanda terima kasih serta penghargaan yang tinggi kepada Raja Lelemala dan segenap rakyat Mekongga maka Datu Luwu Alimuddin, kemudian menyerahkan sebuah bendera merah Putih bertuliskan huruf-huruf Al Quran gambar Bintang dan Benda tajam.

Setelah kembali dan tiba di Mekongga maka raja Lelemala memanggil dan memerintahkan kepada Sapati, Kapita, Pabitara, Para Mokole Toonomotuo serta segenap rakyat Mekongga untuk berkumpul dan mengadakan pesta syukuran/keselamatan sekaligus menjemput Raja beserta rombongannya yang telah tiba dengan selamat dikerajaan Mekongga. Sebagai puncak acara pada saat itu dikukuhkannya raja Lelemala dengan gelar “Sangia Nibandera” yang berarti Dewa yang diberikan bendera atau dewa pembawa bendera kemenangan.

Setelah Sangia Nibandera membantu Kerajaan Luwu maka hubungan antara kedua kerajaan semaki akrab sehingga sesudah kejadian itu kedua kerajaan sering mengadakan kunjungan kerajaan.

Pada suatu Saat Sangia Nibandera tertarik dan kagum dengan gambar-gambar dan tulisan yang tertera pada bendera yang diberikan oleh raja Luwu, Sangia Nibandera menanyakan arti dan makna gambar serta tulisan yang tertera pada bendera. Setelah dijelaskan bahwa gambar beserta tulisan itu adalah merupakan perjalanan hidup manusia untuk mencapai kesempurnaan dan makna hidup sebenarnya maka Sangia Nibandera semakin tertarik untuk mempelajari/mendalaminya.

Sangia Nibandera Masuk dan Menyebarkan Agama Islam

      Karena Sangia Nibandera sangat tertarik untuk mempelajari dan mendalami makna bendera itu maka Datu Luwu mengutus dua orang guru islam ke Mekongga diantaranya bernama Opu Daeng Masaro. mereka diutus dalam rangka mengajarkan dasar-dasar pendangan Agama Islam sekaligus mengislamkan Sangia Nibandera pada saat itu beliau belum memeluk agama islam. Setelah beliau memeluk agama islam kerajaan Mekongga semakin makmur sehingga tidak heran jika pada saat beliau memerintah, kerajaan Mekongga mencapai zaman keemasan dan puncak kejayaan.

Dalam sejarah pemerintahan raja-raja dikerajaan Mekongga deketahui bahwa raja ke VIII Sangia Nibandera, yang pertama masuk islam /memeluk Agama Islam  dam beliau yang menyebarkan agama islam secara umum, serta memberikan ceramah agama sampai keseluruh penjuru kerajaan hingga pada akhir adad ke 17, hampir seluruh rakyat Mekongga dinyatakan telah memeluk agama islam. pada periode itulah atas permintaan raja Sangia Nibandera banyak guru–guru agama islam yang didatangkan dari kerajaan Luwu. begitu pula setelah masa pemerintahan Sangia Nibandera, pengiriman guru-guru agama islam tetap berlanjut, malah diantara guru agama tersebut ada  yang menikah dengan keluarga  raj-raja Mekongga. diantaranya ialah Matone Opu Palinrungan. Beliau adalah seorang turunan raja Luwu, ayahnya bernama Opu Tasusu sedangkan istrinya bernama Sitti dari daerah Bone.

Matona Opu Daeng Mapuji diutus ke Mekongga menjadi guru agama islam dan memilih Labandia (Wonua Mbuteo) sebagai tempat tinggalnya. Beliau mempersunting putri raja Bokeo Robe yang bernama Wadasa. Walaupun pada akhirnya Matona Opu Daeng Mapuji wafat dan dikebumikan di Wolo selanjutnya anak dari Matone Opu Daeng Mapuji yang bernama Baso Daeng Mangile melanjutkan misi dari ayahnya sebagai guru agama islam. dan beliau memilih daerah Toksi/Rate-rate sebagai tempat tinggalnya.

Selanjutnya diceritakan bahwa Sangia Nibandera Sampai mendirikan mesjid sehingga karena seringnya pergi berjumaat maka beliau dinamakan LADUMMA yang berarti LA : ada Dumma :Jumat jadi ladumaa mempunyai arti sebagai berikut : Ada Jumat atau pada hari jumat beliau selalu berjumaat (sedang berjumaat). Bila ditinjau dari segi nama LADUMAA maka besar kemungkinan beliau sempat mendirikan mesjid karena seringnya pergi kemesjid untuk berjumaat maka dinamakan Ladumaa.

Mengenai bangunan mesjid yang dibangun/didirikan oleh Ladumaa ( Sangia Nibandera), sampai sekarang sangat sulit deketahui, mungkin karena belum adanya para ahli yang meneliti mengenai peninggala-peninggalan beliau lagi pula masjid yang didirikan oleh beliau hanya terbuat dari bahan yang cepat rusak dan lapuk sehingga puing-puingnya atau bekasnya sudah tidak ada lagi.capture24

Menurut buku Mekongga Karangan CH.Pingak bahwa Sangia Nibandera, selain dari pada mengatur dan menyusun pemerintahan maupun pertahanan keamanan kerajaan Mekongga maka beliau juga sempat mendirikan sebuah istana kerajaan Mekongga yang disebut “KOMALI” yang luasnya + 100x100 Depa, selanjutnya pada zaman pemerintahanya, beliau juga membuat tempat Khusus pertemuan raja-raja Mekongga dan Luwu yaitu di Lelewawo daerah bagian Mokole Kondeeha. Di tempat itu didirikan sebuah rumah pondok yang dinamakan Rahanbuu, dimana kedua kepala kerajaan bermusyawarah dan menginap disitu. Menurut keteranga bahwa di Lelewawo ada yang terdapat bekas telapak kaki pada sebuah batu yang dipercayai sebagai telapak kaki To Manurung.

Menurut kepercayaan bahwa bila mana Datu Luwu akan datang ke Mekongga atau akan kembali dari Mekongga maka Datu Luwu harus menginjakan telapak kakinya di bekas telapak kaki To Manurung yang ada dibatu. Rupanya telapak kaki To Manurung tersebut yang sebelah berada di Singgere.

Masa Akhir Pemerintahan Sangia Nibandera

makam sangia nibandera

     Sekitar awal abad ke 18 Sangia Nibandera di undang ke bone beserta beberapa kerajaan lainnya seperti kerajaan Luwu, Goa konawe dan Buton untuk mengadakan konferensi khusus /membicarakan persiapan masing-masing daerah dalam rangka persiapan melawan belanda.

Sekembalinya sangia Nibandera dari pertemuan raja-raja di Bone, beliau melantik beberapa orang aparat kerajaan termasuk anak-anak beliau yang akan bertugas di masing-masing bagian wilayah kerajaan.

Adapun aparat kerajaan yang di lantik oleh Sangia Nibandera ,Ialah sebagi berikut:

  1. Lasikiri : Menjabat sebagai Bokeo,Raja kecil yang bekedudukan di wundulako mendamping ayahnya.
  1. Talaga : Menjabat sebagi Bokeo, Raja kecil yang berkedudukan di sabilambo
  2. Lapobandu : Menjabat sebagi Bokeo, Raja kecik yang berkedudukan Kapu.
  3. Lasone : Menjabat sebagi Bokeo, Raja kecik yang berkedudukan di labandia.
  4. Kunde : Menjabat sebagi Bokeo, Raja kecik yang berkedudukan di Lamunde.
  5. Wekoe : Menjabat sebagi Bokeo, Raja kecik yang berkedudukan di Bende.
  6. Wawena : Menjabat sebagi Bokeo, Raja kecik yang berkedudukandi Rate-Rate.
  7. KUU : Menjabat sebagi Kapita Mekongga menggantikan ayahnya (Kapita Lapaga).

