SEJARAH SATUAN

tugu

Tugu Perjuangan Kolaka terletak dalam kompleks Perusahaan Penyebrangan ASDP Kolaka(Dulu Gedung Controleur), Tugu tertua ini dibuat diera Bupati Kolaka ke 2 ,tugu tersebut sebagai monumental: peristiwa Pengibaran Bendera/perayaan Kemerdekaan Rakyat kolaka, 17 september 1945

Sejarah Kodim 1412 Kolaka tidak terlepas dari sejarah perjuangan rakyat Kolaka untuk menjadi bagian dari NKRI,

pemboman bandara kendari

pemboman bandara kendari 19 juni 1945 oleh sekutu

pada tanggal 29 Agustus 1945 setelah berhasil meyakinkan pemerintah setempat sehingga Kolaka dinyatakan sebagai wilayah atau bagian defacto dari RI dengan melakukan sumpah setia membela Proklamasi 17 Agustus 1945 yang dikenal dengan sumpah 19 atau sumpah darah karena dengan tandatangan darah di kampung Sakuli di rumah Andi Kamaruddin ( Monumen Perjuangan Sakuli)
3

Tugu Perjuangan Sakuli,Kolaka

Organisasi ini bergerak di bawah tanah dengan maksud menghimpun pemuda militan dengan tekad penuh membela Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Dari PETA kemudian bulan September 1945 muncullah API yaitu Angkatan Pemuda Indonesia yang merupakan organisasi massa Pemuda pendukung Proklamasi Kemerdekaan RI.
gedung controlleur kolaka

Gedung Controuler semasa penjajahan Belanda dan menjadi Kantor Pemerintah RI Kolaka masa perjuangan , sempat menjadi Rujab Bupati Kolaka sebelum akhirnya ditukar guling kepada Perusahaan ASDP

Sebulan setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, Sulewatang waktu itu Andi Kasim diangkat menjadi Kepala Pemerintah Negeri Republik Indonesia di Daerah Kolaka dan memimpin langsung pengibaran bendera merah putih pertama kali di Kolaka pada tanggal 17 September 1945 di gedung countroller(sekarang perumahan karyawan ASDP) serta pengibaran bendera Merah Putih di Lasusua 5 Oktober 1945, Image

PETA yang bergerak di bawah tanah setelah Kemerdekaan di Kolaka pada awal September 1945 berhasil merebut beberapa pucuk senjata dari Jepang. Semenjak terbentuknya API pemuda di bawah pimpinan Tahrir dan M. Ali Kamry berhasil mendapat beberapa pucuk karabijn 95, atau senjata yang sengaja dibuang Jepang di pelabuhan Pomalaa pada tanggal 5 September 1945. Penyelaman senjata ini tidak mendapat rintangan Jepang. Pengibaran sang Merah Putih di Kolaka dan pemyataan sebagai bagian dari Rl dihadiri oleh Kabasima Taico yang kemudian mengganti nama menjadi Mansyur.

monumen kabasima

Monumen Kabashima,Lokasi ditangkapnya Kapten Kabashima dkk oleh Belanda yang disembunyikan dalam gua oleh Pejuang di Walasiho,kec.Wawo,Kab.Kolut

Sebulan kemudian API menjelma menjadi Pemuda Republik Indonesia (PRI) pada tanggal 17 Oktober 1945, yang lebih menonjolkan tekad para pemuda di Kolaka, untuk mendukung RI dan mempertahankan Kolaka sebagai bagian dari RI. Berbeda dengan API dalam organisasi PRI walau pun sifatnya sebagai organisasi massa, diadakan Bagian Keamanan/Pertahanan yang di bawahi oleh H. Abd. Wahid Rahim, Kepolisian oleh Usman Effendi, persenjataan oleh Lappase dan penggalangan potensi oleh M. Jufri. Keadaan ini menggambarkan bahwa kemerdekaan itu memerlukan pertahanan dan perjuangan bersenjata.

Kemudian PRI di Kolaka secara resmi membentuk bagian Kelasykaran yang diberi nama PKR (Pembela Keamanan Rakyat) yang dipimpin oleh M. Josef seorang bekas KNIL yang saat itu dipekerjakan oleh Jepang di Pomalaa bersama-sama dengan Sarilawang, M. Billibao dan J.M. Ohijver. Dalam PKR tergabung bekas KNIL, Heiho dan para Pemuda dari kampung kampung (Seinendan). Mereka diberi latihan kemiliteran di desa Silea. PRI Kolaka yang menjalin kerja sama erat dengan PRI Luwu di Palopo berusaha melebarkan wilayah pengaruh perjuangannya ke luar Kolaka.

PETA PALAGAN SULAWESI

Pemuda Wawotobi ingin menggabungkan diri ke dalam PRI Kolaka dan kemudian datang pula utusan PRI Kolaka ke Wawotobi yaitu Yusuf, M. Jufri dan A. Majid. Sebagai hasil kunjungan tersebut Wawotobi dibentuk “Sinar Pemuda Konawe” yang dipimpin oleh J Muhsin. Sinar Pemuda Konawe tidak dapat mewujudkan organisasi kelasykaran karena tidak lama kemudian Australia/NICA memasuki Wawotobi. Di Kendari Selatan (Andoolo) terbentuk Pemuda Rakyat yang dipimpin oleh M. Ali Silondae. Pemuda Rakyat di Andoolo ini kemudian menjelma menjadi organisasi kelasykaran PKR dan bergabung dengan PKR Kolaka dengan pimpinannya M."Ali Silondae PKR Andolo merupakan batalion dari brigade PKR Kolaka dan mempunyai kompi yaitu : (1) Andoolo, (2) Palangga, (3) Laea, dan (4) Kolono.

Pembentukan PKR sebagai badan kelasykaran dimatangkan oleh kenyataan Belanda ingin kembali menguasai Sulawesi Tenggara. Tidak ada pilihan lain dari pemuda Sulawesi Tenggara kecuali mengadakan perlawanan bersenjata. Pusat dari pada perlawanan bersenjata adalah Kolaka. PKR Kolaka yang dibentuk dalam tingkat brigade memperluas diri dengan penggabungan para pemuda dari Andolo dan hulu Sungai Konaweha, di Tawanga dan Tongauna terhadap kompi PKR.

PKR mengorganisir pemuda dan seluruh rakyat sampai ke desa-desa, sehingga PKR sebagai badan kelasykaran resmi, dikenal pula di desa-desa dengan adanya pasukan parang, pasukan tombak dan pasukan panah yang berafiliasi dengan PKR.