Pelantikan aparat kerajaan dilakukan oleh Sangia Nibandera karena disamping untuk menjaga keamanan kerajaan Mekongga, juga merupakan suatu upaya untuk menjaga agar jangan sampai terjadi pemberontakan dari anak-anak beliau hanya karena merasa iri atau kecewa.

Selanjutnya sekitar tahun 1732 Sangia Nibandera menyerahkan penuh tampuk kekuasaan kepada Lasikiri sebagai raja Mekongga.Inisiatif pengunduran diri beliau dilakukan karena mengingat usia beliau yang sudah tua.

Lasikiri dilantik oleh Sangia Nibandera atas Musyawarah bersama 7 Toonomotuo dengan bergelar ” BokeooHa ” yang artinya raja besar, raja yang memerintah diseluruh kerajaan Mekongga karena pada saat itu ada juga raja yang memerintah cuman pada satu bagian wilayah kerajaan saja. Seperti Pobandu,Lasone,Wekoe dll. Namun mereka tetap digelar Bokeo, hanya daerah pemerintahan mereka lebih kecil dibanding  BokeooHa, sehingga mereka kadang disebut sebagai Bokeo Kecil. Jadi kalau didalam susunan Raja-raja Mekongga, Raja yang hanya memerintah pada satu bagian wilayah kerajaan saja maka tidak termasuk sebagai raja Mekongga. Karena pengertian”Raja Mekongga” berarti raja yang memerintah diseluruh kerajaan Mekongga.

Lima hari setelah pelantikan Lasikiri terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Lasone.

Diceritakan bahwa Lasone datang menghadap ayahnya Sangia Nibandera memohon agar supaya dialah yang dilantik menjadi raja Mekongga, tidak hanya menjadi Bokeo yang hanya menduduki/memantau satu bagian wilayah kerajaan saja.

Tetapi Sangia Nibandera menasehati Lasone agar kembali ke lambandia, namun lasone yang terkenal mempunyai watak dan tabiat yang keras malahan menantang ayahnya dan mengangkat perangnya. dengan tenang Sangia Nibandera menasehati serta mengatakan pada anaknya “Kembalilah perbaiki sikapmu, kalau tidak berubah saya akan menuggu kabarmu saja”.

Setelah tiga hari Lasone di Labandia, kabarpun datang yang memberitahukan bahwa Lasone telah Wafat. dengan wafatnya Lasone maka beliau digantikan oleh anaknya yang bernama Batuula.

Diketahui bahwa Sangia Nibandera mempunyai anak sebanyak 12 orang dari 4 orang istri .dan dari 7 orang anak beliau yang dilantik pada saat itu, cuman Lasikiri yang dianggap mampu menggalang dan memimpin kerajaan Mekongga sehingga beliau yang kelak dinobatkan menjadi raja Mekongga sekaligus menerima bendera dan parang pusaka Taawu dari Sangia Nibandera.

Diketahui bahwa Lasikiri sewaktu dilahirkan oleh ibunya, ayahnya pada waktu itu kebetulan sementara bersyikir, sehingga ia dinamakan Lasikiri yang berarti :

  • La : Ada sementara
  • Sikiri : Bersikir

Jadi lasikiri adalah sementara bersikir

Disaat lasikiri dilantik /dikukuhkan menjadi raja mekongga, permaisurinya bernama tika. Bokeo lasikiri adalah anak kedua dari istri kedua raja Sangia Nibandera.

Untuk lebih jelasnya lihat silsilah dibawa ini :

Sangia Nibandera

(Ladimaa,Lelemala)               Wekasili                             Basembu                  Natuu                Wowundu

                                                               I                                       II                            III                            IV

11

Kemudian pada zaman pemerintahan Lasikiri yaitu sekitar tahun 1753, Bokeo Mekongga Ke-VIII Laduma,dengan gelarnya Sangia Nibandera, wafat dalam usia 113 tahun dan di makamkan didesa Kowioha (Sekarang desa Tikonu) kecamatan Wundulako + 2 km dari jalan poros pomalaa Kolaka.

Makam Sangia Nibandera telah terdaftar dan dilindungi oleh “Monumen Ordonantie Stbl No 238/1984” Direktorat perlindungan dan pembinaan peninggalan sejarah dan purbakala Ditjen kebudayaan Deperteman Pendidikan dan Kebudayaan.       Makam Sangia Nibandera juga dijaga dan dipelihara oleh juru makam yang diangkat secara turun temurun dari turunan Otadu diantaranya Lahaa,Bonu,Pundo,dan Djasrin (Rindu).

peta kolaka

Selanjutnya sekitar tahun 1808 Lasipole dilantik menjadi Bokeo Mekongga menggantikan kakaknya bokeo Lasikiri yang wafat. Bokeo Lasipole dipilih atas musyawarah aparat kerajaan termasuk ketujuh Toonomotuo, beliau dilantik di Katabole dan disumpah sesuai adat Mekongga (Tinotonoo dan Pinotoro). Bokeo Lasipole juga dekenal dengan gelar BokeooHa,Karena raja yang memerintah di seluruh kerajaan Mekongga,karena pada saat itu ada juga raja yang memerintah cuman pada satu daerah/ wilayah bagian kerajaan saja.

Pada saat Bokeo Lasipole dinobatkan menjadi raja Mekongga ke – X ,beliau didampingi oleh permaisurinya yang bernama Tunggo (Sangia Uwa).Tunggo adalah putri dari Tendeao dan Wasinan,sedangkan kakek dari ayah Laloase (Sangia Ngginiburu) atau juga dikenal dengan Tabutoalo.Laloasa masih asudara sebapak dengan kakek Bokeo Lasipole yaitu Sangia Nilulo. Jadi kalau menurut silsilah kekeluargaan antara bokeo Lasopola dan Tunggo masih bersepupu dua kali.

Dari perkawinan Bokeo Lasipole dan Tunggo mereka mempunyai anak sebanyak lima orang yang kemudian dua orang dari anak mereka memerintah dikerajaan Mekongga.

Adapun Anak-anak Lasipole dari istri permaisurinya Tunggo adalah sebagai berikut:

  1. Bokeo More (Mburi) adalah anak pertama dari Bokeo Lasopole yang dipersunting oleh Turu, Kemudian beliau di nobatkan menjadi Bokeo Mekongga ke- XII, yang memerintah dari tahun 1828-1860. Pada saman pemerintahannyalah beliau sempat membuat TIMBAWO DAN Tabere yang sekarang masih tersimpan pada Ny.Waode Lowa.
  2. Bokeo Bula ( I Bio) merupakan anak kedua dari Bokeo Lasipole yang di nobatkan menjadi Bokeo Mekongga Ke XIII menggantikan kakaknya Bokeo more dan beliau memerintah tahun 1860-1906, beliau mempersunting Dambu dan menurunkan anak Laparuru. Pada tahu 1906 dengan masuknya belanda maka beliau mengungsi ke Tariisi sedangkan aparatnya Membulo mengungsi ke rate-rate. Kemudian pada tahun 1906 Bokeo Bula digantikan oleh kemenakannya yang bernama Bio Seka (Bokeo Latambaga).Pada jaman pemerintahan Bokeo Latambaga, beliau memanggil dan melantik Mambulo ( Laharabi) menjadi Mokole di Rate-Rate.
  3. Nalinggode, Merupakan anak ketiga dari Bokeo Lasipole yang dipersunting oleh Salengga, kemudian menurunkan anak, diantaranya Kesa,Payangga,Siha dan Lamanua.
  4. Teo, Merupakan anak keempat dari Bokeo Lasipole yang dipersunting oleh Lamokara (Cucu Wasahari,Anak Wasitau). Teo kemudian mempunyai anak ,diantaranya Watala,Mesako,dan Wetonggano (Ibunda Ny.Wado). yang menyimpan barang pusaka peninggalan Sangia Larumbalangi.
  5. Dadao, Anak Bokeo Lasipole yang dipersunting oleh (Cucu dari Kapita Lapaga/ Kapita Watu). Dari perkawinan tumbe dan Dadao kemudian mempunyai anak Bio Seka dan sinau. Bio Seka yang berarti Laki-laki Pemberani juga dikenal dengan nama Latambaga, beliau mempunyai anak diantaranya: Kapita Konggoasa, Wendehake, Budu, Garu dan Musi. Bokeo Latambaga adalah raja Mekongga dari tahun 1906-1932.

Kemudian Bokeo Lasipole menikah lagi dengan Wahide dam mempunyai anak tiga orang yaiti: Wena,Tola dan Dimbara.

BENDERA SANGIA NIBANDERA

bendera kerajaan

Asal-Usul Bendera

      Seperti tang telah disebutkan didepan bahwa bendera tersebut berasal dari kerajaan Luwu. Yang diserahkan oleh Datu Luwu Alimuddin Settia Raya kepada Sangia Nibandera karena beliau ikut membantu  raja Luwu dalam peperangan melawan kerajaan Suppa dan atas bantuan Sangia Nibandera, maka Luwu dapat memenangkan peperangan tersebut.

Selanjutnya bendera tersebut menjadi bendera kerajaan Mekongga mulai abad ke 17 atau sejak zaman pemerintahan Sangia Nibandera.

Sebagai bendera yang disakralkan dan mempunyai nilai historis maka bendera tersebut sejak pemerintahan Sangia Nibandera sampai pemerintahan raja terakhir Bokeo Latambaga,bendera tersebut selalu dijaga,dipelihara dan dipertahankan sampai indonesia merdeka pada tahun 1945,bahkan sampai penjajahan jepang dan masuknya kembali belanda (NICA) di Mekongga.

Pada masa penjajahan belanda (NICA) bendera tersebut selalu dicari dan ingin diambil oleh belanda ,karena menurut mereka bendera tersebut adalah alat pemersatu dan juga mempunyai nilai kesaktian yang luar biasa.

Pada saat Lowa menjabat sebagai kepala kecmatan Mekongga (Sekarang kecamatan Wundulako) maka bendera Sangia Nibandera dipegang /disimpan oleh beliau.

Asal-Usul Nama Mekongga

Sebelum dikenalnya nama Mekongga wilayah ini ada yang menyebutnya Wonua Unenapo (negeri Orang Unenapo), Wonua Kongga (negeri yang pernah mendapat gangguan burung raksasa), Wonua Wiku (negeri belut) dan Wonua Sorume yang berarti negeri angrek.gadis

Dalam perkembangan selanjutnya, suatu peristiwa yang menimpa wilayah ini yaitu adanya gangguan keamanan dari seekor burung elang besar, yang dalam Bahasa Mekongga disebut Kongga Owose/Konggaaha. Di tengah-tengah penderitaan penduduk yang ada di daerah ini terjadilah suatu peristiwa yang ajaib, karena tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang tidak diketahui asal-ususlnya (dalam tradisi lisan disebut: melayang dari udara yang turun dari langit menaiki sarung kesaktian dan lengkap dengan keris emas di pinggangnya). Ia menyebut dirinya Larumbalangi, orang banyak menyebutkan To Manuru atau Sangia Ndudu artinya orang yang turun dari langit (atas). Ia adalah turunan dewa-dewa yang dalam Bahasa Mekongga disebut Sangia Ndudu.

Orang banyak kemudian datang menyembah dan menghormatinya karena ia adalah seorang sakti dan turunan dewa-dewa (Sangia). Kedatangannya di Unenapo dianggap suatu hal istimewa karena ia telah diutus oleh Sangia Ombu Samena untuk melepaskan orang banyak dari malapetaka karena keganasan burung Konggaaha.

Orang banyak kemudian menghadap dan menyampaikan keluh kesah, penderitaan mereka selama dalam gangguan Konggaaha. Larumbalangi menerima permohonan orang banyak dan berjanji akan menghilangkan malapetaka itu dan melepaskan rakyat dari penderitaan dan kesengsaraan dengan membunuh Kongga Owose itu. Sebaliknya Larumbalangi meminta kepada orang banyak untuk mau bersatu dalam mengahadapi upaya pemusnahan Konggaaha. Orang banyak disuruhnya mengambil buluh, yaitu sejenis bambu yang diruncing. Dalam bahasa Mekongga disebut O Sungga. Dalam waktu singkat, maka tersedialah Sungga, selanjutnya disuruh pancangkan di tanah, pada tempat yang diperkirakan mudah dilihat oleh Konggaaha dari udara Osu Mbegolua.cergam

Di tengah-tengah pancangan Sungga ini, berdiri seorang tamalaki yang bernama Tasahe, sebagai umpan untuk menarik Konggaaha, bila ia datang mencari mangsanya. Menurut tradisi lisan bahwa Konggaaha ini tinggal di Puncak Gunung di hutan rimba di Hulu Sungai perbatsan Wundulako dengan Ladongi, tidak jauh dari lokasi Osambegolua dan Gua Watuwulaa. Orang selalu melihat Konggaaha ini datang dari arah ini, setelah persiapan untuk melawan dan membunuh Konggaaha ini rampung, maka tiba-tiba terdengarlah bunyi menderuh-deruh dari jauh. Bunyi ini adalah bunyi kepak sayap burung Konggaaha. Setiap laki-laki disuruh bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Masing-masing dengan alat senjatanya, seperti tombak dan taawu (parang). Dari besarnya burung ini, maka cahaya matahari terlindung olehnya dan merupakan suatu bayangan besar di bawahnya. Larumbalangi sendiri pergi berdiri di pucak Bukit Osumbegalua, siap memberi perintah kepada seluruh laki-laki untuk menyerbu Konggaha. Seorang Tamalaki bernama Tasahea diperintahkan oleh Larumbalangi masuk di tengah-tengah bambu runcing sebagai umpan Konggaaha, Larumbalangi mengorganisir warga untuk siap memberi perintah kepada segenap masyarakat, laki-laki, perempun, dan anak-anak masuk bersembunyi di Gua Watuwulaa.

Biasanya dalam keadaan demikian orang banyak akan lari bersembunyi dengan gemetar ketakutan, tetapi saat ini keadaan menjadi lain karena melihat bahwa Larumbalangi ini sendiri yang akan menghadapinya dengan penuh keberanian tanpa ragu-ragu karena yakin bahwa ia akan berhasil melaksanakan tugas dan kewajiban yang sudah dipercayakan oleh orang banyak, sebagai suatu tanggung jawab yang maha berat tetapi sangat mulia.