20160525_122412

tugu Pertempuran 19 November kolaka

Pada dasarnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan adalah perjuangan rakyat semesta. hal ini terlihat jelas pada keberhasilan penyergapan Konvoi Belanda yang menjemput tahanan dari Pomalaa menuju Kendari pada tanggal 19 November 1945, bersama seluruh rakyat Kolaka dan Para Pejuang berhasil mencegat dengan rintangan pohon dan menghancurkan konvoi yang membawa tahanan tersebut.

Diawali pasukan NICA dibawah pimpinan Lettu Jhon.Van Boon yang datang dari Induk pasukannya di kendari akan mengambil tahanan di Pomalaa, para pejuang memperingatkan bahwa pasukan NICA memasuki wilayah RI dan harus berkoordinasi dengan pemerintah RI di Kolaka, tapi peringatan diabaikan karena NICA tidak mengakui Pemerintahan RI di Kolaka saat itu, dengan kecewa Pasukan PRI di bawah pimpinan Andi Kasim membiarkan pasukan itu lewat menuju Pomalaa, tetapi para pejuang melakukan tindakan-tindakan persiapan untuk menghadapi mereka, melihat kecongkakan tentara NICA, seluruh rakyat Kolaka turut membantu penyergapan dengan peralatan seadanya seperti parang dan tombak. sabilambo

pukul 15.30 pasukan Lettu J.V Boon kembali dari Pomalaa setelah mengambil tahanan menuju ke Kendari. Saat Konvoi terhenti oleh rintangan pohon yang sudah disiapkan, dari berbagai arah Pejuang PRI dan rakyat Kolaka menyerang dan terjadilah pertempuran hebat. 3 buah Truk dan sebuah Jeep dapat dihancurkan, Lettu J.Boom bersama 3 orang anak buahnya ditangkap hidup-hidup (Lettu J Boon melarikan diri dari pertempuran tapi tertangkap di rate2 tanggal 22 November 1945).Peristiwa ini dikenal dengan Peristiwa 19 November ( diabadikan menjadi nama salah satu kelurahan yaitu kelurahan 19 November, Nama Universitas Negeri di Kolaka yaitu Universitas Sembilan Belas November atau USN dan dibangun tugu sebagai monumen bersejarah di Sambilambo meskipun lokasi penghadangan sebenarnya di daerah Lakondole antara km 8 sd km 15 dari Kolaka) .

pomalaa

monumen Gelora 45 Kompleks Antam Pomalaa

Selanjutnya pada tanggal 29 sd 30 November 1945 melalui perundingan antar Petor/Kepala Pemerintah RI Kolaka (diwakili 3 orang yaitu Andi Kasim, Andi Baso Umar Opu Tomenggu dan Dr.Kwe Hoat Yoe/Dr Wahyu Kawi) dengan Komandan Pasukan Sekutu (Australia) Kapten Ceiger di daerah Pomalaa dimana Kapal Perang Australia Sunriezse Merapat, yang berarti Tentara Sekutu mengakui pemerintahan RI di Kolaka, dengan hasil Pemerintah RI Kolaka menyerahkan  tawanan perang tersebut melalui pertukaran tawanan dengan para pejuang yang mereka tahan.

gelora 45

Setelah itu terjadi pertempuran yang hebat antara rakyat (PKR) dengan NICA, Para Pejuang melakukan perlawanan di daerah Rate-Rate (Sekarang wilayah Kolaka Timur) dipimpin oleh Biliboa,Ohuijver,Konggoasa,Latamoro dengan kekuatan 23 karabyn dan 2 jungle, untuk menghambat pasukan Sekutu dan NICA yaitu Kompi 151 yang sedang bergerak dari Kendari untuk menguasai Kota Kolaka pada tanggal 6 Februari 1946, pertempuran berlangsung dari jam 11.00 sampai 17.00, korban 3 orang pejuang dan beberapa luka-luka.tapi pertempuran yang tidak seimbang tidak mampu menahan gerakan Pasukan Sekutu dan NICA menuju Kolaka, dan Rate-rate dibakar habis

rate2

monumen pertempuran 6 Februari 1946 Rate-Rate Koltim

Perlawanan terakhir para pejuang dalam mempertahankan kota Kolaka terjadi keesokan harinya disekitar km 8, km 6, km 4 dan akhirnya di Km 1 Kolaka, yang dipimpin oleh Andi Punna, Yoseph,H Wahid dan M Tahrir dengan kekuatan 35 Karabyn dan 2 Junggle. dimana tercatat paling banyak korban gugur di pihak pejuang,(dilokasi km 1 tersebut sempat menjadi Taman Makam Pahlawan Kolaka sampai tahun 1987 sebelum dipindahkan Ke TMP sekarang di Watalara). Dalam mempertahankan Jembatan di km 8, seorang PKR gugur, Km 6 yang dijaga 1 regu Andi Punna terjadi perlawanan selama 4 jam, Km 4 yang dijaga Pasukan bersenjata tajam mendapat serangan jam 5 subuh, dan Induk Pasukan di Km 1 menghadapi musuh sekitar jam 6 pagi dan terjadi pertempuran sengit selama 10 jam, gugur seorang penembak Bren dan pada pkl 14.00 NICA akhirnya menduduki Kota Kolaka pada tanggal 7 Februari 1946. maka kepala pemerintahan RI daerah Kolaka bergerilya ke hutan-hutan, karena NICA hanya dapat menguasai Kota Kolaka dan sekitarnya tetapi didesa desa pedalaman masih dikuasai para pemuda pejuang dan rakyat tetap mengadakan perlawanan dan menggempur NICA, tercatat telah terjadi 24 kali pertempuran antara pemuda PKR melawan NICA.

catatan pur

Selanjutnya NICA membentuk pemerintahan dengan susunan sebagai berikut : (1) Bokeo, (2) Kapita, (3) Pabitara, dan (4) Sapati. Adat kampung mulai dikembalikan seperti semula, tetapi tidak berkembang dengan pesat karena justru beberapa keturunan kerajaan Mekongga seperti Kapita Konggoasa dan Mokole Latuma justru memimpin pasukan merah putih yaitu Batalion E bagian dari Brigade PKR Kolaka (Pasukan tersebut hanya bersenjata parang ,panah dan tombak ), termasuk dalam penghadangan tentara NICA di Km 8 Lakondole (kampung baru) .

latumaa

Latumaa dok Museum m arifin Latumaa

Sepupu Konggoasa yaitu M Nur Latamoro turut memimpin penghadangan konvoi tentara NICA di Rate-rate.