Ketika Konggaaha melihat ada orang di bawah, maka ia melayang-layang berputar-putar untuk melihat mangsa mana yang akan disambarnya. Tetapi melihat ada seorang manusia (Tasehea), maka dengan cepat Konggaaha menyambar turun bersamaan dengan tertikamnya badan Konggaaha dengan Osungga, karena merasa sakit, maka Konggaaha terbang kembali ke udara. Darahnya bercucuran dari luka-lukanya. Konggaaha melayang-layang berkeliling di udara. Menurut kisah di mana darah burung Konggaaha itu bercucuran maka tanahnya menjadi merah seperti di Pomalaa. Karena luka parah, maka tenaga Konggaowose berkurang dan akhirnya ia jatuh mati di hilir sungai dekat Usambegalua yang kemudian dinamai Lamekongga.

Sumber sejarah Sulawesi Tenggara diungkapkan dalam lontarak bahwa pada masa Sawerigading terdapat empat kerajaan, yaitu: Kerajaan Luwu, Kerajaan Cina, Kerajaan Tompo Tikka, dan Kerajaan Wadeng. Kerajaan Luwu berpusat di sekitar Danau Matana, Kerajaan Cina di Bone/Wajo dan Kerajaan Tompo Tikka terdapat di Sulawesi Tenggara dalam hal ini Kerajaan Mekongga dan Kerajaan Wadeng adalah Kerajaan Konawe. Berdasarkan ungkapan Bahasa Bugis Tompo Tikka artinya wilayah Tomporeng Kesso=wilayah tempat terbitnya matahari di sebelah timur. Wilayah Sulawesi Tenggara bagi orang Bugis dikenal dengan nama Tana Lau= negeri di sebelah timur. Bagi pelaut Bugis menyebut Mekongga dengan nama Mengkokaa.

Berdirinya kerajaan-kerajaan tradisional di wilayah Kolaka ini berawal dari kedatangan Rongo Patambulo=rombongan yang beranggotakan 40 orang. Mereka berjalan kaki dari wilayah Konawe ke Rahambuu sekarang berada di wilayah Kecamatan Batu Putih. Sesampai di tempat ini mereka mendirikan rumah dengan 88 buah tiangnya untuk dihuni oleh 40 orang yang terdiri atas 8 kelompok yang diberi gelar Mokole Miaso. Mereka kemudian membentuk 5 Mokole, yaitu:

Mokole Masiku (sekarang berkolasi di wilayah Kecamatan Batu Putih) Mokole Watunohu (sekarang berkolasi di wilayah Kecamatan Ngapa) Mokole Kodeoha (sekarang berkolasi di wilayah Kecamatan Kodeoha) Mokole Lelewawo (sekarang berkolasi di wilayah Kecamatan Batu Putih) Mokole Latowu. (sekarang berkolasi di wilayah Kecamatan Batu Putih)

Sumber lain menyatakan bahwa pada masa awal terdapat 4 kerajaan kecil, yang kemudian dikenal dengan patampanua (empat negeri/kampung), yaitu: Mokole Kodeoha Mokole Watunohu Mokole Lelewawo Mokole Latowu.

Dalam wilayah Mokole Kodeoha telah memerintah sebanyak 27 Mokole, dan Mokole terakhir bernama Suma. Salah seorang diantara Mokole Kodeoha berasal dari Luwu yaitu Opu To Mattangkilang yang diutus oleh Datu Luwu Andi Jemma, namun tidak lama memerintah karena tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah Pusat (Datu Luwu).

Temuan arkeologis menunjukkan bahwa di Kerjaan Mekongga pernah dibangun sebuah benteng terbuat dari tanah (tumpukan tanah) yang terletak di Desa Bende . Kecamatan Wundulako. Dari hasil artepak yang ditemukan di situs benteng dan sekitarnya ditemukan alat-alat persenjataan, mata uang dan wadah keramik. Benda-benda tersebut tersimpan di rumah penemunya yang merupakan keturunan dari Latoranga di Kecamatan Wundulako Kabupaten Kolaka. Analisis awal yang tampak dari benda-benda tersebut, baik bentuk, fungsi, bahan, motif hiasan, dan aksara yang tampak pada bendanya, diperkirakan sejarah kuno komunitas Mekongga belangganan antara abad XVII-XIXM. Hal ini diperkuat juga adanya temuan keramik Cina dari Dinasti Ching dan keramik Eropa abad 18-19 (Anonim, 2007: 33).bende

Nama Desa Bende merupakan upaya pelestarian budaya secara alamiah yang dilakukan oleh masyarakat sebagai tempat penemuan benteng ini, karena kata bende dalam Bahasa Mekongga berarti benteng. Nama tempat ini selalu mengingatkan masyarakat akan arti dan makna histories yang ada di di daerah itu yaitu adanya benteng yang telah dibangun untuk menjadi tempat pertahanan Kerjaan Mekongga melawan ancaman dari luar. Salah satu ancaman yang sering diungkapkan secara lisan oleh masyarakat pada zaman kerjaan dulu adalah petualangan bajak-bajak laut Tobelo. Pendirian benteng tersebut dibangun sebagai tempat berlindung saat berperang antara satu kerajaan dengan kerajaan lainnya, juga sebagai pusat pengendalian suatu kerajaan atau pemukiman pusat kerjaan dimana istana raja dan bangsawan berada.

pelantikan bokeo

pelantikan Khaerun Dahlan sebagai Bokeo Mekongga ke XX

Hubungan Kerajaan Mekongga dengan Kerajaan Tetangga

Setelah terbentuknya Kerajaan Mekongga, pusat pemerintahannya berkedudukan di Kowioha atau Wundulako sekitar 13 km dari Kota Kolaka sekarang ini. Pada tahun 1906 ibu kota Kerajaan Mekongga pindah ke Kolaka, dan Bokeo yang memerintah pada saat itu Bokeo Latambaga hingga tahun 1932.

Hubungan Kerajaan Mekongga dengan tetangganya adalah kerajaan Konawe, Kesultanan Buton, Kerjaan Muna, Kerajaan Tiworo, Kerajaan Moronene. Hubungan dengan kerajaan lain di luar Jazirah Tenggara terutama dengan Kerajaan Luwu dan Kerajaan Bone. Dari beberapa sumber yang ada menyatakan bahwa asal usul kedatangan Orang Tolaki (Konawe) dan Orang Mekongga berasal dari arah utara pedalaman sekitar danau Matano dan Mahalona (Anonim. 1982, 1977).

Dalam tradisi Orang Tolaki dinyatakan bahwa Suku Tolaki kemudian terbagi atas Orang Tolaki Konawe (Tololaki= sebutan oleh Orang Bugis dan Buton) untuk masyarakat Kerajaan Konawe (sekarang Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, dan Konawe Utara) dan Orang Mekongga (Mengkokaa= sebutan oleh Orang Bugis) untuk masyarakat Mekongga (sekarang Kabupaten Kolaka ,Kolaka Utara dan Kolaka Timur), mereka berasal dari satu rumpun suku bangsa yang kemudian dikenal dengan nama Orang Mekongga. Rombongan lain mengikuti lereng Gunung Watukila lalu membelok ke barat daya akhirnya tiba di suatu tempat yang bernama Unenapo, Lambo, Wolo, Puehau, dan Wunggolaka yang selanjutnya berkembang dan diberi nama sekarang Orang Mekongga (Laporan Badan Litbang Agama, Balai Penelitian Lektur Keagamaan Ujung Pandang, 1986/87).

Sampai sekarang ada pendapat bahwa asal usul Orang Mekongga berasal dari sekitar danau Matano Malili Kabupaten Luwu yang berpindah ke arah selatan melalui sungai yang terkenal di daerah Sulawesi Tenggara, yakni sungai Konaweha. Sungai Konaweha merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Sulawesi Tenggara, hulunya berada di daerah Kabupaten Kolaka di kaki gunung Mekongga dan bermuara di daerah Kabupaten Konawe. Perpindahan secara besar-besaran penduduk dari daerah danau Matano terutama setelah tumbangnya pohon Welande (istilah Tolaki) dan Welandrangnge (istilah Bugis) di jaman Sawerigading sekitar abad ke XIII dan XIV.

Danau Matano dalam peta pulau Sulawesi terletak di sekitar danau Towuti kewedanaan Malili, kerajaan Luwu pada masa itu mereka melalui dua jalur, yakni kelompok pertama melalui daerah Mori Bungku, terus memasuki bagian timur laut daratan Sulawesi Tenggara dan ada yang melalui danau Towuti kea rah selatan dan tinggal beberapa lama di Rahambuu. Kelompok kedua mengikuti lereng gunung Watukila, lalu membelok ke barat daya dan sampailah di tempat-tempat yang dinamakan, Ulunggoloka, Kodeoha, Wolo, dan Puehu yang kemudian menjadi masyarakat Mekongga. Kelompok lain mengikuti kali besar (istilah Tolaki Konaweeha) dan berdomisili di suatu tempat yang disebut Andolaki.

Kelompok inilah yang melanjutkan perjalanan mengikuti kali besar (Konaweeha) mendesak penduduk lama, yakni orang Moronene yang menurut penyelidikan para ahli dikenal sebagai orang Tokia Toaere di Poli-polia wilayah Kecamatan Lambandia Mekongga, dan akhirnya tibalah mereka di suatu daratan rendah yang kelak disebut Unaaha (padang luas). Pimpinan mereka namanya Larumbesi atau lebih dikenal Tonggolowuta. Dari Unaaha terpencarlah mereka mencari tempat-tempat untuk berladang, berburu, dan sebagainya yang kemudian berkembang keturunan mereka. Pimpinan mereka adalah datuk-datuk yang dipanggil PUE dan dari beberapa kelompok yang berdekatan dipimpin pula oleh seorang sesepuh yang diberi gelar Mokole (raja). Dari beberapa generasi kemudian berkembang menjadi berberapa persekutuan hidup berupa masyarakat Tolaki yang dipimpin oleh Mokole masing-masing, antara lain: Mokole Padangguni, Mokole Wawolesea,dan Mokole Besulutu.

Keturunan dari Bokeo Padangguni muncul seorang pemimpin (raja) yang diberi gelar Totongano Wonua (penguasa di pusat negeri). Totongano Wonua berjuang mempersatukan negeri-negeri disekitarnya dibawah pimpinan para Mokole mereka yang berkedudukan di Unaaha. Berdasarkan tradisi orang Tolaki bahwa pada masa itu tibalah di Unaaha seorang putri dari kerajaan Luwu bernama Wekoila, ia diperistrikan oleh Ramandalangi dan diberi gelar Langgai Moriana (putra Totongano Wonua). Kemudian diangkat (dinobatkan) menjadi Mokole (raja) More (wanita) kerajaan Konawe pada abad ke 10, setelah Sri Ratu Wekoila menjadi Mokole Konawe yang pertama (Abd-Hamid, 2006: 6).

mondahu-ndahu

festival Lulo

Dari manakah asal mula orang Mekongga dan kapankah mereka bermukim di daerah Sulawesi Tenggara ini, belum dapat kita ketahui secara pasti, walaupun kita bisa membuat suatu dugaan. Untuk hal itu saya menggunakan empat buah cerita rakyat, yakni: (1) Oheo, yang menceritakan bahwa orang pertama nenek moyang suku bangsa Tolaki berasal dari pulau Jawa, khususnya dari daerah kaki gunung Arjuna, kemudian kawin dengan Anawai Ngguluri, salah seorang dari tujuh gadis bidadari bersaudara yang berasal dari langit; (2) Pasa’eno, yang menceritakan bahwa ia adalah putra dari Wesande, seorang wanita tanpa suami yang hamil karena minum air yang tertampung pada daun ketika ia memotong pandan di hutan rimba di pegunungan hulu Sungai Mowewe (Kruijt, 1920: 694; van der Klift, 1925: 68); (3) Wekoila dan Larumbalangi, yang menceritakan tentang dua orang bersaudara kandung wanita-pria yang turun dari langit dengan menumpang pada sehelai sarung (Treffers, 1914: 203; Kruijt, 1921: 962); (4) Onggabo, yang menceritakan tentang seorang laki-laki raksasa yang berasal dari sebelah timur melalui Sungai Konaweeha, datang ke Olo-Oloho ibu kota pertama kerajaan Konawe, dan kawin dengan Elu, cucu Wekoila.

Hasil analisa yang akan lebih mendekati kebenaran mengenai bahasan-bahasan tersebut, secara objektif hanya dapat dicapai apabila dilakukan penelitian kerja sama dengan para ahli linguistik, filologi, dan arkeologi. Namun demikian, untuk sementara saya menduga bahwa Orang Konawe dan Orang Mekongga datang ke wilayah daratan Sulawesi Tenggara ini dari arah utara dan timur. Mungkin mereka yang datang dari arah utara itu berasal dari Tiongkok Selatan yang melalui Pilipina Kepulauan Mindanao, Sulawesi Utara, Halmahera, dan Sulawesi bagian timur, terus memasuki muara sungai Lasolo atau Konawe’eha dan akhirnya memilih lokasi pemukiman pertama di hulu sungai itu, yakni pada suatu lembah yang luas, yang dinamakan Andolaki (Sarasin, 1905: 374; Kruijt, 1920: 428). Orang Tolaki pada mulanya menamakan dirinya Tolahianga (orang dari langit). Mungkinkah yang dimaksudkan di sini dengan istilah “langit” adalah kerajaan langit, yakni Cina seperti yang dimaksudkan oleh M. Granat (Nsaha, 1973: 53). Kalau demikian, maka mungkinkah kata hiu yang dalam bahasa Cina berarti “langit” dihubungkan dengan kata heo (Tolaki) yang berarti “ikut pergi ke langit”. Mereka yang datang dari arah selatan mungkin berasal dari Pulau Jawa melalui Buton dan Muna dan memasuki muara sungai Konawe’eha dan terus memilih lokasi pemukiman di Toreo, di Landono, dan di Besulutu.