Setelah Jatuhnya Kolaka markas PKR berpindah-pindah dan markas utama di Benteng Batu Putih Kolaka Utara dimana Datu Luwuk dan keluarganya juga sudah berada disana setelah Palopo jatuh ke tangan Belanda. dan dari sana tercatat Pasukan PKR mengirim 2 kali ekspedisi untuk menyerang Kota Kolaka.

latamoro

Latamoro dok museum arifin Latumaa

Ekspedisi yang pertama pada tanggal 21 April 1946 dipimpin oleh M Yoseph dibantu Biliboa dan Ouchiver dengan kekuatan 24 Karabyn dan 35 pasukan tetapi dalam perjalanan banyak pemuda yang bergabung sampai mencapai 400 orang dengan senjata tajam, sedangkan Kota Kolaka dipertahankan oleh kurang lebih 200 orang pimpinan Letnan Vennic. Pada pukul 04.30 subuh serangan dimulai secara mendadak sampai pukul 09.00 pagi, 3 orang PKR gugur dan 1 Luka-luka serta 4 orang tertawan tetapi berhasil menewaskan 16 orang KNIL dan merampas 1 Bren,8 senapan, 2 pistol 22 peti pelor dan 1 peti obat-obatan.setelah itu PKR kembali ke utara kecuali pasukan Yoseph dan Biliboa yang terus ke selatan ke arah Pomalaa

dramahut

Drama Kolosal perjuangan rakyat Kolaka pada HUT ke 70 RI di Kolaka

Pasukan Merah Putih pimpinan M Yosef juga terlibat pertempuran perjumpaan di huko-huko daerah lalongori ( belakang markas Kompi B Yonif 725 sekarang) pada tanggal 4 Mei 1946 ,dalam peristiwa itu gugur 2 orang pejuang yaitu Bolak dan Daeng Parukka, sedangkan M Yosef dan W Billibao tertangkap.

Kehilangan Komandan Pasukan yang berkompeten, Andi Kasim kembali menyerang Kolaka, dalam ekspedisi kedua ini Andi Kasim bertindak lebih sebagai Komandan Pasukan daripada Kepala Pemerintahan. seranganpun gagal dan Pasukannya kocar-kacir, Andi Kasim tertangkap, Sarilawang menyerah dengan Brennya, sedangkan A Wahid dan Baso Umar sempat melarikan diri, Mansyur(Kabashima) dan Sukri(jepang ) bersembunyi di hutan-hutan dan bergabung dengan Ali Kamry di wawo, Andi Punna, Abu Baeda, Sampe dll lari dengan perahu dan berjuang di jawa

konggoasa dan ponaan

Konggoasa Latambaga

sejak saat itu Kapita Konggoasa dan Supu Yusuf bergerilya sampai ke pinangea dan anggotanya sampai ke muna, masyarakat Baula Kolaka tidak bisa melupakan kejamnya Bokeo  Puwatu  yang dikirim NICA untuk mencari Kapita Konggoasa. Nama Kapita Konggoasa diabadikan sebagai Nama jalan dan Lapangan Bola di samping Gedung DPRD Kolaka.

Sepeninggal tentara sekutu, pertikaian Antara Belanda Dan RI semakin meluas, Pihak Inggris terus mengupayakan perundingan agar menjadi jalan terbaik dalam menyelesaikan konflik antara pihak Indonesia dengan Belanda dengan perantaraan diplomat Inggris, Lord Killearn. Pada awalnya pertemuan diselenggarakan di Istana Negara dan di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Dalam perundingan itu pihak Indonesia dipimpin Sutan Syahrir dan pihak Belanda oleh Pro. Schermerhorn. Kemudian perundingan dilanjutkan di Linggarjati.

Perjanjian Linggarjati

Perjanjian Linggarjati yang ditandatangani tanggal 15 November 1946

isi perjanjian Linggarjati

  1. Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia atas Jawa, Madura, dan Sumatra.
  2. Akan dibentuk negara federal dengan nama Indonesia Serikat yang salah satu negara bagiannya adalah Republik Indonesia
  3. Dibentuk Uni Indonesia-Belanda dengan ratu Belanda sebagai kepala uni
  4. Pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Uni Indonesia-Belanda sebelum tanggal 1 Januari 1949

pada tanggal 24 Desember 1946 Belanda mendirikan Negara Indonesia Timur, sebuah Negara Boneka beribukota di Makasar dan Tjokorda Gede Raka Soekowati menjadi Presidennya

NIT

Presiden Negara Boneka NIT

Dan Pemerintah Pusat RI di Jawa melalui KNIP akhirnya mengesahkan perjanjian Linggarjati  pada tanggal 25 Februari 1947, bertempat di Istana Negara Jakarta. Persetujuan itu ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947. dengan demikian maka secara Defacto  Pemerintahan RI dalam Gerilya di Kolaka tidak lagi diakui baik oleh Belanda maupun Pemerintah RI di Jawa, sebagian pejuang membaur dengan masyarakat dan beberapa pejuang pergi ke Jawa ke wilayah RI untuk melanjutkan perjuangan diantaranya Andi Punna, Abu Baeda,Hamzah Pangerang, Edy Sabara,Hamid Langkosono, Husen Sosidi dll( bergabung dengan Tentara Republik Indonesia/TRI persiapan Sulawesi di Jogyakarta dan kemudian akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia/TNI) Edi Sabara terakhir berpangkat Mayjen dan menjabat sebagai Gubernur ke 3 Sultra.

Edysabara

Edy Sabara

sedangkan yang melanjutkan perjuangan di Sulawesi selatan adalah Majid Yunus dan M Ali Kamry, dan yang terus melanjutkan gerilya di hutan-hutan adalah Supu Yusuf dan Konggoasa yang merupakan dwi tunggal perjuangan di Sulawesi Tenggara khususnya Kolaka Utara di daerah Wawo

Republik_Indonesia_Serikat

Raja-raja di Sulawesi Selatan dan Tenggara yang tidak menyetujui atas pemerintahan Belanda dalam membentuk Negara Indonesia Timur, tetap setia kepada Republik Indonesia di Yogyakarta, oleh karena itu Belanda menganggap sebagai pro-Republik. Untuk kelancaran politik yang dijalankan oleh Belanda di Sulawesi Selatan dan Tenggara, maka raja-raja yang dianggap non kooperatif diganti dengan raja-raja yang dapat bekerjasama dengan NICA. Bokeo Guro akan ditangkap sehingga mengungsi ke Makasar pada tahun 1949, maka Belanda mengangkat Kapita Puwatu yang membelot ke NICA sejak jatuhnya Rate-Rate diangkat sebagai Bokeo Mekongga dan diberi pangkat Kapten Tituler.