Menurut sumber lisan bahwa Kerajaan Konawe dan Kerajaan Mekongga masing-masing didirikan oleh dua orang bersaudara kakak-adik, yakni Wekoila dan Larumbalangi. Pusat Kerajaan Konawe mula-mula berlokasi di Olo-Oloho di pinggir Sungai Konaweeha di Desa Uepai sekarang, kemudian pidah ke Unaaha. Adapun Kerajaan Mekongga berpusat di Wundulako. Mula-mula raja disebut Anakia, artinya bangsawan, selanjutnya jabatannya disebut Bokeo. Kerajaan Konawe pernah tenggelam karena wabah penyakit yang digambarkan sebagai keganasan biawak raksasa dan kerbau yang berkepala dua, yang menghabiskan manusia di Konawe, demikian juga kekalutan dalam Kerajaan Mekongga digambarkan sebagai keganasan burung garuda.konawe

Dalam situasi demikian datanglah Latuanda, seorang dukun dan menyelamatkan penduduk dari wabah yang digambarkan sebagai pembunuh biawak dan kerbau tersebut. Sementara itu, tibalah Onggabo yang mengawini gadis sisa wabah bernama Elu gelar Kambuka Sioropo Korembutano, dan dari perkawinan itu lahirlah putra-putra Onggabo yang keturunannya kemudian meneruskan babat tanah Konawe. Mereka dikenal oleh penutur silsilah raja-raja sebagai nama-nama yang tersusun dengan tata urut sebagai berikut, yakni: Sangia Mbina’uti, Sangia Inato, dan Sangia Nggiboburu. Situasi yang sama terjadi di Mekongga dimana penduduk negeri Mekongga diselamatkan oleh Larumbalangi setelah ia memimpin usaha pemulihan kekalutan yang digambarkan sebagai pembunuhan burung kongga (garuda). Jadilah ia raja pertama Kerajaan Mekongga, dan diteruskan kemudian oleh cucu-cucunya yang berturut-turut bernama Mumualo, Lombo-Lombosa atau Sangia Nilulo, dan Laduma atau Sangia Nibanderai (Kruijt, 1922: 692).

lulo sangia

Lulo Sangia

Cerita Konggaaha identik dengan cerita rakyat Larumbalangi, seorang tokoh yang dikisahkan sebagai putra dari kayangan yang turun ke bumi, La = laki-laki, rumba = jatuh/turun/terobos; langi = langit. Jadi Larumbalangi artinya laki-laki yang turun atau jatuh dari langit. Beliau dijadikan simbol Orang Mekongga sebagai pahlawan, penyelamat, dan dialah yang berhasil menyusun ide dan strategi membunuh burung Konggaaha, dijadikan sebagai panutan oleh rakyat Unenapo pada waktu itu dan pada akhirnya Larumbalangi dinobatkan menjadi Bokeo Mekongga (Bakri, 2006: 22).

Orang Konawe mendiami Kerajaan Konawe (Wekoila) dan Orang Mekongga mendiami Kerajaan Mekongga (Larumbalangi). Sebelum Orang Mekongga mendiami wilayah Kolaka, maka Suku Moronene yang berasal dari utara atau daratan Asia Timur kemudian menyeberang ke Philipina, kemudian masuk di Sulawesi Utara, selanjutnya menyusur ke selatan akhirnya sampai di Sulawesi bagian Tengah, kemudian bergerak ke selatan dan Tenggara akhirnya sampai di wilayah Mekongga. Orang Mekongga kemudian menyusul masuk ke Kolaka berasal dari rumpun yang sama dapat dilihat dari kajian filologi melalui persamaan suku kata yang digunakan. Alasan bahwa Orang Mekongga berasal dari hulu sungai Mekhong di Asia Tenggara, karena adanya daleka (baba) pada setiap Orang Tolaki. Orang Mekongga masuk ke Kolaka dari danau Matana menempuh dua jalur, yakni: (1) lewat darat melalui pegunungan Watukila, (2) dari Luwu melalui jalur laut menuju Kolaka. Bukti sejarah tidak dapat diingkari bahwa Kerajaan Mekongga pernah menjalin hubungan erat dengan Kerajaan Luwu, hubungan ini dapat dibandingkan dengan hubungan Kerjaan Turki Usmania dengan Kerajaan-Kerjaan Islam di Dunia pada Zamannya, dimana sultan yang memerintah di suatu kerjaan akan dipandang kuat setelah mendapat pengakuan dari Sultan Turki. Kesepakatan antara Raja Luwu dan Raja Mekongga saat Raja Luwu meminta bantuan dalam menghadapi perang terhadap Belanda dan Perang Melawan Suppa. Salah satu bunyi kesepakatannya adalah sebagai berikut: “susano o Luwu susano Mekongga.lulo

Di daerah Malili tepatnya di Gunung Pongkeru sekitar 10 KM dari ibu kota Desa Karebe terdapat dua makam pertama adalah Raja Mekongga dan lainnya kuburan hartanya yang berjarak antara 5 meter, kuburan tersebut selalu bersih. Demikian juga adanya Sinangke (parang) yang sering ditemukan orang dalam gua, sinangke tersebut adalah milik Raja Mekongga yang dipakai sebagai senjata perang.

Hubungan di bidang pemerintahan berjalan dengan harmonis saling menghargai. Selain di bidang pemerintahan bentuk hubungan yang lain antara Kerajaan Luwu dan Kerajaan Mekongga terjalin melalui perkawinan silang antara Orang Luwu dari Kerajaan Luwu dengan Orang Mekongga dan antara Orang Bugis dari Kerajaan Bone dengan Orang Mekongga dan Orang Luwu. Melalui proses perkawinan silang antara penduduk tiga kerajaan yang bersahabat semakin mempererat hubungan kekerabatan hal ini dapat dilihat dalam penggunaan bahasa sehari-hari, khususnya di wilayah Kolaka Utara penduduk setempat dapat berbicara dalam tiga bahasa, yakni: Bahasa Bugis, Bahasa Luwu, dan Bahasa Mekongga. Proses perkawinan tersebut di atas juga berpengaruh dalam bidang pemerintahan dan tidak terjadi diskriminasi dalam posisi politik antara penduduk keturunan dan pendudukan asli dimana banyak keturunan Luwu-Mekongga-Bugis yang menduduki jabatan strategis dalam struktur pemerintahan di Kerajaan Mekongga. Penduduk Kerajaan Mekongga memiliki sikap terbuka dan akomodatif, sementara para pendatang sangat menghargai budaya setempat, sehingga dapat terjalin proses adaptasi baik dari segi budaya maupun tali perkawinan yang berlangsung hingga saat ini.

kedatuan luwu

kedatuan Luwu

Hubungan dengan Mekongga dan kerajaan-kerajaan tetangganya berlaku dalam kata Bahasa Bugis, terutama di Kerajaan Luwu yang berkata Poadei ademu, bicarai bicaramu dan dalam Bahasa Tolaki yaitu: Wowali saramu kiwowaiito Inesaramami artinya laksanakan adatmu sendiri dan pergunakan bahasamu sendiri. Jelas bahwa setiap kerajaan itu, tidak saling mencampuri urusan dalam kerajaan lain. Tak dapat pula disangkal bahwa hubungan antara kerajaan-kerajaan tetangga ini adalah akibat karena kawin antara mereka sebagai suatu alat pendekatan hidup berdampingan dengan aman dan damai.

Dalam perkembangan selanjutnya atas kesepakatan bersama sehingga Kerajaan Luwu menempatkan perwakilan diplomatiknya di Kerajaan Mekongga, namun dalam perkembangan selanjutnya juga berperan sebagai Duta Besar yang mengurus kepentingan politik Kerjaan Luwu di Kerajaan Mekongga. Perwkilan itu disebut Mincara Ngapa (Sullewatang Ngapa). Tercatat sejak tahun 1907 ketika Hindia Belanda menguasai Mekongga telah ada Sullewatang Ngapa yang berkeudukan di Kolaka dan berturut-turut yang pernah menjabat sebagai Sullewatang Ngapa adalah: (1) Andi Malla Opu Toparelleseng, (2) Andi Makkasau Petta Roppo, dan (3) Andi Kasim.

latambaga dan anak srta ponaan

Latamoro,Bokeo Latambaga dan Konggoasa; Bokeo Latambaga adalah Bokeo pada saat Belanda masuk ke Kolaka

Pada waktu Belanda menduduki Daerah Kerajaan Mekongga, maka sudah ada diplomat Luwu yang disebut Sulewatang Ngapa, yang berarti (Sulle = ganti, dan watang = tubuh) jadi berarti pengganti diri dari Datu. Kata Ngapa berarti tanah yang berada di sepanjang pantai laut Kerajaan Luwu. Pada tahun 1908 ketika Belanda menguasai Daerah ini, maka satu wilayah di Kolaka yang disebut Patampanue, mulai dari batas sungai PakuE sampai tanjung Patikala, diserahkan pada Malili. Ketika Datu Luwu yang baru dilantik yaitu Andi Patiware Jemma di Luwu yaitu ke-36 Kerajaan Luwu. Pada tahun 1935 maka wilayah itu kembali kepada Kolaka, hingga sekarang ini. dengan demikian wilayah Kolaka menjadi utuh kembali. Menurut tradisi di Mekongga dan Luwu bahwa jikalau Datu Luwu hendak datang ke Mekongga maka terlebih dahulu harus singgah di Lelelwawo, karena di tempat itu ada sebuah batu, yang ada taoak kaki. Sebelum Datu Luwu meneruskan perjalanan, maka terlebih dahulu ia menginjakkan kakinya pada telapak kaki yang ada pada batu itu. Bilamana hal ini dilangkahi maka akan terjadi tulah. Ada suatu kalimat yang menarik yang sering diucapkan oleh orang-orang di Mekongga ialah “Susano O Luwu Susano Mekongga” artinya susahnya Luwu adalah susahnya Mekongga. Datu Luwu diakui sebagai Raja yang mulia diantara raja-raja karena ialah yang tertua. Tentu hal itu tidak terlepas dari asalusul raja-raja di Mekongga yang dimulai dengan Larumbalangi (Larumpalangi).

Sejak awal sering Raja Mekongga mengunjungi/menjenguk Datu Luwu sebagai tanda persaudaraan dengan membawa Ambahi Sorume (Tikar Alemmi), madu, ayamputih dan lain-lain. bawaan ini adalah sebagai tanda persaudaraan yang disebut “Kesusurino Datu”. Diriwayatkan bahwa bilamana orang-orang Mekongga mengunjungi Datu Luwu maka orang Mekongga tidak terikat dengan adat Luwu, mereka boleh duduk bebas untuk menghormati Datu Luwu. Untuk membalas bingkisan raja di Mekongga maka dibingkiskan pula barang-barang berharga. Bilamana utusan akan kembali maka rombongan Mekongga terlebih dahulu membersihkan kolam mesjid di Palopo dan mengisinya sampai penuh. Ini berlaku pada zaman pemerintahan Laduma Sangia Nibandera.

Naskah_Lagaligo

Naskah La Galigo

Jika konsep La Galigo menyebut adanya tiga negeri yaitu: negeri bawah, negeri tengah, dan negeri atas. Maka dapat ditafsirkan bahwa negeri atas adalah Tana Toraja (Bhurhanuddin, 1981), negeri tengah adalah Luwu, dan negeri bawah adalah pemukiman suku laut di perairan Teluk Bone (Ussu dan BajoE) di mana orang Bajo yang ada di Sulawesi Tenggara mengakui sebagai asal-usul leluhur mereka.

Kerajaan-kerajaan tradisional di Sulawesi Tenggara mengakui adanya hubungan historis dengan Sawerigading dari Luwu. Di Sulawesi Tenggara kehadiran Sawerigading selalu dihubungkan dengan kedatangan To Manurung (orang asing). Persepsi yang sama juga ditemukan pada tradisi di kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan, seperti: Gowa dan Bone. Pada sisi lain suku Bugis, suku Makassar, Suku Mandar dan suku Massenrempuluk mengakui pula bahwa asal-usul nenek moyang mereka berasal dari Ussuk, diperkuat dengan tradisi raja-raja Bugis, Makassar, dan Mandar menghormati Raja Luwu sebagai primus interparis (Abidin, 1995). Dalam lontarak Bajo (ditulis orang Bajo di Kendari) juga mengakui asal-usul nenek moyang mereka berasal dari Ussuk, dan kerajaa-kerajaan tradisional di Sulawesi Tenggara (Mekongga, Konawe, Wuna, dan Wolio) mengakui asal-usul raja-raja mereka berasal dari keluarga Raja Luwu (Sawerigading).rumah adat

Di Kerajaan Mekongga ditandai dengan kedatangan Larumbalangi yang berhasil membunuh burung kongga, kelak menjadi raja pertama di Kerajaan Mekongga pada abad XIII. Di Konawe Tomanurung ditandai dengan kedatangan Wekoila yang merupaka raja pertama di Kerajaan Konawe sekitar abad XI. To Manurung di Wuna disebut Beteno ne Tombula orang yang keluar dari ruas bambu yang kelak menjadi Raja Wuna Pertama juga kawin dengan perempuan To Manurung. Wakaaka merupakan To Manurung di Wolio kelak juga menjadi Raja Wolio Pertama (Anonim, 1982).

Di Kerajaan Mekongga berdasarkan tradisi lisan menyebutkan bahwa raja pertama di Kerajaan Mekongga berasal dari luar. Ia disimbolkan sebagai manusia luar biasa yang mampu mengalahkan burung Kongga yang sering memangsa manusia, dikisahkan bahwa menjelang kedatangannya terjadi masalah munculnya burung Kongga yang memangsa bukan hanya manusia tetapi juga binatang. Tradisi Mekongga menyebutkan bahwa Larumbalangi, dari kata La=Laki-laki, rumbalangi=jatuh/rebah atau merebah pohon yang ditebang.

Menurut Mekuo (1986) La Rumpalangi (Bahasa Tolaki: menggemuruhkan langit; dalam bahasa Bugis: La Rumpa Langii dari kata: La =orang/laki-laki; Rumpa=membobol; langii=langit atau laki-laki yang dapat membobol langit) datang dari kayangan dengan menumpang sehelai sarung bersulam emas. Ia datang di daratan Sulawesi Tenggara bersama dengan kerabatnya yaitu Wekoila (Mokole Konawe). Jika dihubungkan dengan keberadaan burung Kongga yang besar, maka kedatangan La Rumpalangi dapat membobol langit. Ia melakukan taktik perlawanan dengan menanam bambu-bambu runcing sebagai senjata perangkap untuk menjebak dan membunuh burung kongga, taktik ini berjalan dengan efektif sehingga burung kongga berhasil dilumpuhkan oleh La Rumpalangi.

mahkota raja

mahkota kerajaan Mekongga

Masyarakat Mekongga menganggap bahwa La Rumpalangi sebagai penyelamat yang telah menyelamatkan penduduk yang terancam maut oleh burung kongga. Oleh karena itulah, maka setelah negeri ini aman dan La Rumpalangi diangkat menjadi Anakia (raja), mereka menamai kerajaannya dengan Mekongga (sekarang menjadi Kabupaten Kolaka). Tradisi setempat mengakui bahwa La Rumpalangi adalah perantau dari Luwu.

Tradisi Mekongga mengungkapkan bahwa La Rumpalangi meninggalkan keris (otobo) yang , kain sarung tenun yang digunakan saat datang bersama wekoila,sembilan keping emas murni, motia naga (mustika naga) , dan bibit padi untuk dikembangbiakkan oleh masyarakat Mekongga (Mekuo, 1986).