Sehubungan dengan rencana Pemerintah NIT untuk menggabung Pemerintah Swapraja yang jumlahnya 115 wilayah menjadi gabungan pemerintah daerah yang lebih besar, maka didakanlah musyawarah pada tanggal 12–13 Mei 1948 di Malino, tempat yang sebelumnya diselenggarakan Konperensi Malino. Muktamar ini dipimpin dan diketua oleh Perdana Menteri merangkap Menteri Urusan Dalam Negeri NIT I Gde Agung Anak Agung, dan hanya dihadiri 18 Kepala Swapraja dari masing-masing Daerah yaitu: Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sangihe Talaud, Sulawesi Tengah, Sumbawa, Timor dan Kepulauan sekitarnya, Flores, Sumba, dan Maluku Utara. Untuk Daerah Sulawesi Selatan (temasuk Sulawesi Tenggara), hanya dihadiri swapraja-swapraja Bone, Gowa, Buton, dan Wajo dari 38 swapraja yang ada di Sulawesi Selatan dan Tenggara. maka di Bau-bau Butonlah dijadikan ibukota negri di sulawesi tenggara

pelantikan NIT

Pelantikan Parlemen Negara Boneka NIT di Makasar

Pada zaman Negara Indonesia Timur ( NIT ) daerah ini menjadi Neo Swapraja. Keuangan Swapraja Kendari dan Kolaka disatukan menjadi Kas Konawe. Oleh sebab itu Distrik Patampanua memisahkan diri dari Kolaka dan tetap pada status afdeeling Luwu pada tahun 1947 . Dengan demikian Daerah Kolaka hanya terdiri dari dua distrik, yaitu Distrik Kolaka (ibukotanya Kolaka) dan Distrik Solewatu (Ibukotanya Mowewe). Berdasarkan PP RIS No. 21 tahun 1950 Wilayah Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan dipersatukan menjadi Satu Keresidenan di bawah Propinsi Celebes.

Pada 3-5 April 1950 diadakan konferensi antara RIS, NIT, dan NST. Keputusannya: untuk membentuk negara kesatuan. Kedua negara bagian memberikan mandat kepada Hatta untuk berunding dengan Republik Indonesia.

Pada tanggal 30 April 1950 Pemuda Republik Indonesia (PRI) Kolaka (yang dibentuk pada tanggal 17 September 1945) mengadakan rapat dan keputusannya adalah:

  1. Selekas mungkin semua negara bagian yang ada di seluruh Indonesia yang belum melebur dirinya masuk Republik Indonesia lekas membubarkan dirinya , supaya menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia
  2. Supaya NIT dibubarkan dan dilebur masuk menjadi bagian dalam NKRI
  3. TNI didatangkan ke Kolaka

Pada tanggal 20 Juni 1950, TNI membentuk 7 Teritorium di Indonesia dalam surat penetapan KSAD No 93 /KSAD/Pnt/1950, Teritorium VII berkedudukan di Makasar di bawah pimpinan Letkol Achmad Yunus Mokoginta dan bulan Agustus menjadi Tentara dan Teritorium VII di bawah pimpinan Kol Inf AE Kawilarang. Pada periode tahun 1950 itu diwilayah Sulawesi Tenggara, telah ditugaskan personel militer untuk mengatasi gangguan keamanan yang terdiri dari beberapa satuan-satuan antara lain ; Batalyon anjing laut yang bermarkas di Palopo, dengan satu kompi pimpinan Kapten Untung dan berkedudukan di Kolaka dan satu Kompi anjing laut di Makale-Rantepao pimpinan Kapten Ruben Rukka Andilolo.

Di Kolaka pada tanggal 12 Juni 1950 terbentuklah KNI yang beranggotakan 15 orang diketuai oleh Ch Pingak, dengan keputusan:

  1. Di Indonesia hanya ada satu pemerintah yaitu Pemerintah Republik Indonesia yang berdasarkan Proklamasi 17 Agustus 1945.
  2. Anggota-anggota swapraja bentukan Belanda harus mengundurkan diri dan diganti satu Dewan Pemerintah Daerah dan didampingi Dewan Perwakilan daerah.konggoasa
Kenyataan dari putusan ini semua Anggota Swapraja Mekongga mengundurkan diri dan terbentuklah Dewan Pemerintah Daerah Kolaka yang terdiri dari
  1. Konggoasa (Ketua)
  2. Baso Umar (Anggota)
  3. M Nur Latamoro (Anggota)

Pada 15 Agustus 1950, Sukarno menandatangani UUD Sementara Republik Indonesia (UUDS 1950). Dua hari kemudian, 17 Agustus 1950 bertepatan dengan peringatan lima tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia, RIS secara resmi dibubarkan dan Indonesia kembali ke bentuk negara kesatuan.

thumbSUKARNO_WIR_0043

Pidato Presiden Sukarno tgl 17 Agustus 1950

Setelah dalam wadah NKRI, Diawali tanggal 24 Agustus 1951 pada suatu pertemuan di Kendari yang diadakan oleh Kepala Afdeling Buton dan Laiwoi dengan pemerintah-pemerintah setempat dan pemuka masyarakat Sulawesi tenggara yang dimaksudkan untuk menentukan letak kedudukan ibu kota Sulawesi Tenggara, karena waktu itu Buton yang menjadi Ibukota Negeri  ,kesimpulan pertemuan adalah bahwa Kolaka dan Kendari menuntut Kabupaten tersendiri,Selanjutnya beberapa organisasi politik yang ada di Kolaka membuat pernyataan, menuntut agar Daerah Kolaka yang berstatus Kewedanan menjadi kabupaten tingkat II ( Kabupaten Kolaka).

Kahar M.

Pada tahun 1954 Gerombolan Kahar Muzakar mulai memasuki wilayah Kolaka, 107 orang warga dari Kolaka dan Sabilambo dibawa gerombolan kedalam hutan di daerah Puroda di hulu sungai huko-huko, dan sampai sekarang tidak diketahui nasibnya. mengalami teror dari gerombolan Kahar Muzakar, sebagian besar warga memilih untuk mengungsi ke hutan-hutan.

Sementara itu, dalam suatu rapat di Kolaka pada tanggal 26 Mei 1957 antara utusan Panitia Pelaksana Persiapan Kabupaten Sulawesi Timur dengan wakil-wakil rakyat Kolaka tidak menyetujui kehendak Panitia Pelaksana Persiapan Kabupaten Sulawesi Timur dan pihak Kolaka menghendaki supaya keputusan panitia itu ditarik kembali, akan tetapi Kendari tetap mempertahankan keputusan Panitia Pelaksana Persiapan Kabupaten Sulawesi Timur, sehingga rapat yang diadakan itu tidak dapat membawa keputusan yang diinginkan. Akibatnya, pada tanggal 17 Juni 1957 mengeluarkan pernyataan dengan tegas tidak menyetujui penempatan ibukota Kabupaten Sulawesi Timur di Kendari dan mendesak pemerintah pusat supaya penempatan Kabupaten Sulawesi Timur berkedudukan di Kolaka. Dengan munculnya keinginan untuk membentuk kabupaten tersendiri, menyebabkan gagalnya pembentukan Kabupaten Sulawesi Timur.

sampetoding

Jacob Sampetoding dok Kendari Post

Pada Tahun 1957 itu pula PT.Perto di Pomalaa mendapat izin explorasi biji Nikel Kolaka untuk jangka waktu 3 Tahun dari Direktorat Pertambangan dan memulai kegiatan penambangannya ditengah gangguan keamanan dari Gerombolan Kahar Muzakar sehingga memilih P.Maniang sebagai tempat beroperasinya

pataka-setia

Menteri Pertahanan mengeluarkan Surat Keputusan No. MP/A/465/1957 tanggal 26 Mei 1957 yang menetapkan peleburan Komando Teritorium VII dan Komando Daerah Pertempuran Sulawesi Selatan Tenggara (KDPSST) serta membentuk 4 (empat) KDM wilayah Indonesia Timur, ditindaklanjuti Keputusan KSAD No.KPTS 288/5/1957 tanggal 27 Mei 1957, maka pada tanggal 1 Juni 1957 telah diresmikan terbentuknya Komando Daerah Militer Sulawesi Selatan Tenggara, sebagai pejabat sementara Komandan KDMSST adalah Letkol Inf Andi Mattalatta.Andi-Mattalatta1-300x192

Sementara satuan militer yang ada wilayah ini pada pertengahan 1958, dibentuklah pasukan Sulawesi Tenggara, yang secara administratif di bawah Markas Besar Angkatan Darat cq Koandait dengan Komandan pertamanya Kapten Effendy ; selanjutnya Komandan Komando Pasukan Sulawesi Tenggara selaku pelaksana kuasa perang daerah Sulawesi Tenggara dipimpin oleh Mayor TNI Abdul Kahar.

Institusi KOANDAIT berfungsi untuk mengendalikan dan mengkoordinasikan penyelenggaraan dan mengkoordinasikan penyelenggaraan pertahanan antara KDM-KDM yang ada di Indonesia Timur. KOANDAIT sekaligus juga merupakan kompartemen strategis kewilayahan TNI-AD dengan titik berat penjabaran strategi matra darat dengan spesifikasi penguasaan pulau-pulau besar yang ada di wilayah itu.

Dengan berdirinya KOANDAIT sebagai kompartemen strategis, maka secara otomatis keempat Komando Daerah Militer (KMD) di Indonesia Timur berfungsi sebagai sub kompartemen strategis yang berada dibawah KOANDAIT.

Salah satu KDM di Indonesia Timur adalah Komando Daerah Militer Sulawesi Selatan dan Tenggara (KDM-SST), berdasarkan Surat Keputusan KASAD No.KPTS-825/10/1959 tanggal 24 Oktober 1959 KDM-SST dirubah menjadi Komando Daerah Militer XIV/Sulselra dan kemudian berdasarkan Surat Keputusan KASAD No.KPTS-1254/12/1959 tanggal 1 Desember 1959 menjadi Komando Daerah Militer XIV/Hasanuddin.( Sekarang Kodam VII Wirabuana)

wrb

makodam

Dalam mempersiapkan pembentukan empat kabupaten sebagai daerah otonom, pada tanggal 20-22 Juli 1959 diadakanlah musyawarah antara kewedanan di Kabupaten Sulawesi Tenggara yang berlangsung di Kewedanan Kendari, dan dihadiri oleh utusan dari Kewedanan Buton, Muna, Kendari dan Kolaka masing-masing berjumlah 15 orang dan 5 orang dari staf Kantor Bupati Kepala Daerah Sulawesi Tenggara. Dalam rapat itu hadir pula Kepala Pemerintahan Negeri Buton H. Abdul Malik, Kepala Pemerintahan Negeri Muna diwakili Asisten Residen Wedanan A.R. Muntu, Kepala Pemerintahan Negara Kendari diwakili oleh Anas Bunggasi dan Kepala Pemerintahan Negeri Kolaka Abdul Wahab dan wakil-wakil dari setiap swapraja sebagai peninjau dalam musyawarah (Monografi, 1997:99).

kolaka

Dengan ditetapkan Undang Undang Nomor 29 Tahun 1959, tentang pembentukan 4 Daerah otonom Tingkat II sebagai realisasi Pemekaran Kabupaten Sulawesi Tenggara. Kemudian diperkuat dengan SK Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, tentang pengangkatan para Kepala Daerah Tingkat II Kolaka dengan ibukota Kolaka. maka dilantiklah Kepala Daerah Yakub Silondae,pada tanggal 29 Februari 1960.

pelantikan

Pidato Pertama Bupati Silondae sesaat setelah pelantikan 1960

Berdasarkan Undang- Undang tersebut istilah distrik ditiadakan. Daerah Kolaka dibagi atas tiga kecamatan, yaitu : Kecamatan Kolaka , Kecamatan Tirawuta  dan Kecamatan Batu Puteh.