Saat ini barang-barang peninggalan tersebut masih terawat dengan baik oleh nenek Tunggo di wundulako, banyak pusaka kerajaan yang hilang jaman geromolan tetapi pusaka Larumbalangi tersebut berhasil diselamatkan dengan mempertaruhkan nyawanya, adapun pusaka tersebut berupa Keris tobowula (Keris emas) keris sangia larumbalangi raja pertama mekongga) abad XIII, keris pusaka ini juga termasuk senjata yg d'pakai atau d'bawa turun oleh sangia larumbalangi ketika turun ke bumi ,konon keris ini mempunyai banyak keunikan, selain dimana gagang/hulu terbuat dari emas murni yang menurut nenek Tunggo merupakan kembaran keris Pusaka di Tana Toraja (Negeri Atas asal turunan Tallu Bocco, Toraja, Luwuk dan Gowa) "tetapi keris yang di Toraja sudah tidak bisa dicabut" katanya. Toloa Mbekadu, sarung besar yg di'kendarai oleh kakak beradik sangia Larumbalangi dan Wekoila sewaktu turun dr khayangan (berukuran 3x3m) tepatnya di Kolumba (balandete) abad XIII, rambut sepanjang 9 depa yang sudah tergulung ,Puhenu Owuta sebuah bola kristal  yang di sebut inti bumi atau pusat tanah yang konon digunakan untuk berobat dgn meminum air,dan beberapa peralatan lainnya.

Kedekatan geografis wilayah Mekongga dengan Kerajaan Luwu menguatkan dugaan akan besarnya pengaruh/kepentingan Kerajaan Luwu terhadap Kehidupan sosial budaya dan politik di Mekongga. Beberapa bukti menunjukkan hal itu, antara lain: sejak abad XVI di Mekongga (Kolaka) di tempatkan perwakilannya dengan gelar Mincara Ngapa, kemudian diubah namanya menjadi Sullewatang Ngapa (Sulle=pengganti; watang=pokok/tubuh; ngapa=negeri/tanah yang berada di sepanjang pantai laut) (Abidin, 1995; Anonim, 1982; Bhurhanuddin, 1978).

Pada waktu Belanda menduduki Mekongga tahun 1906, Kolaka menjadi Onderafdeling dalam wilayah Afdeling Luwu dibantu oleh Sullewatang sebagai perwakilan Kerajaan Luwu di Mekongga dan pengangkatan pejabat Kerajaan Mekongga harus mendapat pengesahan dari Datu luwuk.

pengangkatan

Surat Pengangkatan Latumaa sebagai Mokole tahun 1931

Pada masa pendudukan Jepang Sulawesi Tenggara dijadikan Ken Buton dan Laiwoi beribukota Bau-bau meliputi: Bunken Buton, Bunken Muna, dan Bunken Kendari. Sedangkan Bunken Kolaka tetap dalam Ken Luwu, namun tidak lama kemudian sebagian wilayahnya dimasukkan ke dalam Ken Malili yaitu Kolaka Utara. Jabatan swapraja Luwu di Kolaka tetap dipertahankan yaitu Mincara Ngapa yang wilayahnya seluruh Kerajaan Mekongga (Bhurhanuddin, 1979).

Berdasarkan PP RIS No. 21 tahun 1950 Wilayah Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan dipersatukan menjadi Satu Keresidenan di bawah Propinsi Celebes. Kemudian PP Pengganti UU No. 2 tahun 1964, kemudian disahkan menjadi UU No. 13 tahun 1964 menetapkan Kolaka , swapraja Laiwoi, Muna, dan Buton menjadi Propinsi Sulawesi Tenggara (Abidin, 1995).75px-Southeast_Sulawesi_COA.svg

Daerah Mekongga merupakan tempat pertahanan Datu Luwu yang terakhir tahun 1946, dalam perjuangan melawan NICA bersama-sama dengan pemuda dan rakyat Mekongga. Hubungan dalam bidang sosial juga terjalin dengan baik melalui perkawinan. Sebagaimana dikisahkan bahwa banyak pedagang-pedagang bugis yang datang ke Konawe kawin dengan putri dari Kerajaan Mekongga. Demikian halnya dengan kerajaan Mekongga terjalin hubungan perkawinan antara putri Sabandara Buburanda (Kepala Daerah Latoma) yang bernama Wungabae kawin dengan Lombo-Lombo Bokeo Mekongga VI. Dari perkawinan itu Buburanda dari Konawe memberi warisan kepada menantunya, sebagian daerah Latoma yakni batas Kerajaan Luwu sampai batas wilayah Mekongga asli. Dari perkawinan ini lahirlah Teporambe. Buburanda menghadiahkan lagi hampir seluruh daerah Latoma inti di aliran Sungai Konaweeha sehingga daerah wilayah Kerajaan Mekongga meliputi Daerah Kabupaten Kolaka sebelum pemekaran.

umoara Masyarakat Kolaka (Orang Mekongga/Mengkokaa) juga terkenal keberaniannya yang direfleksikan dalam ungkapan filosofinya berbunyi:

Toreano Laewo, tadono taawu. Artinya: Sisanya ombak, bagiannya sinangke

Ungkapan tersebut diakui dalam Sejarah Luwu yang menggambarkan keberanian masyarakat Mekongga dalam menghadapi bajak-bajak laut termasuk pelayar Bugis dari Luwu, Wajo dan Bone.

Sesaana bombang, tawana sinangke Artinya: Sisanya ombak, bagiannya sinangke

Sinangke dalam Bahasa Orang Mekongga disebut Taawu yaitu senjata/parang tradisional Orang Mekongga yang dipakai dalam setiap pertempuran. Ungkapan tersebut bermakna bahwa musuh yang datang harus dihadang dipantai, sehingga mereka akan terombang-ambing oleh gelombang sampai perahu mereka dapat tenggelam, sekiranya perahu mereka tenggelam atau musuh itu berhasil naik dipantai maka harus dilawan dengan senjata sinangke. Didaerah ini ditemukan gua prasejarah di wilayah Kodeoha yang memiliki peninggalan berupa kerangka manusia, cincin emas, sinangke, keramik/piring.

Bagi Masyarakat Mekongga dalam mengembangkan hubungan dengan dunia luar tetap berpegang pada filosofi Kalosara (ikatan aturan adat), dan tertuang dalam ungkapan Meohai, medulu, mepokoaso: bersaudara, berkumpul, dan bersatu. Mbeka meririako= saling menyanyangi/mengasihi Mbeka tulungiako= saling membantu/menolong Mbeka pehawaako= saling mengingatkan/menasehati Mbeka owoseako= salingmenghormati/menghargai.

kalosara

Inilah tradisi Orang Mekongga yang tetap dipelihara sampai sekarang, sehingga diharapkan bahwa siapapun yang datang dan tinggal di Wonua Mekongga adalah bersaudara, berkumpul dan bersatu, saling menyayangi, tolong-menolong, saling mengingatkan, saling menghargai, untuk membangun dan menjaga persatuan dan kesatuan demi ketutuhan serta kedamaian Wuta Mekongga (Kabupaten Kolaka). Keramah-tamaan masyarakat Mekongga, sehingga sering muncul ungkapan dari masyarakat bahwa sekiranya tamu atau pendatang dari seberang laut kemudian sempat mandi atau sempat minum airnya Wonua Mekongga, maka pasti mereka akan lupa negeri asalnyakabere