143

Dasar Surat Keputusan Panglima Kodam SST No. KPT/0073/5/1960 tanggal 31 Mei 1960 tentang pembentukan Komando Resor Militer (Korem) dan Komando Distrik Militer (Kodim) maka Komando Sektor A di Sulawesi Tenggara menjadi Korem VI / Haluoleo yang semula berkedudukan di Kolaka kemudian berpindah berkedudukan di Kendari, dengan mengangkat Mayor Inf IB. Carolus sebagai Danrem dan Kapten PB. Harahap sebagai Kasrem, yang ditugasi melaksanakan pengamanan dan pembinaan teritorial, dengan dukungan 1 regu setingkat pleton (Batalyon remaja) di bawah pimpinan Kapten Rustam Kusuma Jaya.

korem

Dalam periode tahun 1960-1961 komplek Pomalaa, Wundulako dan Mangolo, berkat kerjasama Angkatan Darat dan Pemerintah Sipil akhirnya dapat dikuasai kembali setelah 5-7 Tahun dikuasai oleh Gerombolan DI/TII, rakyat berangsur angsur kembali yang ditaksir kurang lebih 6000 orang( Pidato Bupati Silondae dalam Peringatan 1 Tahun Kabupaten Kolaka ,28 Februari 1961).

pahlawan..

Anggota PKP (Patroli Keamanan Pertambangan) Darius Dunggu dan Djaya Sentosa , mengamankan tambang PT Nikel sekarang PT ANTAM

Pada tanggal 20 Maret 1961 PT Nikkel memulai kegiatannya  di Pomalaa sesudah mengadakan timbang terima dengan PT Perto dalam kondisi yang sudah mulai kondusif dan perusahaan ini berada dalam lingkungan Badan Pimpinan Umum Perusahaan-Perusahaan Tambang Umum (BPU PERTAMBUN).maka untuk mengamankan Obyek Vital tersebut maka TNI AD membantu pembentukan PKP (Patroli Keamanan Pertambangan) yang dipersenjatai layaknya tentara dan membantu Satuan kewilayahan dalam memburu sisa Gerombolan yang berada di sekitar areal tambang.

1412

Dengan adanya perubahan Kodam SST menjadi Kodam XIV/Hasanuddin, Pangdam XIV/HN menetapkan rencana konsolidasi untuk melaksanakan reorganisasi dan reformasi secara menyeluruh terhadap segenap Yonif, Dinas Jawatan, Korem, Kodim dan Staf Kodam dengan dasar Surat Keputusan Pangdam XIV/HN No. Kep 0103/11/1963 tanggal 7 Nopember 1963 sebagai realisasi Surat Keputusan MEN-PANGAD No. KPTS 48/6/1963 tanggal 11 Juni 1963. Untuk Korem 143/HO yang berkedudukan di Kendari membawahi 2 Kodim yaitu Kodim 1412 wilayah Kolaka /Kendari disebut Kodim Mekongga sedangkan Kodim 1413 wilayah Buton dan Muna disebut Kodim Buton

Kodim 1412 Mekongga dipimpin pertama kali oleh Mayor Inf Abdul Muluk Tawang.

IMG_0793

Pada awal mula tugas Kodim 1412 Mekongga adalah mengembalikan keamanan dan ketertiban di wilayah Kabupaten Kolaka yang sempat terganggu oleh gerombolan Kahar Muzakar, sisa gerombolan Kahar Muzakar di daerah Kota Kolaka tersisa kurang lebih tinggal 10 orang pimpinan nasir , keadaan mulai berbalik, pada tahun ini justru sisa gerombolan yang lari ke hutan sampai ke daerah Lasolo diburu Tentara dibantu masyarakat melalui Pertahanan Sipil (Hansip) yang dibentuk Kodim dan TBO (Tenaga Bantuan Operasi) yang dibentuk oleh Pasukan tempur yang melaksanakan Operasi di daerah Kolaka serta PKP(Patroli Keamanan Pertambangan) PT Nikel binaan Kodim 1412 Mekongga.

pahlawan

Darius Dunggu anggota PKP setelah membantu pasukan TNI dalam operasi tumpas gerombolan di daerah toari 1963, gerombolan yang tertangkap diserahkan kepada Kodim 1412

Perkembangan Pemerintahan selanjutnya dikeluarkannya PP Pengganti UU No. 2 tahun 1964, kemudian disahkan menjadi UU No. 13 tahun 1964 menetapkan Kolaka (sebelumnya wilayah Luwu),  Laiwoi, Muna, dan Buton menjadi Propinsi Sulawesi Tenggara. 75px-Southeast_Sulawesi_COA.svg

Provinsi Sultra terpisah dari Provinsi Induknya Sulawesi Selatan dengan 4 Kabupaten yaitu Kabupaten Kendari, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Buton dan Kabupaten Muna dengan J Wayong sebagai Gubernur pertama Provinsi Sulawesi Tenggara

Jwayong

J Wayong

Tahun 1964, TNI melaksanakan Operasi Kilat dan memilih Pusat Komando didesa lawata Pakue kab. Kolaka (sekarang daerah Kolaka Utara). Operasi Kilat dilangsungkan selama setahun. Dalam pelaksanaan Operasi terjadi 2 kali kecelakaan pesawat Hely, Helikopter yang terendam di laut (Bangkai nya masih ada di pantai terlihat bila air laut surut) jatuh akibat kesalahan teknis pendaratan pada malam hari pukul 19.00 tanggal 4 Oktober 1964 dan yang di lahan warga akibat terbakar pada 1 Januari 1965. Di desa itulah basis operasi batalion pasukan TNI dari satuan Siliwangi dan RPKAD dalam operasi yang dipimpin langsung Panglima Kodam XIV/Hasanuddin, Brigadir Jenderal M.Jusuf (di lokasi tersebut juga ada tiga makam tentara yang gugur kala itu yang masing-masing bernama Praka Solong, Pratu Winti dan Abdul Aziz. Lokasi tersebut juga ditandai dengan sebuah pohon ketapang yang sampai saat ini dilarang untuk ditebang, karena masyarakat masih mengingat di bawah Pohon itulah M.Yusuf selalu memberikan Perintah-perintah Operasinya)m yusuf 1975

Selama bulan puasa Januari 1965, pasukan TNI melakukan pengepungan di sebuah hutan dekat Sungai Lasolo (sekarang daerah Konawe Utara berbatasan dengan Kolaka Utara). Perintah operasi penyergapan ini dilakukan oleh Asisten Operasi dan Asisten Intelijen di bawah pimpinan Kolonel Inf Solichien GP .

Pengepungan dilakukan dengan taktik tapal kuda, Dalam rencana ini, sejumlah unit pasukan dari Yonif 330/Para Kujang I pimpinan Mayor Yogie S Memed digerakkan menuju lokasi, 4 peleton Kujang I ditugasi menyisir Sektor B dari selatan dan tenggara. Sedang Peleton 1 Kompi D pimpinan Peltu Umar Sumarsana berada di Sektor B.

Sementara, di bagian selatan dijaga satu peleton Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang dipimpin Sintong Pandjaitan. Taktik ini dilakukan agar Kahar Muzakkar mudah tertangkap meski berupaya kabur, karena hampir seluruh hutan diawasi TNI.

m yusuf dan solihin gp

M Yusuf dan Solichin GP saat operasi

Detik-detik akhir  Kahar muzakkar berlangsung pada 3 Februari 1965 atau tepat pada hari pelaksanaan salat ID idul fitri. Dibawah komando regu Umar Sumarna mulai melancarkan aksi penyerangan hingga akhirnya Kahar Muzakkar dinyatakan tertembak mati di tepi Sungai Lasolo oleh Kopral Dua Sadeli, anggota regu pasukan dari Batalyon 330 Kujang I asal Kodam Siliwangi.

Usai aksi penembakan tersebut, dituturkan B. mustakim W (65) yang merupakan tokoh masyarakat Desa Pakue mengemukakan bahwa mayat Kahar diterbangkan dengan menggunakan helikopter dari Lasolo dan tiba di Lawata pukul 03.00 sore.  “Saat itu setelah shalat idul fitri sehingga semua masyarakat berkumpul dan diumumkan langsung bahwa jasad Kahar tiba sore hari diterbangkan dari Lasolo,” ungkapnya.

Sore harinya, masyarakat mulai berduyung-duyung segera memenuhi kompleks base camp pasukan TNI termasuk Mustakim yang saat itu masih duduk di bangku SD yang juga disaksikan istri Kahar (Sitti Hamid). Pengamanan ekstra ketat untuk mengantisipasi pasukan Kahar melakukan penyerangan. Namun,tidak satu pun yang diperbolehkan oleh Muhammad Yusuf menyaksikan jasad Kahar yang diklaim dalam peti tersebut. “Jadi tidak ada yang bisa melihat jasad Kahar kecuali pak Yusuf.

helly kahar

hely AURI MI 4 yang digunakan menerbangkan jenasah Kahar Muzakar ke Makasar

Sementara itu, jasad Kahar kembali diterbangkan menggunakan helikopter pada pukul 04.00 dini harinya dari Lawata, jenasah Kahar lantas dibawa helikopter menuju Makassar untuk identifikasi. Untuk memastikannya, TNI AD hanya mengizinkan istri dan kedua anaknya untuk melihat mayatnya secara langsung, dan kepastian ini didapat dari putranya Abdullah.

Sementara itu pasukan Kahar yang  tersisa masih memilih bertahan dalam hutan selama setahun lamanya setelah pimpinannya dinyatakan tertembak. Setahun setelah kematian Kahar , para pengikut Kahar mulai dibujuk agar kembali bergabung ke masyarakat selaku warga negara yang patuh kepada pemerintah melalui operasi teritorial yang dilakukan oleh Kodim 1412 Mekongga.

Penjemputan pengikut Kahar sendiri disambut oleh tujuh jenderal LP mardani, Pangabean, Basuki Rahmat, Sumitro dan lainnya yang mengakibatkan perkampungan pada waktu itu bergelimpangan manusia merayakan pesta penyambutan gerilyawan yang diperkirakan 500 an diantaranya merupakan perempuan yang menandakan berakhirnya perang gerilya antara TNI dan gerilyawan DI/TII, disanalah keberhasilan tugas mula-mula Kodim 1412 Mekongga dalam melaksanakan tugas teritorial yang tidak kalah pentingnya dengan operasi tempur yang dilaksanakan, bahkan boleh dikatakan operasi tempur memang berhasil menghabisi Kahar Muzakar,tetapi Operasi teritoriallah yang menyelesaikan Gerombolannya.

Hingga saat ini masyarakat Kolaka hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati dengan mantan gerombolan yang masih hidup dan keturunannya,bahkan mereka turut menjaga eksisensi NKRI serta mensukseskan program-program pemerintah.

Picture2

Ruang Dandim di dalam kantor kodim lama yang masih berdinding kayu tahun 1975

tanggal 1 Juli 1975, Pangdam XIV/HN mengeluarkan Surat Keputusan No. KPTS 92/VII/1975 , tentang perubahan nama sub Kodim Kendari yang merupakan bagian dari Kodim 1412 Mekongga dipisahkan menjadi Kodim 1417/Kendari yang berkedudukan di Kampung Salo Kota Kendari, maka Kodim 1412 Mekongga menjadi Kodim 1412 Kolaka dengan  7 Koramil yaitu :

  • Koramil 1412-01 Rate-rate
  • Koramil 1412-02 Wundulako
  • Koramil 1412-03 Lasusua
  • Koramil 1412-04 Kolaka
  • Koramil 1412-05 Pakue
  • Koramil 1412-06 Mowewe
  • Koramil 1412-07 Watubangga
    Picture3

    DandimLetkol Inf M Amin pada tahun 1975

Selanjutnya tugas yang dilaksanakan Kodim 1412/Kolaka adalah operasi pengamanan pemilu, operasi pengamanan VVIP untuk RI-1 dan RI-2 di wilayah Sultra, melaksanakan operasi bhakti TNI berupa AMD, (thn 1980 sampai dengan thn 2000, TMMD th 2000 s.d sekarang dan yang terakhir di Kec. loea kab. Kolaka Timur serta operasi tni manunggal keluarga berencana dan kesehatan (TMKK) beserta instansi terkait di Prov. Sultra termasuk kegiatan Karya Bhakti.

Image - Copy

Kunjungan Mendagri Mardiyanto ke Makodim 1412 Kolaka yang juga mantan Dandim 1412 Kolaka

Daftar nama pejabat Dandim 1412/Kolaka dari masa ke masa  :

  1. Mayor Inf Abdoel Muluk Tawang Periode tahun 1963 sampai 1966
  2. Letkol Inf Muharram Jaya Periode tahun 1966 sampai 1971
  3. Letkol Inf Muhamad Amin Periode tahun 1971 sampai 1975
  4. Letkol Inf Muhamad Amin Periode tahun 1975 sampai 1979
  5. Letkol Inf Marthen Taulangi Periode tahun 1979 sampai 1983
  6. Letkol Inf Abdul Halim malhap Periode tahun 1983 sampai 1987
  7. Letkol Inf Mardianto Periode tahun 1987 sampai 1988
  8. Letkol Art Basoeki Soewardi Periode tahun 1988 sampai 1992
  9. Letkol Inf Abdul Rahim Periode tahun 1992 sampai 1996
  10. Letkol Kav E. Rudi Suparman Periode tahun 1996 sampai 2000
  11. Letkol Inf Rudi Polandi Periode tahun 2000 sampai 2002
  12. Letkol Inf Bayu Nadjib Periode tahun 2002 sampai 2005
  13. Letkol Inf Gregorius Suharso Periode tahun 2005 sampai 2008
  14. Letkol Inf Edy Suroso Periode tahun 2008 sampai 2010
  15. Letkol Inf drs Alamsyah Periode tahun 2010 sampai 2012
  16. Letkol Inf Krisna Jaya Saiban Periode tahun 2012 sampai 2013
  17. Letkol Inf Febriel Buyung Sikumbang,SH Periode tahun 2013 sampai 2014
  18. Letkol Inf Hartono Periode tahun 2014 sampai 2015
  19. Letkol Czi Cosmas Manukallo Danga,SE Periode tahun 2015 sampai sekarang

Dalam melaksanakan tugas Pembinaan Teritorial di wilayah Kolaka terutama para Babinsa dalam membina desanya bukan tanpa resiko, pada tanggal 12 bulan Mei tahun 2014 kopda Mashuri Manther (35 tahun), gugur  dengan tubuh terdapat luka bacokan.  bertugas sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa) di Desa Matausu ujung, Kecamatan Watubangga, Kabupaten Kolaka. ditebas dengan sebilah parang oleh sekelompok orang penganut aliran sesat di Desa Matausu. Hasil visum di Puskesmas Watubangga, Mashuri mengalami luka dibagian lengan kanan yang nyaris putus, dibagian belakang dan dada

matausuk ujung

Kantor desa Matausuk ujung,desa paling ujung di kab kolaka

Sebelum Kopda Mashuri berangkat ke Desa Matausu ujung, Ia sempat ditelepon Kepala Desa Matausu ujung dan meminta bantuan bahwa di desa itu ada perselisihan pendapat antar kelompok warga setempat karena perbedaan aliran agama. Mashuri mendapat telepon dengan sigap langsung terjun ke lokasi. Rupanya sesampai di desa dalam perjalanan itu ia dihadang dan dihabisi sekelompok warga penganut aliran yang sesat dengan pelaku utama Jusnan ,Kopda Mashuri mencoba menangkis dan melindungi diri dengan berani tetapi pengeroyok menggunakan parang, akhirnya mereka menyandera Kopda Mashuri yang sedang sekarat sampai akhirnya gugur kehabisan darah.

U

Alm Kopda Mashuri saat ditemukan oleh Tim Gab TNI/Polri pada subuh hari

Komandan Kodim 1412 saat itu Letkol Inf Hartono kemudian menurunkan bantuan dari kesatuan 725 Kompi B dan bantuan dari Kapolres Kolaka. Karena kelompok di Desa itu tetap menyadera jenasah almarhum sampai akhirnya Jusnan dilumpuhkan dan tewas dengan timah panas sedangkan kelompok aliran tersebut semuanya ditangkap.

U

Pelaku Utama Jusnan alias Juse yang mengaku kebal,tewas ditembak aparat gabungan Kodim dan Polres Kolaka

Alm Kopda Mashuri dimakamkan dengan upacara secara militer di Pemakaman Umum Rakadua Poleang Baratdan dinaikkan pangkatnya satu tingkat lebih tinggi menjadi Koptu (Anumerta) Mashuri Manther, atas petunjuk Dandim Letkol Czi Cosmas MD, Nama Koptu (Anumerta) Mashuri diabadikan menjadi nama Musholla Al Mashuri yang dibangun di Koramil 07 Watubangga.

pemakaman militer mashuri

Dalam rangka mengembalikan hubungan dan menghilangkan trauma masyarakat Matausu  karena peristiwa tersebut maka pada akhir tahun 2015 Kodim 1412 Kolaka bekerjasama dengan Pemda melaksanakan Karya Bhakti berupa pemasangan Jembatan Gantung yang menghubungkan desa Matausu Kolaka dengan   Bombana yang dipisahkan dengan sungai Poleang, dimana selama ini masyarakat di ke dua desa terputus bila memasuki musim hujan dan anak2 tidak dapat bersekolah. Jembatan ini berupakan bantuan dari Tony Foundation yang diresmikan pada bulan Februari 2016 oleh Bupati Kolaka H.Ahmad Safei dan Dandim 1412 Kolaka Letkol Czi Cosmas MD,SE, bersama pemasangan Jembatan tersebut Kodim 1412 Kolaka juga memasang Jembatan di daerah Ladongi Kolaka Timur yang diresmikan Dandim bersama Pj Bupati Koltim H.Anwar Sanusi. melihat Jembatan gantung yang cantik dan kuat dipasang di Kabupaten Kolaka dan Koltim, Bupati Kolaka Utara Bpk Rusda Mahmud juga minta 2 unit untuk dipasang di Kolaka Utara.

kolaka pos

Referensi :

Sejarah masa revolusi fisik daerah Sulawesi Tenggara,Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1979

Prof.Dr.H.Anwar Hafid,M.Pd, Nilai-nilai kepahlawanan dan keperintisan Sultra

Ringkasan Sejarah KOTAMA/BALAKPUS jajaran TNI AD,Disjarah 2012

Catatan Satuan Korem 143/Haluoleo

Catatan Satuan Kodim 1412/Kolaka

Catatan sejarah Pemda Kolaka

Wawancara Dandim 1412 Kolaka Letkol Czi Cosmas MD,SE dengan para Veteran Kolaka,  tgl 17 Agustus 2015

Wawancara Dandim 1412 Kolaka dengan tokoh masyarakat saat kunjungan ke Desa Lawata,Pakue,Kolut,Juni 2015

Wawancara Dandim 1412 Kolaka dengan mantan gerombolan Kahar Muzakar di daerah Wolo, Juli 2015

Wawancara Dandim 1412 Kolaka dengan bpk M.Amin Mantan Dandim 1412 Kolaka

Wawancara Dandim 1412 Kolaka dengan bpk Andi Pangeran Mantan Bupati Kolaka

Kolaka De Fakto oleh Muh Jufri Tambora (1973)

Dokumenta Kolaka oleh CH Pingak (1960)

Japan Indonesia Banzai oleh Abu Wahid (1994)